26 MEi 2006
Hari ini aku masuk shift sore, jam 18:00 aku resmi menggantikan kerja rekan kerja yang masuk pagi, aku hanya berdua saja dengan Satpam. Sungguh tidak ada firasat apapun saat ini, tidak mengira sedikitpun jika besok pagi akan ada gempa terhebat yang pernah kurasakan. Atau mungkin kita sekarang telah meninggalkan alam, tidak berkawan dengan alam sehingga tidak peka dan tidak bisa merasakan dan membaca tanda-tanda yang ditunjukkan oleh alam dan binatang kepada kita bahwa akan terjadi gempa.

Tower 114 meter, bayangin kalau ambruk
27 Mei 2006, 05:50
Metering berbagai parameter pemancar masih nanti jam 6, tetapi sejujurnya karena saya seneng acara olah raga, dan satu-satunya acara olah raga saat itu adalah LENSA OLAHRAGA di ANTV, maka saya sengaja metering lebih awal, sehingga kira2 jam 6 kurang sedikit nanti metering selesai, dan benar saja kurang lebih jam 05:55 saya selesai metering di ruangan GENSET yang jaraknya sekitar 20 meter dari gedung pemancar, begitu saya masuk ruang kantor (yang jadi satu dengan ruang pemancar), kira-kira baru dua langkah saya merasakan keanehan, yang saya saat itu belum sadar bahwa itu adalah gempa, sudah sekitar 3 kali saya mengalami gempa di pemancar ini, tapi gempa yang kali ini saya alami bgitu cepatnya mengguncang bumi dengan kekuatan yang dasyat, yang kemudian saya lakukan begitu sadar ada gempa adalah saya langsung lompat keluar gedung kantor sambil berteriak ALLAHU AKBAR berulang kali, padahal gedung kantor lebih tinggi sekitar 50cm dari halaman kantor, tapi untunglah saya bisa loncat, yang saya rasakan saya begitu sulit berlari, tetapi masih untung saya tidak terjatuh. Satu bahaya telah berlalu, yaitu kemungkinan gedung runtuh, tetapi bahaya yang lebih besar sebenarnya telah menunggu, yaitu jika tower setinggi 114 meter patah, ambruk, pasti ngeri, begitulah saya berlari dengan perasaan pasrah dengan nasib antar hidup dan mati yang begitu nyata menghampiri saya, begitu tipisnya. Akhirnya ketika saya sampai di depan pos satpam, saya baru berhenti seiring dengan meredanya goncangan gempa. Disaat yang sama, satpam saya yang sebelum gempa berada di bebatuan depan kantor juga sampai pos satpam lebih dulu satpam saya beberapa langkah. Akhirnya kita berdua menata hati, pikiran, akal, dan nafas, baru melihat sekeliling, Masya Allah, pagar transmisi yang dibelakang kantor yang membujur dari barat ke timur hancur, habis. yang utara kantor pecah-pecah dan miring tapi tidak sampai rubuh, anehnya yang membujur ke utara selatan utuh tidak ada kerusakan yang berarti. Lalu saya beranikan diri menghampiri gedung kantor, duh ternyata motor saya juga roboh ke utara, mengenai pohon teh-tehan penghias halaman kantor. Saya lihat didalam kantor, untunglah TV tidak jatuh ke lantai karena mungkin mejanya ada roda, sehingga bisa bergerak kesana kemari.

papan nama ambruk

Balai Desa Ngoro-oro sebelah barat pemancarku
Gempa masih terus terjadi meskipun kecil-kecil, tetapi sungguh hati ini memang ciut dan takut, tapi saya beranikan juga masuk ruang pemancar, saya tahu pemancar memang sudah mati, tapi saya butuh tahu kerusakannya apa, dan ternyata pipa untuk air pendingin pemancar pecah, sehingga air pendingin/glycol tumpah kemana-mana, bahkan mengenai trafo pemancar, tiba-tiba ada gempa susulan kecil, saya lari keluar gedung lagi. Ada masalah besar, yaitu UPS yang letaknya di ujung gedung pemancar, masih hidup, bagaimanapun harus dimatikan sebelum bateraynya sampai habis, tapi saya benar-benar masih takut dan gemetar, saya coba masuk gedung, ada gempa susulan, lari lagi, begitu sampai sekitar 3 kali, sampai akhirnya saya beranikan juga nekat sampai ke ruang UPS dan mematikannya.

Rumah penduduk yang hancur semua atapnya, depan pintu gerbang pemancar
Setelah itu saya keluar gedung dan keluar dari gerbang transmisi, di luar penduduk sudah heboh dan panik, saya sempat membantu kakek-kakek untuk menuju tanah yang lapang yang jauh dari jangkauan tower, karen masih takut jika ada gempa susulan towernya rubuh.

sedikit beras untuk warga Ngoro-oro
Baru saya telepon ke Jakarta mengabarkan kondisi di jogja. Saya pakai kartu mentari saat itu, awalnya bisa, tapi lama-lama tidak bisa, jaringan indosat tumbang, mungkin karena BTSnya tidak teraliri listrik, mungkin karena banyak sekali pengguna di waktu yang sama. Akhirnya saya copot telepon kantor yang paki Fren, tapi telepon ini harus dicolok ke listrik terus, tapi untunglah dengan Fren bisa menghubungi jakarta, dan saya bisa melaporkan semua kejadian gempa dan pemancar yang rusak ke kantor jakarta.

Suasana POSKO GEMPA di Kalurahan Ngoro-Oro, Patuk, GunungKidul
Biasanya saya memakai HP Siemens C75, tapi entah kenapa tanggal 26 mei 2006 itu saya gantian pakai Siemens me45, dan sialnya lagi saya lupa bawa chargernya, maka pagi hari itu hp saya sudah low battery, dan hanya bisa menghubungi istri beberapa kali, saat itu istri panik karena ada isyu tsunami yang akan segera sampai ke desa kami, saya panik juga, tapi saya kok kurang yakin, karena di daerah SEDAYU bantul, itu ada pegunungan yang tinggi, harusnya tsunami sudah terhalang pegunungan tersebut jika memang terjadi. Saya akhirnya pasrah saja. Dan kembali mengurusi kantor, waduh saya tidak bisa potret2 karena pakai Siemens ME45.
Makin siang makin heboh, makin banyak diketahui bahwa gempa ini dahsyat sekali, wilayah bantul yang paling terkena dampaknya, sudah seribuan dilaporkan meninggal sampai siang ini. Teman-teman saya yang tinggal di perumahan piyungan pada naik dengan keluarganya dengan tergesa-gesa, mereka benar2 kawatir isyu tsunami yang segera menggulung rumah mereka, saya pasrah saja, dan saya yang harusnya pulang jam 08:30 jadi baru bisa pulang mendekati jam 12 siang.

batu besar yang jatuh ke tengah jalan karena gempa
Saya pulang lewat jalan tembut yang melewati dusun PETIR tembus perempatan MUNGGUR, ini jalan kecil tapi sudah dikeraskan dengan cor semen, sepanjang jalan saya liat rumah-rumah rata dengan tanah, dipekuburan orang-orang sudah menggali tanah, saya dengar korbannya sudah ada sekitar 6 orang, sampai akhirnya saya sampai di jalanan turun agak tajam, karena masih tengak-tengok kiri kanan maka saya terpeleset dengan honda saya, dan teman sekantor yang saya bonceng, untunglah tidak luka parah dan motor tidak rusak. Akhirnya saya sampai ke perumahan teman saya, hampir 90% rata, hancur, hanya rumah teman saya yang bisa dibilang utuh, itu karena saat membangun, teman saya terlibat aktif dan kadang memberikan tambahan semen agar campuran kuat. Dan terbukti perumahan teman saya ini lumayan utuh dibanding yang lain.

Bukit batu yang longsong, persis dibawah tower TransTV Jogja

Bukit longsong juga
Saya pulang lewat pasar piyungan, disana bangunan pasar tidak begitu rusak, yang hancur adalah rumah-rumah toko disepanjang jalan wonosari, sungguh pemandangan yang memilukan. Akhirnya saya sampai juga di rumah, semua alhamdulillah selamat bahkan tanpa terluka, mengingat genting di rumah pada hancur dan jatuh kebawah.

puing-puing pagar kantorku
Ya Allah ampuni hambamu ini, sampai Engkau peringatkan dengan gempa sedahsyat itu.










Waduh mas..ngiyis bener kalau inget waktu itu, meskipun saya lagi di bekasi tepatnya, dan cuma dapet telfon dari jogja kalau ada gempa.Pas banget dpt telfon jam.06:00.
Saya kira gempa biasa, karena waktu itu lagi sering-seringnya gempa. Oalah…ternyata, gempanya ga ketulungan. Langsung kontek orang jogja semua saya mas, mulai dari sodara,temen yg pastine ndoro putri.
memang betul pada mulanya gampang di telfon, lama-lama kok ya jaringan sibuk.
Di Tv sudah ada beritanya, pingin ke jogja kok apa daya tdk bisa, kewajiban bekerja waktu itu dan aku juga habis dari jogja waktu itu. .Akhirnya temenku yg berangkat ke jogja, cuma dapet kabar di tengah jalan ada batu besar, seperti batu diatas, akhirnya rame-rame disingkirkan.
Ini yg ga kepikiran juga, tembok ruang pemancar RCTI,TPI,GTV bolong sekitar kurang dari 1meter..kok ya bisa sampai bolong, tapi temboknya ga ambruk.
Temen operator juga ada yang sampai lompat dari lantai paling atas (lt.2) lompat ke lt.1 tepatnya di atap yg terbuat dari seng! terus lompat lagi ke tanah tetangga.
Sedulur yang di sentolo juga lain lagi ceritanya, sampai tdk bisa jalan cuma bisa pegangan pohon pisang, katanya cuma bisa lihat tanah yg seperti di lempar-lempar keatas…
Jogja! kota yang paling di idam-idamkan selain kota gombong kelahiranku, akhirnya selang beberapa minggu bisa ke jogja, nengokin temen-temen di sana..terus main ke patuk..lah kok podo roto karo tanah omah-omah..tambah ngiyis!! meskipun sudah selang beberapa minggu dari kejadian gempa, tapi situasinya masih terasa banget.
salam
yang operator lompat itu saya juga langsung dengar, yang mana yang orangnya?
tower ada yang rusak gak?
sekali digoyang [gempa], bangkit berkali-kali….
bangkit! semangatnyaa…
saya termasuk korban dan saksi hidup, gempa selama sekitar 1 menit merubah segalanya dalam sekejap. atas lindungan dan kuasa Nya kami sekeluarga diberi kesempatan untuk lebih bersyukur atas segala nikmat Nya.
alhamdulillah sy masih diberi umur panjang
pas kae aku lagi wae rampung makani pitik 400ekor lagh kandangku goyang dombret, mungkin karena bangunane seko pring kabeh dadi alhamdulillah ra ambruk