Pulsar 180 UG4 tinggi banget?

Motor Bajaj Pulsar 180 UG4 memang tinggi, sama dengan Pulsar 200, karena memang keduanya sama rangka dan bodynya, cuma beda di mesin dan Shock depan saja, lebih besar punya UG4, yaitu milik Pulsar 220 yang telah keluar di India sana, tapi belum di Indonesia.

naik motor harus belajar nari balet dulu xi xi xi

harus jinjit kan

Jika kaki kiri napak, giliran kaki kanan yang congklang

Saya sendiri yang tingginya 175 centimeter saja masih pas-pasan saat nyemplak pulsar UG4. Tinggi dan gagah mungkin bisa menjadi suatu kelebihan, tapi sepertinya lebih menjadi suatu kekurangan, kenapa? karena dari beberapa kali pengalaman teman-teman saya test ride pulsar UG4 saya, mereka yang kebetulan tidak setinggi saya, pada mengeluh tentang hal ini, dimana kaki tidak bisa menapak, harus jinjit. Tentu saja hal ini akan berbahaya jika misal pas berhenti kebetulan dapat jalan yang berlobang, bisa ambruk dah.

Kemarin saat kopdar para komengtator indomotoblog di mBantul, bro Mig dan bro Suranto saya tawari untuk test drive pulsar UG4 saya, dan kontan ditanggapi antusias oleh brader berdua. Tempat test drive ada di komplek SPBU Jogokaryan, jalan Parangtritis. Ini dilakukan sembari menunggu bro supraxx dkk dari solo.

sebenarnya kalau sudah naik, oke juga ya, tapi hati was-was saat berhenti harus mikir untuk jinjit.

Bro Andhi Suranto in action

Bro Widyo oke juga ya.

Mungkin sebagai alternatif yang amat bagus adalah Pulsar 134 LS, yang saya yakin tidak setinggi UG4, meskipun saya belum pernah mencobanya, tapi setidaknya Pulsar 135 LS ini kan memakai rangka punya XCD, jadi dijamin lebih bersahabat bagi yang tidak setinggi saya.

yang ingin baca-baca Pulsar 135 LS bisa dibaca disini

Tulisan Bro Kilau Biru tentang Pulsar saya:

Sekilas Kesan Bersama Black Coyote-nya Bro Hadiyanta

Tentang iklan-iklan ini

perjalanan pulang Surabaya-Jogja dengan BC

Sekarang giliran perjalanan pulang touring dari Surabaya balik ke Jogja. Setelah menyempatkan riding di Suramadu, lalu muter di Pulau Madura dan pulang ke Surabaya lewat kapal ferry.

Tujuan ke Surabaya yang pokok adalah menghadiri nikahan kakak saya (anaknya pakdhe), selasa sore tanggal 6 April 2010 sesampai di Surabaya, kami juga langsung ke rumah mbak saya yang mau nikah, kado dan kondangan sudah saya berikan sore itu. Rabo pagi saat nikahan malah saya terlambat, sampai di lokasi nikahan sudah usai, tinggal foto-foto saja. Piye iki……..

Suasana hajatan

khas suroboyo, pakai bumbu kluwak

Habis makan hidangan, kami langsung pamit pulang ke Jogja, kami diantar mas saya sampai ke jalan jurusan Tandes, nah dari Tandes ini kami lurus saja, kami tidak melewati jalan sebagaimana kemarin datang ke Surabaya, yang ini jalannya kayaknya lewat daerah Gresik.

jam 09:56 black coyote start dari kawasan Pasar Loak Surabaya

ambil kiri jurusan TANDES

sebagian dari pasar loak

sempat lihat megapro satu trailer di kawasan Tandes

Lewat sini

samping kiri ada pintu gerbang DARMO INDAH, aku terus saja.

Jalan macet lagi mau di COR BETON, bukan aspal.

Ada penggal jalan yang sedang diperbaiki dengan cara cor beton, bukan dengan diaspal, tebalnya cor kayaknya ada 40-50 centimeter, jadi kuat banget. Selanjutnya kami menuju jurusan CERME/BUNDER, entah daerah mana ini, saya sendiri kurang paham, tapi sepertinya masuk wilayah Gresik.

ke jurusan CERME/BUNDER

Tiba-tiba saja saya tertarik memandang ke langit, kok seperti ada asap yang aneh, setelah saya perhatikan ternyata ada roket meluncur dari arah depan, melihat asap yang besar, maka sudah lebih dari dua roket yang meluncur. Mungkin lagi percobaan, wah ngeri juga membayangkan misal roketnya tidak terkendali, pernah ada yang menghantam rumah penduduk khan beberapa waktu yang lalu.

wow ada roket meluncur

lanjut ke arah MANTUP/LAMONGAN

terus lurus ambil jurusan MOJOKERTO

kami terus lurus ambil jurusan MOJOKERTO, jalan nanti mulai naik, dan melewati perkebunan lombok, hutan jati dan lain lain, pokoknya suasana yang sepi dan segar, gak terbayang kalau malam lewat sini, gak rekomended lah.

Kebon lombok rawit di kanan kiri jalan luas banget di pegunungan

Jalanan sepiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii dan muluuuuuuuuuuuuuuuussss

Saya nemu macem-macem box di jalur ini, bisa dibaca di tulisan saya sebelum ini. Nih yang suka terong silahkan nikmati :-)

terong raksasa siap didistribusikan pake motor

Lurus ambil jurusan MOJOKERTO

Seetalah tadi melewati pegunungan dan hutan jati di kanan kiri, sekarang kami sudah memasuki jalanan datar lagi, seperti foto diatas.

JETIS mana ini ya, masih di jalur ke MOJOKERTO juga kok

lewat sini GEDEK, MOJOKERTO

jelas ambil belok kanan arah Jombang

Dusun Basusan, Terusan, Gedeg, Mojokerto

Mulai menyusuri tepian sungai Brantas

tetep ambil jurusan Jombang sepanjang kali brantas

Bendung Karet Menturus

tetep lurus menyusuri kali brantas

ambil KERTOSONO

masuk Desa Jatinlerek, Kecamatan Plandaan

Pas 600 Kilometer sudah ditempuh mongtor saya

Tidak tahu daerah mana, yang jelas belok kiri

sampai juga di KERTOSONO, pertigaan depan ambil kanan

balik ke jalan semula saat dari Jogja ke Surabaya

masuk Nganjuk

masuk Kabupaten Madiun

nyate kambing di KEBAKKRAMAT, SRAGEN

JAM 19:18 sampai rumah di jogja, menempuh 859,3 kilometer.

Akhirnya jam 19:18 saya sampai di rumah saya kembali di Jogja, total perajalanan adalah 859,3 kilometer. Alhamdulillah, tidak ada suatu halangan apapun, motor sehat, pengendara sehat dan selamat.

Turing kemana lagi ya ……………….

Konsumsi bensin Pulsar UG4 “BC” turing ke Surabaya

Enaknya pakai pulsar, bahwa odometernya ada pilihan dua TRIP yang bisa di NOL kan (lihat FOTO 4 untuk TRIP 1 dan FOTO 2 untuk TRIP 2), maka sebelum turing tanggal 6 April 2010, sehari sebelumnya yaitu tanggal 5 April 2010 saya isi bensin pertamax sampai full, lalu Trip 2 saya NOL kan (sayang sekali lupa motretnya), sehingga bisa untuk menghitung berapa panjang jalan yang sudah dilewati oleh black coyote Pulsar UG4 saya.

FOTO 1. bensin pertamax sampai full, ternyata hanya muat 11 liter

FOTO 2. Pada 5307 ini dianggap NOL, lupa motret Trip 2 yang sudah reset NOL

FOTO 3. Full sampai ke leher tangki

Cara mengendarai pulsar saya adalah biasa-biasa saja, artinya kalau jalanan macet ya pelan, kalau jalanan lancar ya menyesuaikan arus, tidak kesusu, tidak nubruk-nubruk, sesuai dengan keadaan yang ada saja.

FOTO 4. Trip 1 dari rumah saya NOL kan

FOTO 5. Rumahku sampai Srandakan sudah makan jalan 27,5 KM

FOTO 6. Sampai tujuan di Jalan Jepara Surabaya. 402,2 Km

FOTO 7. Sebelum isi bensin di Barat Ngawi

Dari rumah sampai Surabaya lalu balik lagi, saya baru mengisi bensin di SPBU di barat Kota Ngawi. Untuk menghitung konsumsi rata rata maka bisa dilihat dari awalnya pada FOTO 1. Saya mengisi bensin Pertamax sebanyak 11 liter, sedangkan tangki pulsar saya muat 18 liter saja saat saya mengisi pertamax, ditangki masih ada 18-11 = 7 liter Premium. Sehingga dalam tangki ada campuran 11 liter pertamax dan 7 liter Premium.

Sayang sekali saya lupa motret Trip 2 saat odometer saya NOL kan, tapi santai saja masih bisa dihitung kok, jadi dari saat saya mulai mengisi bensin seperti terlihat pada FOTO 2, kilometernya adalah 5.307 Km, selanjutnya saat saya mengisi bensin di SPBU barat kota Ngawi, odometer menunjukkan angka 5.958 Km dan Trip 2 menunjukkan 651,3 Km. Trip 2 inilah jarak yang sudah ditempuh motor saya, sejak mengisi bensin di Jogja, trus turing ke Surabaya dan Madura, lalu balik ke Jogja dengan mampir mengisi bensin di barat kota Ngawi ini. Atau bisa dibuktikan dengan menghitung 5.958 – 5.307 = 651 Km. Pas banget betul sekali, cuma selisih 300 meter dibelakang koma saja. karena memang odometer tidak ada digit dibelakang komanya.

Sehingga dapat dihitung saya sudah menempuh jarak 651,3 Km dan menghabiskan bensin sebanyak 14,43 Liter, sesuai bensin yang saya isikan di SPBU barat kota Ngawi, lihat FOTO 8 dibawah ini sebagai buktinya.

Sehingga 651,3 Km dibagi dengan 14,43 Liter = 45,135 KM/Liter.

FOTO 8. Isi bensin premium di POM barat Ngawi 14,43 liter

Ada yang lucu dan sedikit mengesalkan saat saya ngisi bensin di Ngawi, yaitu pengemudi motor di belakang saya tidak sabar menunggu saya mengsisi 14 liter bensin, mungkin dikiranya saya kulakan bensin, padahal saat itu saya beli besin tanpa jaket tanpa helem, kayak orang dekat SPBU saja, tapi pengemudi di belakang saya mungkin liat plat AB saya sehingga nggaya pake nglakson-nglakson segala, menunjukkan ketidak sabarannya, maklum dia pakai bebek yang muat 3-4 liter saja. Atau mungkin dia hanya beli 1 liter saja.

FOTO 9. Trip 2, menempuh 652,4 Km dari awal pengisian di Jogja

FOTO 10. Di SPBU Ngawi ini Trip 2 di NOL kan lagi

FOTO 11. Baru ngisi lagi tanggal 13 April 2010

Nah saya baru mengisi bensin lagi di Jogja dekat rumah saya yaitu tanggal 13 April 2010, setelah menempuh 558,4 KM dari SPBU di barat kota Ngawi. Mari kita hitung juga berapa KM/liter.

Saat saya membeli kemarin saya bayar Rp. 60.000,- bensinya presmium dengan harga Rp. 4.500,- perliter. Jadi saya isi 13,3 liter sampai full ke leher tangki juga.

Jadi 558,4 KM dibagi 13,3 Liter = 41,88 KM/Liter.

lho kok beda ya? mungkin pengaruh bensin Pertamax bisa menambah sekitar 4 KM/liternya saat saya touring ke Surabaya, sedangkan saat saya mengisinya di SPBU barat kota Ngawi, saya mengisi dengan Premium sebanyak 14,43 liter, jadi anggap saja semua bensin Pertamaxnya sudah terpakai, sehingga dari Ngawi sampai saya mengisi lagi tanggal 13 April 2010 adalah bensin Premium yang ada di tangki saya. Kemungkinan pemakaian di Jogja yang stop anda GO menyebabkan lebih boros juga.

Tapi kalau disuruh memilih, saya milih beli Premium yang Rp. 4.500,- dari pada beli Pertamax yang Rp. 7.250 duh mak harga hampir lipat dua, tapi hanya nambah 4 kilometer saja per liter pertamax. ampun dah. Padahal saya tidak bisa membedakan enaknya pakai pertamax dibanding pakai premium.

Demikian sekelumit pengalaman konsumsi bensin saat saya turing memakai pulsar UG4 “black coyote” milik saya. Semoga berguna. Yang belum tahu Pulsar UG4 ini adalah Bajaj Pulsar  180 CC dengan tenaga sekitar 17 DK.

Pulsar UG4 "black Coyote" 180 CC


koleksi box antik sepanjang touring Jogja Surabaya Jogja

Saya menikmati betul setiap moment di jalan saat turing dengan Pulsar UG4 Black Coyote saya, dari Jogja-Surabaya-Madura-Surabaya-Jogja kemarin tanggl 6 April 2010. Mumpung pas jadi boncenger, maka saya jeprat jepret apapun yang menarik hati saya untuk saya abadikan. dan berikut ini ada lumayan banyak box multi fungsi yang bisa saya abadikan selama perjalanan. Selamat menikmati.

di jepret di kawasan Sragen. bener-bener box : kotak.

ngawi

masih di sekitar hutan di Ngawi

box saya sendiri di jepret di tanah Madura selepas Suramadu.

Untuk pembanding, Kappa 42 diatas, ini saya dapat saat kopdar KOBOI. No Comment.

Kalau tidak salah di CERME - GRESIK platnya W

hebat ya. entah ini di daerah mana, yang jelas di pegunungan.

ini memang terong ya?

ngangkut apaan ya?

sate tool

di jalur tanggul kali Brantas. Ini box apaan ya?

masih plas S, di sekitar kali brantas. kayaknya setype yang diatas.

box bertingkat masih plat S juga

kok serem ya, bawa apa tuh???. ini di daerah plat AG kayaknya.

penutup. dilarang mengeluarkan anggota badan dari dalam box.

Black Coyote dan saya pertamax ke Pulau Madura

Belum lengkap rasanya sudah sampai Surabaya kalau tidak merasakan sensasi melewati Jembatan Suramadu untuk nyeberang ke Pulau Madura. Dan itulah yang saya lakukan pada rabo pagi 7 April 2010, berhubung acara akad nikah jam 9 pagi, maka jam 6 pagi kami berempat dengan 2 motor sudah cabut dari wilayah Tandes menuju ke Suramadu.

menjelang sampai Suramadu

bayar tiket masuk dulu

Ini adalah pengalaman pertama saya melewati Suramadu, jadi pertama pula saya menginjakkan kaki ke Pulau Madura.

Masuk ke pintu Suramadu, lebih dulu bayar tiket masuk untuk motor Rp. 3ribu. Karena masih pagi benar, jadi yang nyeberang tidak begitu rame, atau memang kondisi biasanya seperti itu, saya kurang tahu, karena belum pernah nyebrang di jam sibuk. Saya benar-benar menikmati nyebrang Suramadu ini, saya jeprat-jepret sana-sini, saya jalankan “black coyote” pelan-pelan saja sehingga selalu disalip oleh motor yang nyebrang belakangan. Menyaksikan tower yang tinggi menjulang untuk narik kabel, membayangkan bagaimana dulu membuatnya, sungguh memberikan rasa salut saya pada kehebatan pemikiran para perancang dan pembuatnya. Cuaca yang cerah pagi itu membuat saya leluasa memandang ke kiri dan kanan jembatan sampai jauh, tapi heran saya kok pelabuhan Tanjung Perak tidak kelihatan ya? dan pertanyaan saya ini baru terjawab setelah tahu bahwa Pelabuhan Tanjung Perak ada di barat, jauh dari jembatan.

sponsor : TMC dan helem putih mesti pada tahu namanya

Taat rambu-rambu

pelan-pelan sajalah

megah

Heran menaranya kok tidak di cat ya?

menapak di tanah Madura

me & black coyote in madura island

Pakde Karwo dan Gus Ipul

Masuk ke tanah Madura, kami berhenti di ujung jembatan diantara loket karcir di bagian Madura, kami berhenti di sana untuk foto-foto dan memandang lagi secara lebih lama jembatan Suramadu di sebelah selatan kami. Setelah beberapa saat, kakak saya mengajak untuk balik ke Surabaya via fery, kontan saja saya sanggupi, karena sungguh pengalaman luar biasa bisa ke madura lewat suramadu, dan balik ke jawa lewat fery.

Tiket naik ferry untuk Black Coyote

Tiket untuk saya nyebrang pake ferry

Mulailah kami riding ke pelabuhan penyeberangan di Madura, yaitu KAMAL. Duh ternyata dari ujung jembatan ke utara ke pedalaman pulau Madura jauh banget, kiri kanan adalah tanah persawahan dan kadang  tanah kosong, tiada satu rumahpun, bener-bener heran saya dibuatnya. Segini luas pulau madura, tapi banyak penduduknya yang hijrah ke Jawa.

kiri kanan jalan adalah persawahan dan padang rumput

masih jauh ke KAMAL

Pelabuhan Kamal didepan mata, fery sudah siap berangkat.

Setelah melewati jalanan sepi yang panjang dan lama, kami belok kiri, dari sini mulai terlihat rumah-rumah penduduk, lalu belok ke selatan lagi menuju KAMAL. Lucunya satu-satunya saya papasan pengendara Pulsar selama touring Jogja-Surabaya-Madura-Surabaya-Jogja ya di pulau Madura ini, yaitu menjelang sampai pelabuhan KAMAL, mungkin ridernya dari Surabaya yang menyeberang via ferry, saya sendiri tidak melihat plat nomernya.

Di lambung fery, me & BC dan stiker KOBOI sampai ke Madura juga :-))

goodbye Madura

Pemandangan arah Tanjung Perak

Tanjung Perak di kejauhan

Akhirnya sampai juga kami di pelabuhan KAMAL, sempat salah masuk pintu yang tidak ada loketnya, sehingga harus balik lagi menuju pintu loket pembayaran. Saat keluar dari pintu, kapal sudah teriak-teriak terompetnya mau berangkat, saya langsung naik kapal fery, sempat kuatir jika kapal tidak stabil bagaimana nasib sepeda motor saya nantinya, saya lalu melihat bahwa sepeda motor hampir semuanya di standar tengah, maka pulsar saya juga langsung saya standar tengah. Sebentar kemudian pintu kapal fery diangkat, dan kapalpun meninggalkan Pulau Madura.

fery membelah perairan yang tenang

Sepanjang fery berlayar (mana layarnya) saya tidak mau melewatkan kesempatan langka ini, saya langsung menuju tepian fery untuk foto-foto, lalu naik ke lantai atas yang bisa memandang ke arah pelabuhan Tanjung Perak. Sebuah pemandangan yang asing bagi saya, banyak kapal-kapal besar sedang parkir, dan saya melihat bangunan-bangunan khas pelabuhan peti kemas di kejauhan selatan sana.

menjelang sampai Tanjung Perak

Hasilnya riding di Madura, tanah disini kebanyakan mengandung kapur

jam 08:42 Waktu Surabaya, sudah sampai di Jalan Jepara.

Untungnya perairan amat tenang, sehingga kapal fery sama sekali tidak mengalami kendala sama sekali, kondisi perjalanan lancar dan akhirnya sampai juga di Tanjung Perak. Kami lalu menuju ke rumah pakde saya di Jalan Jepara yang saya baru tahu ternyata amat dekat dengan Tanjung Perak. Selanjutnya kami menuju ke pernikahan kakak saya di dekat kawasan Pasar Loak. Dan jam 10 wib akhirnya saya cabut, pulang menuju Jogja.

Perjalanan Jogja – Surabaya dengan Black Coyote

Bismillah. Selasa 6 April 2010, saya berangkat juga ke Surabaya dengan kakak saya naik Bajaj Pulsar UG4 “black coyote” milik saya. Senin sore tangki bensin sudah saya isi full dengan bensin pertamax dan muat 14,5 liter dari kapasitas tangki yang 18 liter, jadi bensin premium yang ada di tangki adalah 3,5 liter. Saya isi full karena sekalian ingin saya hitung berapa rata-rata konsumsi bensin motor saya. Konsumsi bensin akan saya tulis tersendiri dalam postingan yang lain.

Start from SRANDAKAN-BANTUL-JOGJA

Perjalanan saya mulai dari rumah saya, di Sleman, Jogja barat, lalu menuju ke rumah kakak saya di Srandakan Bantul, dan dari rumah saya ke Srandakan ini sudah memakan sekitar 30 KM.

Masuk KLATEN, terlihat langit yang cerah :-)

Selanjutnya dari Srandakan jam menunjukkan pukul 07:45, saya berangkat ke Surabaya. Kakak saya yang di depan, sedang saya menjadi boncenger. Kami melewati jalan Bantul-Brosot, lewat masjid Agung Bantul lalu masuk ke jalan Bantul-Samas, lalu belok kanan masuk ke Jalan Parangtritis, terus masuk ke Ringroad Selatan lalu Ringroad timur, naik ke jembatan layang Janti, selanjutnya masuk ke jalan SOLO.

Surabaya masih 284 KM lagi :-(

masuk wilayah KarangAnyar

ini daerah mana ya? maaf lupa. kayaknya masih Karanganyar.

lanjooooooooooooottt

sampai di MASARAN - SRAGEN

lanjuuutttt

Agak bingung saat saya masuk ke kota Surakarta untuk mencari jalan ke arah Sragen, kenapa bingung? karena petunjuk arahnya kurang lengkap, harusnya di tiap pertigaan atau perempatan selalu ada petunjuk ke arah Surabaya atau minimal Sragen, tapi hal itu kadang tidak ada, sehingga saya harus nanya-nanya ke sesama biker lokal saat berhenti di lampu bangjo. Pernah salah belok sekali, tapi untungnya tadi orang yang saya tanyai memberikan peringatan untuk balik lagi. Dan akhirnya sampai juga ke jalan besar menuju Sragen, dari sini sudah tidak ada masalah lagi, karena jalannya cuma satu saja dan tambah yakin ketika papasan atau disalip bus jurusan surabaya seperti EKA, RESTU, AKAS dll.

10:44 wib, sampai di SRAGEN

Pasar Sukowati-Sragen

lanjut

lanjut terus

Selamat Jalan Sragen

Kecepatan rata-rata motor adalah 50-70 kpj tergantung situasi jalanan. Untuk diketahui, kakak saya biasanya pakai motor bebek, dulu sekali pernah pakai motor vespa yang ada koplingnya, jadi saat memakai pulsar saya lebih banyak kagoknya, terutama untuk menetralkan gigi pulsar yang terkenal sulit bagi yang belum biasa. Saya sendiri saja, baru setelah dua bulan memakai pulsar, baru terasa menyatu dengan pulsar saya, jadi saya maklum saja pada kakak saya yang kadang kagok, kadang mogok, kadang rpm masih rendah dibawah 4000, tapi sudah masuk ke gigi atasnya dll. Untungnya pulsar didesain untuk tidak macet pada gigi tinggi walaupun jalannya pelan.

next trip : NGAWI

JAWA TIMUR aku datang.............

Gontor

hutan di kiri kanan daerah sebelum kota ngawi

UGM juga punya hutan disini ya????

Terminal Ngawi, lurus terus ke Timur arah Caruban/Surabaya.

Pusat Kota Ngawi

Selamat tinggal Ngawi

lanjut yukk

kami datang Madiun

Mulai asyik ketika memasuki wilayah Jawa Timur yaitu di daerah Ngawi, karena sudah banyak hutan di kanan kiri, suasana juga menjadi sedikit sejuk dan adem. Sebelum touring saya sempat diberi tahu bahwa dari Ngawi harus ambil jalan yang ke Caruban, karena inilah by-pass yang mengurangi jarak luamayan banyak. Tapi setelah sampai Ngawi saya sendiri tidak yakin yang mana jalannya, saya ikuti ke timur terus saja jalan yang utama dan besar, rupanya setelah saya perjalanan pulang dari Surabaya ke Jogja, baru saya sadar bahwa memang jalan yang saya ambil ini memang jalan yang sesuai arahan teman saya tersebut.

Berhenti pertama kali untuk makan siang

Rumah Sakit Umum Panti Waluyo Caruban Madiun

Kami akhirnya istirahat makan jam 12:50 di satu satunya rumah makan padang yang kami temukan disepanjang jalan, yaitu di Jalan  Ahmad Yani, depan RSU Panti Waluyo-Caruban-Madiun, entah kenapa rasa-rasanya jarang sekali ada rumah makan padang di wilayah jawa Timur, apa memang selera orang Jawa Timur tidak cocok dengan masakan padang ya?

istirahat sholat luhur, eh ketemu plat AB di POM bensin Caruban

Kami berhenti di POM BENSIN timur RSU Panti Waluyo-Caruban untuk sholat lohor, disana ketemu rider plat AB pakai MIO, beliau dari Surabaya, sedang saya mau ke Surabaya. Sempat kenalan dan ngobrol sebentar.

Ada yang lucu saat saya berhenti di POM bensin ini, yaitu para pegawai pom pada heran dengan motor saya, mayoritas menganggapnya sebagai HONDA TIGER, ha ha ha. Lalu dengan pedenya saya jelasin bahwa ini adalah motor Bajaj dari india, businya dua, bensinya irit banget. Entah mereka paham atau enggak. Mungkin kalau saya bilangin ini motor mahal berharga 40 juta, mereka akan percaya saja. ha ha ha.

Di POM bensin ini gantian saya yang jadi rider sampai Surabaya, dan kakak saya jadi boncenger. Nah saya jadi tidak bisa motret-motret lagi, tapi besok saat pulang ke Jogja biar kakak saya yang jadi rider dulu, biar antara Surabaya sampai minimal Caruban, saya bisa gantian untuk motret.

Sampai juga di Jalan Jepara Surabaya, jurusan Tanjung Perak.

Untuk kondisi jalanan memang rata-rata bagus, jarang ada yang berlubang, hanya kadang ada yang bergelombang, jadi kelihatannya mulus tapi bergelombang. Hanya sekali saya kena lubang, itu saja karena saya ambil nyalip dari kiri saat macet bis dan truk, dan dapat pinggiran yang berlubang, lumayan plat nomer depan sampai mentok kena splatbord depan. Sempat juga kehujanan selepas Nganjuk, tapi hanya beberapa saat, setelah itu sampai Surabaya cuaca terang.

Alhamdulillah, akhirnya sampai Surabaya jam 16:45, total perjalanan plus istirahat adalah 9 jam.

membuat TANKBAG sendiri, solusi murah meriah touring Pulsar

Motor Black Coyote Pulsar UG4 saya memang sudah saya beri tambahan topbox Kappa 42 di buritan, tapi belum untuk side box karena dana masih belum ada. Jadi saat kemarin turing ke Surabaya untuk menghadiri hajatan nikahan kakak saya, terpaksa puter otak untuk menambah kapasitas bagasi, karena bok kappa 42 sudah penuh dengan muatan dan kado, sempat terpikir untuk membeli tankbag, tapi mundur teratur berhubung dana cekak, padahal harganya kisaran Rp. 300.000,-

Black Coyote dengan TANKBAG bikinan sendiri

Tapi inilah uniknya orang kepepet, sehingga pikir punya pikir saya manfaatkan saja tas gendong saya (backpacker) untuk saya jadikan tankbag. Pada prinsipnya tankbag kan tas yang ditaruh di atas tangki bensin dan ditempel kuat dengan magnet, ok berpikir seperti itu lantas saya taruh juga tas punggung saya diatas tangki, agar tas bisa melekat erat, maka tali pada bawah tas punggung yang biasanya dilingkarkan ke perut, ini saya saya lingkarkan pada tangki, melewati bawah tangki belakang dekat kran bensin, jadi seoleh olah tangki bensin sekarang menjadi punggung orang. Iya jangan lupa sebelumnya tangki saya beri lapisan kaos hitam sesuai warna tangki biar tidak kelihatan mencolok, fungsi kaos ini untuk memberi lapisan empuk agar tangki terhindar dari baret-baret akibat gesekan dengan body tas punggung bagian belakang yang menempel di tangki. Posisi kaos seperti gambar dibawah ini, yaitu lengan ada dibawah, fungsinya agar tali-tali pada tas juga terlapisi lengan kaos.

biar empuk, tangki diberi alas dari kaos

Selanjutnya kalau tas punggung biasanya talinya kita gendong di pundak kiri dan kanan, maka pada tangki bensin, tali kiri kanan ini saya lingkarkan pada tangkin bagian depan, melewati SRHOUD, lalu diikat dengan tali rafia pada rangka motor bagian depan di dekat tempat saya nyekrup engine guard, pastikan tali tas tidak mengganggu pergerakan sudut belok motor, caranya dicoba dulu untuk belak-belok.

Tali yang biasa melingkar diperut kita, kini melingkari tangki

Akhirnya sekarang tas sudah terpasang, dan tali pada tas bisa dikencangkan dengan menarik talinya, seperti biasa kalau kita membawa tas punggung bisa diatur panjang pendeknya tali, nah itu yang kita atur, tinggal ditarik sampai kencang.

Tali punggung dilingkarkan ke depan lalu ditali rafia ke body motor

bisa ditarik agar kencang

Dan hasilnya tas punggung saya benar-benar bisa menjadi tankbag yang handal, tidak goyang, dan fungsional, saya bisa membawa barang-barang lainnya, tapi memang saya pilih yang ringan-ringan saja, yaitu baju-baju ganti saya pada saat berangkat ke Surabaya, saat pulang memang agak berat, karena diberi kue-kue oleh mbokdhe saya, ah untung bisa pasang tankbag. Minimal saya bisa menaruh minuman dan roti kering, jadi saat berhenti di lampu bangjo, bisa minum dan makan roti untuk menjaga stamina :-)

Jadi kesimpulannya, anda tidak begitu perlu beli tankbag jika memang kondisi keuangan belum memungkinkan, manfaatkan saja tas punggung anda untuk disulap jadi tankbag. selamat mencoba :-)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.566 pengikut lainnya.