Lebaran idul fitri walaupun mungkin telah 30-an kali saya merayakannya, namun tetap dan tetap terasa istimewa, bedanya dulu saat usia 7 tahunan saya yang merengek-rengek minta dibelikan baju baru, tapi sekarang gantian anak-anak saya yang minta dibelikan baju baru. Apakah hanya sebatas baju baru itu memori tentang lebaran, oh tentu tidak.
Kemeriahan lebaran dimulai pada malam takbiran, karena bagi anak-anak kecil seperti kami dulu, bisa ikut takbiran keliling adalah sebuah pengalaman yang kaya akan nuansa religi, nuansa kebersamaan, nuansa kemeriahan tetapi masih dalam batas-batas wajar, sehingga jiwa dan hati kami sebagai anak-anak terisi akan semua hal tersebut.
Yang agak berat adalah urusan bangun pagi untuk sholat ied, ini karena malamnya kami harus jalan kaki yang untuk takbiran keliling yang kadang lumayan jauh rutenya, sehingga kaki dan badan menjadi pegal dan lelah, tapi betapapun moment sholat ide adalah moment lebaran yang tidak bisa ditinggalkan.
Dulu disaat saya masih anak-anak, lebaran begitu terasa istimewa, kami membentuk rombongan-rombongan kecil berjumlah kurang lebih 7-10 anak untuk keliling kampung dari rumah ke rumah hilir mudik kesana kemari sehingga suasana menjadi meriah. Bahkan sampai malam kisaran jam 21-22 kami masih keliling silaturahmi rumah ke rumah.
Entah mulai tahun kapan, bahwa di masjid kami diadakan salam-salaman syawalan untuk semua jamaah masjid, memang dibedakan antara yang muda dan yang tua. Yang tua berkumpul dahulu sekitar jam 08:30, kategori tua adalah mereka yang sudah menikah. Asa acara pengajian sebentar, lalu masuk keacara ini salam-salaman saling memaafkan, biasanya kaum hawa pada menangis haru.
Setelah acara salam-salaman selesai, maka acara otomatis bubar, kami para orang tua kembali ke rumah, menunggu kalangan anak-anak dan para pemuda berkunjung ke rumah.
Untuk anak-anak dan pemuda juga dikumpulkan di masjid dulu, untuk saling syawalan dan salam-salaman dulu, lalu mereka dipecah menjadi beberapa kelompok untuk nantinya keliling dari rumah kerumah, tapi yang saya lihat akhir akhir ini mereka kalau siang tidak begitu aktif, biasanya mereka mulai keliling selapas magrib sampai kisaran jam 21.
Memang semenjak ada syalawan bersama di masjid, memang lebaran terasa lebih sepi, tapi tidak maslah, yang penting semua bisa saling ketemu dan memaafkan, jaman memang dituntut serba cepat dan instant, begitu pula dalam bersyawalan.
Saya sendiri agenda utama adalah minta maaf pada kedua orang tua, kepada mertua, kepada pakdhe dan bulik dari pihak saya dan pihak istri. Tidak lupa kepada kepala kantor saya juga. Meskipun liburan lebaran bagi saya pekerja tv tidaklah seleluasa para pekerja di sektor lain, tapi saya usahakan waktu luang saya termanfaatkan secara maksimal.
Selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin.
Filed under: Relijius | 11 Komentar »





















































































