Sore jam 17:35, tanggal 16 Januari 2011, tepat sehari setelah tower ADiTV tumbang, saya sempatkan mampir untuk melihat-lihat. Kebetulan saya bertemu dengan penduduk yang rumahnya dekat dengan tower yang saya kenal, dan tidak lupa saya tanya ini itu seputar kronologis dan kondisi tower.
Dari data yang saya punya, ternyata towernya setinggi 72 meter, dengan bentuk empat pilar terbuat dari besi L, dari bawah sampai atas sepertinya sama bentuknya, artinya tidak berbentuk besar dari bawah, lalu mengecil sampai diatas, sebagai perbandingan untuk tower yang saya tahu tingginya 100meter, pondasi dibawah ukurannya adalah 11 x 11 meter, dan sampai di ketinggian 100 meter diatas, ukurannya menyempit menjadi sekitar 1 x 1 meter, inipun di bawah sudah ditanam pondasi dengan berat berton-ton yang saya sendiri tidak tahu detilnya, yang jelas fungsi pondasi dibawah adalah untuk pemberat dan penyeimbang agar tower kokoh berdiri, tahan terhadap gempa dan angin dalam batas tertentu yang disyaratkan.
Ukuran tower adalah kotak 50 cm persegi dari bawah sampai atas. Sebagai penguat, ditarik empat arah dengan kabel-kabel baja yang berujung pada empat pilar beton yang ada pengaitnya. Dari bincang-bincang dengan penduduk tadi, saya mendapat masukan bahwa pegangan besi di dudukan pilar pernah rusak, dan hanya di las, ini juga saya lihat sendiri yang ada disisi utara sebelah barat, heran kenapa bukan dibuat dari besi tahan karat ya? Juga kabel penariknya tidak seimbang kekencanganya pada semua sisinya.
Panel antena yang berbentuk kotak persegi panjang, kurang lebih ukurannya (1000 x 500 x 190 mm) panjang 100 cm, lebar 50 cm, dan tebalnya19 cm seperti terlihat di foto paling atas, itu adalah cover antena warna putih berbahan seperti fiberglass. Berat untuk satu panel antena adalah 12 Kg, dan di ADiTV ada 16 panel antena, maka ada beban 192 kg diatas tower. Data panel antena bisa dibaca disini http://www.kathrein-scala.com/catalog/K72314%20series.pdf
Jadi dengan tinggi antena yang 72 meter yang tidak lazim kontruksinya untuk dipakai sebagai tower tv, dengan beban diatas yang kurang lebih 192 Kg, dengan penguat melalui tarikan tali-tali baja yang sepertinya kurang sempurnya kekencangannya, sehingga perkiraan saya, saat ada angin kencang disertai hujan membuat tower terayun-ayun dan akhirnya tidak kuat, lalu patah dan tumbang. Sebuah investasi yang dari awal saya lihat memang agak sia-sia, mengingat hanya dengan power pemancar yang 5KW dan ketinggian antena 72 meter, sungguh di rumah saya letaknya di sleman paling selatan, kualitas audio dan video ADiTV memang memprihatinkan. Dan memang tidak ada TV lokal yang videonya atau kualitas gambarnya bagus sampai di rumah saya.
Kerugian yang paling besar akibat tumbangnya tower ini adalah masjid yang kayu-kayunya patah, serta gentingnya rontok, juga eternit di dalam saya lihat juga rusak berlubang, belum lagi kerugian rohani akibat dari tidak bisa dipakainya masjid ini. Sedangkan bagian antena yang mengenai DAK COR GEDUNG TK saya lihat tidak nampak kerusakan, tapi tidak tahu kalau dilihat dari dalam gedung, mungkin ada kerusakan juga. Pastinya penduduk sekitar tower sudah tidak mau lagi jika didirikan lagi tower dengan kontruksi seperti itu, padahal kalau dibangun tower yang standar TV, saya lihat tanahnya kurang lapang.
Langkah paling cepat dan tepat adalah bergabung dengan tv lain yang tower dan gedungnya boleh disewa, jadi tinggal instalasi pemancar lama di gedung baru, lalu membeli panel antena dan feedernya (kabel dari pemancar ke antena). Apalagi mengingat besok saat implementasi PEMANCAR TV DIGITAL, mau tidak mau harus saling bergabung dengan maksimal 6 pemancar menjadi satu, cukup memakai satu mesin pemancar, satu tower dan satu antena.
Sepertinya pemancar TV adalah bagian sepele dari sebuah bisnis pertelevisian, tetapi orang baru sadar bahwa tanpa pemancar yang sehat dan hidup, maka sia-sisa saja semua produksi siaran, mungkin satu dua orang bisa menonton via internet streaming atau satelit, tapi tetap saat ini lebih nyaman melihat tv dari pemancar, murah meriah gratis.

Cover panel antena

Cover panel antena

Tampak dekat kontruksi antena dan sambungannya

Roboh keutara, kena masjid, lalu belok ke timur kena DAK COR

Ujung antena jatuh di sebelah Timur Gedung TK depan Masjid

bagian antena yang diatas DAK COR GEDUNG TK

Panel-panel antena copot dari dudukannya

berkarat, harusnya dari bahan galvanis

Tampak tower paling bawah masih berdiri utuh

Beton pilar untuk penahan tali tali baja penguat tower

saya foto dari selatan masjid, menghadap selatan

melawati teras masjid ke DAK COR GEDUNG TK

Tampak tower BTS Telkomsel, dan yang jauh tower tvOne

Eternit didalam masjid dekat mustoko, jebol

Tampak BTS XL diselatan masjid
Okw
Filed under: Bisnis, Televisi Ditandai: | aditv, ADTV, pemacar ADiTV, Pemancar ADTV, pemancar roboh, pemancar tumbang





pertamakk
lumayan besi bekas towernya bisa di kiloin
sepertinya memang asal.
iyo, bahane besi siku yg biasa buat rak-rakan barang di gudang, ngawur ini… Emang ga ada uji kelayakan sebelumnya Pak Hady, jd curiga ada ganjel duitnya…
Kalo TV1 pcaya, prof lah
daya pancar cuma 5kw tapi bisa menjangkau kartasura dengan lumayan jernih, sebanding dengan jogja tv, cukup bagus untuk sebuah tv lokal.. sedang TVone merupakan pemancar paling banyak semutnya di antara tv nasional, paling jernih trans7 dan trans tv..
mas, saya nggak tanya towernya
duriannya banyak gak disitu?
Lha sebelaj tower rubuh itu durene mawoh akeh
ampunn kok bisa kaya gitu..
untung towerku neng ngomah aman2 wae … udah dari tahun 90 mas dab sampai 2011 ini wakakakakka
30 meter, kemaren kena gempa 2006 aja masih sehat alhamdulillah…
cuman dicat ulang perawatanya anti karat , sama kabel2 penguat di dobeli ulang.
dijual tanah 100 dari keselatan……
maksudnya 100m keselatan……….
kayanya matrial konstuksinya ngga standar
kontruksi tower ngawur… asal2an, pakai ilmu kira kira aja. alhamdulillah tower komunikasiku masih tegak berdiri walau telah 4 th.
ADi TV udh mengudara lagi tuh, kok cepet bangett mbangun towernya ya??
antena dipasang di sisa tower yang masih berdiri, seperti foto nomor 11 dari atas
[...] sehingga harus dipindah ke sleman. Jadi tower pemancarnya berbentuk hampir mirip seperti tower ADiTV yang tumbang kemarin. Wah menurut saya ya kurang safe juga nih tower RBTV, padahal disekitarnya juga banyak [...]
wah berita yg bagus sekaligus kurang bagus mas..
pasalnya naiknya tower RBTV di patuk kok bareng dg ujicoba TV lokal yg ada di solo di ch.40
jd ntar warga solo n sekitar bakalan g mendapat gambar yg maksimal
Chanel 40 milik RBTV utk jogja solo. Jd tv lain tdk boleh pakai.
Aditv ch. 44