Waroeng Pohon jalan Paris KM 6, ingkung pitikke enak nan.

Sore ini, kami koboys mengadakan acara syawalan, mendadak memang, dan akhirnya diputuskan di Waroeng Pohon di jalan padis KM 6, arah SMP 2 SEWON. kalau dari utara terus saja sampai melewati Pyramid, lalu li maju sampai ada pertigaan ke kanan arah SMP 2 SEWON

Kami memesan 3 ingkung ayam jowo, dan 3 paket tek poci. 

Yang hadir

Hadiyanta, gora emon, irawan, andhi suranto, adhani horee, alrozi, dan aziz yang datang belakangan bersama keluarga.

Sayang banget pada gak bisa datang, padahal uenak tenan. 

Akhirnya kesampaian testride HD

Siang ini kedatangan tamu istimewa, kami berkawan sejak lama dan dulu sering main bareng saat beliau masih pakai Yamaha alfa 2R, tapi sekarang mainnya sudah Versys dan HD. 

Beliau adalah Muhammad Yazid, S.Ag yang saat ini adalah DPRD PROPINSI DIY dari PPP.

Ini tadi tujuan utama beliau untuk mengucapkan bela sungkawa langsung atas berpulangnya ayahanda saya, karena saat itu beliau sedang banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal untuk takziyah. 

Kebetulan beliau bawa HD nya, kesempatan ini tidak saya siakan, langsung saja saya testride keliling jalan dusun, cuma pakai gigi 1 saja. 

Sensasinya naik HD memang PRIDE, alhasil juga kuping saja agak budeg, haha.

Perlengkapan naik motor biar nyaman beli di dab hobbiesshop 

Hari ini saya membeli perlengkapan untuk naik motor Honda PCX 150 LED saya biar lebih nyaman dan aman saat besok untuk pergi pulang ke tempat kerja yang jauhnya 80 KM PP.

Yang pertama adalah Balaclava untuk penutup kepala dan hidung sekaligus, baru kemudian memakai helm, dengan begitu helm lebih bersih, kalau balaclava kotor tinggal dicuci. Mereknya adalah respiro CT-3 FA BLACK.

Yang kedua adalah sarung tangan model half merek SCOYCO MC240 BLACK RED ukuran XL, saya pakai model half karena bisa operasikan HP saat lampu bangjo lama merahnya.

Yang ketiga adalah sepatu yang menutupi mata kaki, tapi tidak terlalu terlihat seperti sepatu biker. Alasnya saya pilih yang rata sehingga enak untuk naik PCX 150 LED. Sepatu ini ukuran 44, lumayan besar juga, karena tadi pas jajal ukuran 42 terasa sesak. Sepatu ini merk SCOYCO MT009 BLACK.

Dengan perlengkapan ini, misal nanti dapat kesempatan testride motor-motor baru atau bigbike, rasanya ketiga perlengkapan diatas sudah cukup bagi saya. 

Semua perlengkapan diatas saya beli di DAB HOBBIESSHOP yang beralamat di Jalan Bumijo Tengah 21A. Telp 0274 560524, atau pin BBM 58427D61.

Semoga berguna.

Test harian All New CBR150R 2016

Saat saya terima tanggal 27 Juni 2016

Saya berkesempatan menjajal secara harian, All New CBR150R 2016. Motor saya bawa dari tanggal 27 Juni 2016 sampai 2 Juli 2016. Cukuplah untuk saya test harian pergi pulang ke kantor. 

Rute ke kantor saya memang kaya akan berbagai jalan, dari jalan di dusun saya yang cor semen, lalu jalan aspal mulus di pedesaan sampai jalanan kota yang padat merayap, lalu naik Piyungan ke Patuk Gunungkidul yang menanjak penuh tikungan, atau naik melalui Petir sampai akhirnya di kantor saya.

Motor ini memang desainnya saya suka banget, beda dengan pendahulunya yang saya tidak begitu ngeklik pada desain bagian depan. Motor ini kelihatan banget aura sportnya, full fairing dan setang nunduk, jok boncenger terpisah. Warna merahnya juga mencolok dan dominan.

Untuk alasan keamanan dan keawetan mesin, motor ini disetting ada limiter pada tiap giginya, yang saya rasakan di gigi satu, saat 40kpj maka limiter aktif dan motor tidak bisa naik lagi kecepatannya, lalu di gigi 2 mentok di 70 kpj, dan gigi 3 mentok di 90 kpj, pada gigi 4 sayangnya saya belum bisa mengetes limiternya sampai dimana, ini karena sudah lebih dari 100 kpj tapi jalanan yang ramai menakutkan saya untuk menambah kecepatan. Intinya limiter ini bukan suatu kendala, tapi memang demi kebaikan motor dan pengendaranya. Jika sudah hapal deruman mesin motor ini, maka sebelum mencapai limiter, kita bisa ganti gigi atasnya. 

Pada jalan yang lurus dan panjang, bisa langsung narik dari gigi satu sampai 4, terasa sensasi raungan balapan motoGP. Suara mesin lebih dominan terdengar dari pada suara knalpot standartnya.

Yang paling saya suka adalah, motor ini memberikan saya keyakinan untuk menyalip, begitu ada peluang dan celah yang aman, saya bisa yakin dan mudah menyalip, ini karena power selalu mengisi, dan memang saya main rpm mendekati limiter.

Satu kata bahwa ALL NEW CBR150R 2016 ini adalah motor yang pas untuk harian jarak 40 km lebih sekali tempuh, di perkotaan yang padat bisa mudah menyalip karena bodynya yang ramping didukung dengan tenaga mesin yang mumpuni. Motor ini bisa memaksimalkan tenaga yang ada sehingga tidak kekurangan, dan juga tidak mubazir kelebihan tenaga. 

Untuk konsumsi BBM saya coba pakai pertamax, seliter hampir menempuh 40 km, itu saya bawa motornya selalu rpm tinggi dan gas nya mengintimidasi, alias sering bleyer bleyer, kalau lebih kalem saya kira akan bisa lebih irit lagi.

Kebetulan teman teman saya juga pingin menjajal, dan respon mereka motor ini enteng dan bertenaga, disamping itu pula bisa bikin nambah kegantengam dan membuat 20 tahun lebih muda. Terkesan gombal ya, tapi coba pantengin foto sahabat saya ini yang pakai kaca mata, tebak berapa usianya? 17 tahun? 20 tahun? 25 tahun?

Di nol kan dulu

Langsung dipakai naik gunung

Isi bensin

Dikembalikan tanggal 2 Juli 2016

Tool carrier xiaomi yi untuk riding

image

Untuk memotret atau video selama riding pakai motor, maka saya membeli alat pembawa action camera saya xiami yi, alatnya seperti diatas, sehingga kamera bisa ditaruh di dada atau bisa pula dipakai terbalik sehingga kamera ada di punggung.

Xiaomi yi saya setting mengambil foto secara otomatis setiap 60 detik. Sehingga selama perjalanan saya tidak mikir foto foto manual, kalau mau lebih sering juga bisa di set kurang dari 60 detik.

Sayangnya camera xiaomi yi ini batrenya hanya bertahan sekitar 30 menitan.

Harga alat pembawa kamera ini adalah Rp. 100.000

Banyak juga blogger yang pakai alat ini pas kemarin short touring dari Bandung ke Karawan, antara lain : tmc, iwb, kobay, mbah wir, ari, dll

image

image

image

image

image

image

Lebih dekat mengenal detil CB650F

Big Bike Honda CB650F ini memang terlihat sederhanya untuk ukuran motor besar, seakan “bajunya” dibuat fit ke tubuhnya, yaitu rangka dan mesin secara tidak berlebihan. Tetapi jangan salah soal tenaganya yang dibetot langsung ngacir.

Orang awam belum tentu paham kalau ini adalah motor besar, apalagi bisa saya yang bawa karena badan saya yang tinggi besar, sehingga proporsional dengan bentuk CB650F ini. Terkadang saya iseng sebelum berhenti saat lampu merah di Bangjo, maka saya raungkan sekali mesinnya, setelah itu saya diam cool, menunggu reaksi orang orang disekitar motor saya yang mencari sumber bunyi raungan moge.

Ada dua ciri khas yang memudahkan mengidentifikasi bahwa ini adalah moge, yaitu dilihat lenagan ayun belakang yang bentuknya spesial, besar dan kokoh, juga bisa dilihat pada 4 buah knalpotnya yang memang sangat mencolok bahkan ini satu satunya yang sengaja dipamerkan pada CB650F ini, karena tidak ditutup fairing. Baru kemudian bisa melihat dua cakram besar di roda depan dengan sistem pengereman yang sudah ABS, dan juga cakram lebih kecil di roda belaakang, kalau melihat hal ini baru terlihat dan menyadari bahwa ini adalah moge.

CB650F ini panel panel di setang kiri kanan juga sederhana, tidak ada yang aneh, dan seperti motor pada umumnya, mungkin ada satu tombol lampu DIM yang cukup menekan tombol indikator lampu dekat, jadi ini adalah tombol DIM sekaligus tombol pilihan lampu dekat, untuk pilihan lampu jauh tinggal menekan yang sisi atas. Ada tombol klakson pada posisi yang umum. Lalu ada tambahan tombol hazard diatas tombol klakson agak kanan. Tombol skalar sein ada paling bawah. Handle kopling juga relatif sederhana, yang saya suka dari kopling CB650F ini sangat ringan, tidak ada kamus tangan saya capek karena ngopling.

Untuk bagian setang kiri, hanya ada tombol engine cut off dan starter saja, karena CB650F ini sudah AHO, jadi tidak ada saklar lampu, motor menyala, maka lampu juga menyala.

Wis monggo selanjutnya silahkan lihat foto foto dibawah ini.
IMG_20160419_060121

 

IMG_20160419_060139

 

IMG_20160419_060208

 

IMG_20160419_060233

 

IMG_20160419_060315

 

Jpeg

 

Jpeg

Ukuran ban belakang

 

 

Jpeg

Petunjuk setelan rantai

 

Jpeg

 

Jpeg

Shock belakang

 

Jpeg

Sistem pemindahan giginya

 

Jpeg

Cakram belakang

 

Jpeg

Knalpot asli suaranya lembut, ini saya suka

 

Jpeg

 

Jpeg

Setang kiri

 

Jpeg

 

Jpeg

Stiker petunjuk di tangki

 

Jpeg

 

Jpeg

 

Jpeg

 

Pesiar ke DAM PIJENAN, KAMIJORO, BANTUL

image

Tadi saya dari servis pulsar, karena haus, mampir di penjual es degan di bawah pohon besar diatas DAM PIJENAN, di jalur SEDAYU-PALBAPANG.

DAM PIJENAN ini dibuat jaman Belanda, tahun 1924, air di bendung dan dialirkan sampai ke SANDEN, mungkin sampai GEJLIK PITU, bahkan sepertinya lewat selokan di selatan rumah mbokdhe saya di Joho, Trimurti, Srandakan. Semoga saya tidak salah info.

Saya habis dua gelas es degan, dan dua gorengan, total bayar 7,500. Murah kannnn.

Habis minum saya pemasaran untuk melihat DAM, lalu saya turun lewat tangga, ternyata ada pintu pintu air dan ada pula semacam pompa air besar yang sepertinya sudah tidak berfungsi.

Bagi anda yang ingin melepas lelah saat naik motor, tempat ini memang pas banget. Bisa minum es degan, nasi kucing, gorengan, sambil menikmati pemandangan KALI PROGO.
image

Ini koordinatny :

-7.880332,110.267798

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Test harian CB650F, ternyata enak banget

image

Andaiiii

Saya pertama kali testride CB65OF di Purwokerto, saat launching CBR150R 2016, tepatnya di pelataran GOR SATRIA, waktu itu sekadar muter muter saja, dan ternyata moge ini mudah dikendalikan saat kita terpaksa harus pelan pelan. Karena naik moge dengan cepat, itu pasti enak, tapi naik moge pelan tapi tetap enak, itu baru istimewa.

Akhirnya setelah balik ke jogja saya meminjam ke Astra Motor di Jombor selama satu minggu, mulai 18 April 2016 sampai 25 April 2016.

Niat saya dari awal saat meminjam CB650F ini adalah untuk membuktikan apakah moge ini bisa saya pakai harian untuk kerja.

Syarat utama motor lolos untuk harian kerja, bagi saya adalah motor tidak membuat badan saya lelah. Ini karena saya PP sekitar 80 KM tiap harinya.

Motor ini kalau saya tidak salah, seharga avanza veloz terbaru, yang spek paling tinggi, itupun masih sisa sedikit, artinya masih lebih mahal motor ini. Jadi saya was was juga ketika pertama kalinya benar benar memakai motor ini, yang karena itu bukan untuk sekedar testride semenit dua menit.

Tentu saja saya sudah pengalaman memakai motor besar dan berat, tapi dengan kapasitas mesin yang kecil, yaitu BLACK COYOTE saya, rasanya hampir sama beratnya kedua motor ini, sehingga saat menuntun CB650F, saya pastikan pinggang kanan menempel di jok, motor agak miring kekiri sedikit, ini untuk menjaga agar motor tidak miring ke kanan, yang tentu saja akan ambruk ke kanan karena pasti motor seberat ini tidak akan cukup tenaga untuk menahannya.

Saya sudah menyiapkan safety shoes jadul saya merek kings untuk mengendarai CB650F ini, juga sarung tangan dan jaket respiro berprotektor pada lengan dan punggung, tidak lupa helm NHK full face baru. Semua perlalatan ini wajib dikenakan jika mau mengendarai CB650F.

Saya pernah dua kali jatuh kepleset memakai pulsar saat menapak di pinggiran jalan yang ternyata berkerikil, saya pastikan hal konyol seperti ini saya ingat dan saya tidak ingin terjadi saat mengendarai CB650F.

Tinggi badan saya adalah 176 cm, dengan memakai safety shoes, kedua kaki saya bisa menapak di kiri kanan, alias pas banget, tidak menggantung, tidak dingklik detected.

Pertama kalinya jalan jauh dari Astra Motor Jombor di Jalan Magelang menuju kantor saya di Patuk Gunungkidul, waktu sudah habis maghrib ketika saya mulai start. Saya hanya memikirkan untuk memakainya dengan pelan pelan, mencoba memahami dan merasakan karakter mesin, juga pengereman.

image

Double disk dan ABS

image

Rem belakang

CB650F ini perangkat pengereman depan adalah double disk dan tentu saja sudah ABS. Untuk sektor belakang juga diskbrake. Jadi pengereman mumpuni.

Lucu juga saat naik dari Bangjo Piyungan ke Patuk, saya disalip motor matic, dan saya mengerem hati saya untuk membetot gas, saya ingatkan diri saya bahwa saat ini saya masih tahap OSPEK memakai CB650F ini.

image

Stiker pengingat untuk memakai helm, sepatu dan sarung tangan

Desain CB650F ini menurut saya, sederhana dan fungsional, bukan pamer desain yang aneh aneh dengan mesin ala kadarnya. Tapi basic desainnya menurut mata awam saya adalah menyuguhkan indahnya knalpotnya yang ada empat, dan lengan ayun belakang yang kekar tapi manis. Jadi saya maklum jika tidak banyak orang yang melirik dan melihat dengan mata heran saat saya pakai jalan biasa kecepatan 50-60 kpj, beda dengan motor 250cc dua silinder yang saya juga pernah pakai selama seminggu, alamak anak anak SD SMP menatap penuh rasa senang dan harap, mungkin teringat tokoh sinetron yang lagi digandrunginya. Ironi.

Biasanya saat mau berhenti di lampu merah, saya bleyer sedikit, untuk membuat sensasi dengan suara khasnya. Lalu saya nikmati pandangan heran orang orang disekitar saya, terutama yang di belakang. Mungkin dikira motor modifan.

Saat lampu hijau menyala, saya biasanya pelan dulu sampai di titik aman yaitu telah melewari garis tengah perempatan, lagi lagi ini karena pengalaman dulu pernah di baris pertama langsung tarik gas, ternyata ada becak nylonong, saya rem pulsar saya sampai oleng dan roboh. Jadi mulai saat itu saya di lampu hijau pasti pelan pelan dulu, biarkan orang lain yang ada di depan, dan enaknya pakai CB650F ini, saya bisa langsung ngacir hanya pakai gigi dua yang bisa saya geber sampai 110 an KPJ, tapi biasanya sebelum sampai angka tersebut, jalanan di depan sudah krodit, akhirnya tuas gas dikendurkan demi keamanan semuanya.

Saya yang terbiasa pakai PCX yang knalpotnya nyaris tak bersuara, jadi sangat cocok dengan suara knalpot CB650F yang juga halus untuk ukuran moge, hanya suara mendesing yang khas dan itu saya suka. Bisa dikata CB650F ini adalah Si cepat yang senyap.

Hari kedua saya memakai CB650F, saya ambil rute dari rumah ke arah bangjo Sedayu, lalu keselatan menuju Palbapang Bantul, dan terus ke timur melewati BANGJO BAKULAN jalan Paris, terus ketimur sampai Imogiri dan naik menuju HUTAN PINUS MANGUNAN, lalu lanjut ke arah Patuk Gunungkidul dan finish di kantor saya. Saya hapal jalan Bangjo Sedayu sampai Palbapang ini jalannya lebar dan aspalnya mulus, trimakasih untuk pemda Bantul.

Tujuan saya tercapai di jalanan Bantul yang mulus ini, saya bisa sedikit lari, dan saya lupa apakah pernah pakai gigi 4 atau hanya gigi 3 saja. Jelas gigi 5 dan 6 belum pernah saya pakai. Kecepatan 100 kpj sangat mudah dicapai dalam hitungan detik, menyenangkan.

Saya pernah ke arah Purworejo lewat Godean kebarat naik menoreh dan tembus Kaligesing, heran papasan dengan moge moge adventure, versys kalau saya tidak salah lihat, yang ngebut di jalanan naik turun dengan enaknya, dan baru sekarang ini saya menyadari bahwa mereka itu tidak ngebut, karena bagi mesin moge, percayalah bahwa jalan naik itu tidak ada bedanya dengan jalan datar, karena tenaganya dibetot tidak habis, tidak ada kamus pakai moge saat ketemu jalanan naik extrim jadi lelet, sama sekali tidak. Itulah yang saya rasakan saat naik dari Imogiri ke Hutan Pinus Mangunan. Serasa semua jalan adalah datar saja. Bahkan saya sempat standing tanpa sadar saat naik menyalip mobil dan terlalu kuat membetot tuas gas.

Yang lucu saat naik CB650F ini adalah saat jalan santai 50-60 kpj, tiba tiba ada gronjalan di jalan, otomatis tangan kanan jadi narik gas, dan motor bisa melaju tidak sesuai dengan keinginan. Ini karena memang tuas gas sangat sangat tipis, artinya ditarik tipis saja sudah lari. Saat sudah menyatu dan menguasai motor ini, menyalip mobil atau motor di depan sangatlah menyenangkan, yang itu karena tidak bisa saya lakukan jika pakai motor 150 cc, karena tidak yakin bisa lari dan menyalip dengan tepat dan cepat. Pokokke CB650F di gas sithik njepat, WIIINGGGG.

Okelah sementara ini dulu ceritanya, dari saya penunggang awam yang benar benar awam mesin motor.

image

image

image

image

image

3.418 KM, saat pertama saya pinjam

image

image

Helm, jaket, sarung tangan, safety shoes. Wajib dipakai.

image

Sampai juga di kantor dengan selamat

Belajar membatik itu butuh kesabaran

image

Kompor batik astoetik

Ceritanya selama 5 hari dari Kamis sampai Senin, istri saya ikut kursus membatik yang disenggarakan di SMKI.

Akhirnya beli peralatan batik juga dan kita coba di rumah, ternyata membatik kalau dilihat sepertinya gampang, tapi kalau kita coba sendiri, ternyata susah juga, banyak cairan MALAM CAIR menetes di kain sehingga serusak gambar yang sudah dipola. Teknik memegang canting dan posisi kain menjadi pelajaran yang perlu diasah terus menerus sampai menjadi naluri.

Kedepan sepertinya istri saya ini mau serius menekuni batik, lumayan bisa mengajari murid muridnya kelak, juga mungkin bisa menjadi lahan bisnis. Lagi pula istri saya ini bisa menjahit baju, sehingga besok berencana membuat baju batik dengan dibatik sendiri dan dijahit sendiri. Mantab juga kalau besok ada pesenan dari teman teman yang minat dan pingin dibuatkan baju batik yang eklusif karena hanya dibuat satu buah saja.

Teknik membatik dan pewarnaan ternyata ada banyak juga. Jadi memang sudah tepat jika ikut kursus membatik.

Batik tulis tentu mahal harganya, karena memang sulit membuatnya.

image

Anak lanang belajar membatik

image

Suasana saat kursus

image

Ternyata susah juga

image

image

image

image

Hasil karya pertama

Sepedaan dadakan ternyata asik juga

image

7:56 start dari rumah

Pagi ini saya ditelpon teman SMP dan sekaligus teman SMA saya, katanya mau mengajak gowes.

Okelah saya langsung mandi dan bersiap siap, saya memakai sepeda milik anak lanang yang biasa dipakai ke sekolah. Awalnya saya ragu, terutama pada jok sepedanya yang keras, dan terbukti saya capek pantat panas gegara jok kurang empuk.

Jam 7:56 WIB kita berangkat dari rumah, tanpa tujuan pasti dan tanpa batasan waktu, lalu kami gowes ke utara arah Gunung Berjo, sampai di perempatan Tebon, kami ambil kiri masuk dusun Semingin lalu menyeberang sungai masuk ke dusun SOKONILO, lalu bablas ke utara ketemu jalan GODEAN, kami nyebrang jalan besar GODEAN lalu keutara melewati sawah sawah, yang penting ke utara dan tidak melewati jalan besar yang ramai.

Akhirnya kami sampai di wilayah dusun NJERING, baru kali ini saya lewat dusun ini kayaknya, ternyata ada bendungan dan ada embung, kami melewati sisi timur embung dan terus ke utara, akhirnya sampai di tugu penunjuk jalan yang ada di perempatan jalan, tugu ini berisi informasi arah beberapa dusun.

Kami bablas keutara, sampai akhirnya ketemu jalan Seyegan tembus BALANGAN, kami ambil kiri ke arah pefempatan BALANGAN, berhenti sebentar beli air minum.

Lanjut ke utara akhirnya sampai di BOK RENTENG, ini adalah saluran irigasi yang bentuknya unik. Setelah foto foto selfie pakai xiaomy, lanjut ke arah BLIGO dengan menyusuri aliran irigasi, ternyata asik juga, ada bendungan yang eksotik sebelum kami sampai di warung untuk istirahat ngeteh.

Setelah penat hilang, lanjut turun ke arah JEMBATAN GANTUNG DUWET, saya tahu disini biasanya ada penjual duren, buah kesukaan saya, benar juga ada yang jual, meskipun katanya ini duren dari wilayah PAKIS MAGELANG, karena duren KULONPROGO sudah habis musimnya.

Kami beli satu harganya 20.000, karena ada satu kamar yang busuk, akhirnya di korting jadi 15.000, mau nambah satu lagi sudah gak kuat.

Lanjut ke Jembatan Gantung, tentu saja selfi dulu, ternyata ramai juga lalu lintas motor yang lewat di jembatan ini. Memang hanya motor yang boleh lewat, mobil tidak bisa lewat karena ada portal. Jembatan ini di tengah sudah agak miring, mungkin tali kawat bajanya sudah kendor sebelah.

Habis selfi di jembatan lalu lanjut kebarat nyebrang jembatan lanjut ke arah kalibawang, lalu belok keselatan melalui jalan inspeksi saluran air, akhirnya sampai juga je jalan raya melewati penjual penjual buah naga lanjut keselatan arah pertigaan BORO, tanjakannya lumayan tinggi, kami nyerah nuntun sepeda.

Selanjutnya istirahat di POM BENSIN utara bangjo Dekso, lalu lanjut lagi nyebrang ke Sleman dan mampir warung di pertigaan pasar, timurnya SENDANG KREO.

Kami makan di warung, saya makan soto dan teh manis.

Lanjut lagi perjalanan pulang, kami sengaja lewat jalan jalan yang tidak ramai, sampai tembus ke sekitar SMP BINA UMAT, lanjut ke KALIDUREN, lalu kami pisah di PERTIGAAN barat BENDOSARI. Saya pulang ke timur, om Wiji lanjut keselatan.

Ternyata menyenangkan sekali naik sepeda santai dan njajah deso milang kori, melalui jalan jalan pedusunan.

Sayang hanya sepedanya memang perlu diberi jok yang empuk biar pantat tidak penat.

Bersepeda begini bikin paru paru saya terasa lapang dan enak, sebenarnya memang ini perimbangan dari naik motor ya dengan naik sepeda genjot.

image

Sampai Njering

image

image

Ternyata ada embungnya

image

Lewat tengah sawah sampai disini

image

Menuju BLIGO via saluran air

image

image

Mampir nge teh 200 meter sebelum jembatan gantung duwet

image

Makan duren dekat jembatan gantung

image

15.000 kenyang

image

Jembatan gantung, dulu saat sma pernah lewat sini

image

image

Prasasti jembatan

image

Nemu belik (mata air)

image

Tanjakan pertigaan BORO, nyerah deh

image

Pertigaan BORO

image

Warung makan pertigaan timur sendang KREO

image

Seger

image

12:52 sampai rumah

%d bloggers like this: