space for ads

Hari ini NET. TV mulai mengecor pondasi tower

Hari ini, Jumat, 8 Mei 2015, ternyata NET. TV sudah mengecor pondasi towernya. Towernya adalah model tiang tiga buah, sehingga pondasi towernya juga ada tiga buah.

IMG_20150508_175208

IMG_20150508_175152

Pondasi dibuat dengan dibuat lubang sekitar 4 meter, dan diberi anyaman besi lalu dituang adonan cor. Saya pernah tanya ahlinya cor, bahwa untuk menunggu cor kering, sebaiknya 28 hari. Berarti tanggal 8 Juni 2015 mulai mendirikan tower, dan bisa jadi memakan waktu 30 hari untuk installasi tower, sehingga 8 Juli selesai dan tower berdiri. Dilanjutkan installasi pemancar, kabel feeder, dan antena.

Tidak lupa installasi genset, UPS, PLN.

Setelah semuanya selesai, tinggal Test Commisioning dari pabrik pemancar. Kemungkinan makan waktu seminggu.

Jadi kalau prediksi saya awal puasa romadhon, NET sudah on air. Kita tunggu saja.

Tentu saja pekerjaan membangun gedung pemancar, gedung genset, gedung untuk security juga berjalan. Kalau perkiraan saya, paling tidak

IMG_20150508_141808

Besok kalau sudah mualai membangun tower saya update lagi informasinya.

NET. TV mulai membangun Site Pemancar TV di Jogja

image

Hari jumat, 24 April 2015, akan bertambah lagi gedung pemancar dan tower di komplek pemancar TV Desa Salaran, Ngoro Oro, Patuk, Gunungkidul.

NET. TV mulai membangun tower pemancar setinggi 100 meter, tepat di sebelah belakang (Utara) gedung MNC GRUP. Tanah di pinggir jurang yang dalamnya sekitar 100 meter. Bisa jadi kelak radiasi antena MNC GRUP bisa terhalang oleh antena NET. TV

Jogja memang mendapat tambahan 3 kanal analog UHF, yaitu 55, 57 dan 61. Entahlah NET mendapat kanal berapa. Sampai saya tulis ini, belum tahu jatah ketiga kanal tersebut dimenangkan siapa saja. Jangan lupa bahwa kanal 56 UHF sudah dipakai oleh RTV Jogja, apakah kelak RTV otomatis mendapat salah satu dari ketiga kanal tersebut atau harus gulung tikar karena memang itu jatah kanalnya Magelang. Kita tunggu saja.

image

image

image

NET. ANALOG siaran di Magelang

NET Magelang bersiaran Analog pada kanal frekuensi
58 UHF. Sejak hari KAMIS, 9 April 2015.

Seperti kita ketahui bahwa frekuensi JOGJA – JATENG adalah kanal frekuensi GENAP dimulai pada kanal 22 UHF dan berakhir pada kanal 48 UHF. Total ada 14 kanal UHF.

Sedangkan jatah Magelang adalah juga kanal GENAB dimulai dari 50 UHF sampai 62 UHF. Total ada 7 kanal.

NET. memakai kanal 58 UHF ini sudah benar. Lucunya kanal 56 UHF dipakai di Jogja oleh RTV. Sedangkan sebentar lagi di jogja akan tambah pemancar ANALOG pada frekuensi 55, 57 dan 61 UHF ini adalah kanal frekuensi dari PURWOREJO.

Daerah Magelang bahkan sampai Temanggung sebenarnya sudah tercover dari pemancar analog di Jogja yang rata-rata berkekuatan 20 KW. Namun karena memang sudah didaerah akhir dari pancaran, maka di Magelang kebanyakan memakai BOSTER untuk penguatan sinyal antena. Inilah yang menimbulkan masalah ketika tvOne digital hadir di Magelang pada kanal UHF genab maka bentrok dengan GlobalTV jogja yang sama kanalnya. Alhasil penduduk protes pada siaran tvOne digital di Magelang yang mengganggu penerimaan tv di rumahnya.

Begitupun juga dengan NET. di magelang yang meskipun sudah benar di frekuensi jatah magelang yaitu 58 UHF tapi menurut kabar valid yang sampai ke saya, tetap mengganggu penerimaan tv penduduk di Magelang. Padahal NET ini baru memancar dengan kekuatan 100 watt saja. Belum lagi besok kalau dari pemancar jogja misal di kanal 55, 57 atau 61 UHF sudah memancar, kemungkinan interferensi sangat besar karena kanalnya berdekatan yaitu 57 dan 58.

Urusan pembagian frekuensi memang tidak bisa main main, memang ini urusan negara. Negara yang mengatur daerah mana pakai frekuensi berapa.

Orang selalu meributkan frekuensi UHF untuk TV bahwa itu katanya frekuensi milik daerah. Tapi orang lupa bahwa seluler juga menguasai frekuensi bahkan secara nasional.

Yang rugi jika tv digital teresterial dibatalkan

Kalau penilaian saya. Yang rugi jika DTV
dibatalkan adalah sbb :
1. Rakyat hanya terbatas maksimal lihat 20
tv analog di daerah masing masing dg
kualitas beragam, dari bersemut hingga yg
cling. tergantung power pemancar analognya.
2. Pengusaha pembuat STB yang kadung
bikin STB.
3. SELULAR yg tidak jadi dapat tambahan
frekuensi untuk 4G LTE di kanal 50-62 UHF.
4. Rakyat lagi yg tidak jadi menikmati 4G LTE
murah.
5. Rakyat lagi yang mungkin akan merasakan
internet makin lelet karena jalur sdh sesak,
pemakai makin banyak.
6. Pemenang mux dtv rugi sudah invest
miliaran utk menggelar dtv
7. Content provider yang sudah EDP juga
rugi, cuma PHP doang. dan harapan
bersiaran musnah krn kanal analog sudah
full.
8. PH yang kehilangan pangsa pasar besar
jika dtv jalan.

EDP TV ANALOG : TVKR

Hari ini adalah EDP tv analog nomer 13, untuk memperebutkan tiga kanal analog tambahan di Jogja, yaitu kanal 55, 57, dan 61.

Peserta terakhir ini adalah TVKR. Saya sebagai warga jogja, berharap bahwa tvkr bisa mendapatkan salah satu kanal analog tambahan diatas.

Siapa sih warga jogja yang tidak tahu koran KR, kalau tidak tahu maka kebangeten. Grup KR inilah yang berniat membuat krtv.

Saya membayangkan ada acara tvkr berdasar isi KR, misal SUNGGUH SUNGGUH TERJADI versi tvkr, lalu ada tayangan karya SH MINTARJA misal “API DI BUKIT MENOREH” dibuat semacam film berseri seperti mahabharata, lalu ada ibu Magdalena yang membuat acara tentang SDM TENAGA KERJA, dll. Banyak yang bisa digali oleh tvkr.

Yang menjadi pertanyaan apakah tvKR mampu untuk membuat acara tersebut? Jogja itu gudangnya sekolah dan gudangnya orang kreatif, salah satu contoh adalah ada MMTC yang meluluskan ahli ahli di bidang pertelevisian, dan ada beberapa llagi akademi broadcasting yang ada di jogja, tentu saja akan memudahkan tvKR untuk mencari SDM yang tepat sehingga bisa memproduksi siaran lokal yang berkualitas, karena tvKR ini berkomitmen menjadi tv lokal murni tidak berjaringan, dan konten siarannnya adalah 100% lokal.

image

image

image

image

EDP TV ANALOG : Gelora TV dan BBS TV 7

image

Ini adalah rangkainan EDP calon pemancar TV analog di wilayah Jogja-Solo untuk penambahan kanal analog 55, 57, 61 UHF. Total yang sudah EDP adalah 12 TV.

Tadi saya hanya menekankan usul bahwa kalau memang niat mendirikan TV maka harus mau pasang pemancar di Ngoro-Oro,Patuk, Gunungkidul. Yaitu di desa pemancar TV layanan area Jogja Solo. Butuh modal 4-5 Milyar untuk mendirikan pemancar TV, kalau point ini saja tidak bisa memnuhi, maka harus lapang dada jika kalah dengan yang lebih siap.

Penilainan dari segi pemacar jika 0-10 maka nilai 10 adalah punya tanah sendiri di Desa Ngoro-oro, lalu bikin tower 100 meter, install pemancar bagus yang 20 KW, punya genset yang bagus, punya UPS yang bisa backupa sebentar saat PLN mati dan pergantian ke Genset, dan tentunya karyawan yang berkualitas, minimal lulusan D3 teknik Elektro.

Jika 12 TV yang EDP ini dirangking secara pemancarnya, maka KPID DIY tinggal pertimbangkan saja point point penilaian seperti yang sudah saya sampaikan diatas. Jadi pemenangnya terukur secara teknis pemancar.

Ibarat mau lomba balapan motor 500 CC, kalau dari awal cuma punya motor 150 cc maka bagai mana akan bisa bersaing, yang ada hanyalah akan selalu dioverlap terus dan berulang. Maka penting dan harga mati untuk dari awal punya pemancar sendiri yang bagus. Berkacalaha pada kasus RBTV yang dulu di jalan Jagalan Jogja, lalu dulu juga RCTI, SCTV, GlobalTV, MetroTV sebelum tahun 2003 berada di Dlingo, maka penonton harus geser geser antena untuk melihat ke arah Dlingo atau arah Ngoro-oro, repot. Atau lihat TVRI VHF dan lihat RBTV saat di jagalan Jogja, maka harus lurus kearah antena di Jagalan atau di TVRI jalan Magelang. Repot.

Jadi saya sebagi orang teknik pemancar tentu mendukung yang siap mendirikan pemancar bagus di Ngoro-Oro, meskipun nantinya itu jadi pesaing TV tempat saya kerja juga, tapi ini kan fair, bersaing program acara, kalau dari awal pemancar jelek, radius 20 km sudah bersemut banyak, bagaimana mau bersaing walau programnya bagus. Ini sekarang terjadi pada ADITV, saya menyukai program acara cak Nun, tapi kadang menyebalkan ketika tiba tiba suaranya hilang, atau malah gambar hilang, atau malah pemancar mati karena listri PLN mati dan gensetnya ADITV tidak bisa backup.

Semoga nanti yang menang rebutan 3 kanal analog tambahan ini punya dana 5 milyar untuk membangun sendiri tower dan pemancarnya di Ngoro-Oro. Amin.

image

image

image

image

image

image

EDP TV ANALOG : TV TEMPO dan NET YOGYAKARTA

image

image

Hari ini kembali digelar EDP PEMANCAR TV ANALOG di KPID DIY, yaitu TV TEMPO dan NET YOGYAKARTA, sehingga total sudah 10 TV yang EDP.

Untuk TV Tempo, intinya TV ini akan kurang lebih sama bentuknya dengan TEMPO yang kita kenal melalui edisi cetak yaitu investigasi yang mendalam dan lengkap, akan tetapi nantinya tentu dalam bentuk tayangan TV audio video.

Sedangkan NET memaparkan bahwa akan melawan arus dengan tidak menayangkan misal gosip perselingkuhan dan kawin cerai artis. NET membuat acara yang jika ditonton tidak merusak budaya.

Kedua tv yang EDP hari ini menyatakan diri tidak berafiliasi dengan pengusaha media besar manapun dan tidak berafiliasi ke partai politik apapun. Mendukung pemerintah jika program pemerintah bagus. Mengkritisi jika program pemerintah tidak bagus.

Untuk NET sudah pengalaman mengelola TV selama dua tahun di Jakarta dengan 1.600 karyawan.

Kabarnya NET sudah survey tanah di Ngoro Oro untuk mendirikan tower dan penempatan pemancarnya.

Kedua tv ini adalah tv berjaringan tetapi bersedia membangun studio di kota Jogja.

image

image

image

image

image

image

image

EDP TV ANALOG : Blangkon TV dan Yogya Channel

image

Ini adalah rangkaian EDP oleh 12 calon TV ANALOG di KPID DIY untuk memperebutkan entah dua atau tiga kanal analog UHF tambahan, yaitu kanal 55, 57 dan 61.

Hari ini yang EDP adalah Blangkon TV dan YOGYA CHANNEL.

Tadi saya melihat paparannya untuk Blangkon TV katanya mau membuat tower TV di kota Jogja dengan ketinggian 75 meter. Acuannya adalah tinggi BTS di dekat tanah yang akan dibangun tower adalah 75 meter. Jadi dipandang tidak masalah.

Akan tetapi Blangkon TV mungkin belum tahu secara teknis bahwa kanal analog yang akan diperebutkan ini adalah untuk wilayah coverage Jogja dan Solo bahkan sampai Boyolali, Sragen, Karanganyar, Magelang, Muntilan dan Temanggung. Sehingga mau tidak mau harus memancar dari desa Ngoro-Oro, Patuk, Gunungkidul, tempat dimana semua pemancar TV analog dan digital area coverage Jogja-Solo berada.

Perkara tower dan gedungnya mau sewa kepada pemancar yang sudah ada atau mau beli tanah lalu dibangun sendiri, itu terserah saja. Tetapi sebagai gambaran bahwa untuk mendirikan pemancar sendiri dengan lengkap paling tidak habis 3-5 Milyar.

Sebagai gambaran harga tanah kisaran Rp. 750.000/meter.
Biaya pembuatan tower mungkin 500 juta sampai 1 Milyar.

Pemancar harusnya yang 20 KW dan sebaiknya jangan main main dengan pemancar yang belum terbukti kehandalannya. Untuk pemancar bisa 2-4 Milyar sendiri harganya.

Belum lagi membuat Gedung, beli Genset 200 KVA, beli UPS.

Jadi memang urusan membuat pemancar analog ini bukan hal yang ringan.

Ironi jika program siaran secara konten bagus dan menarik tetapi terkendala pemancar yang jelek sehingga diterima di pemirsa kualitasnya jelek banyak semut dan suara kemresek. Karena ini analog.

Sebenarnya saya salut pada paparan dari Blangkon TV karena menyasar budaya kepada generasi muda Jogja. Hanya saja perlu dipertimbangkan tentang letak pemancarnya.

Untuk Yogya Channel saya anggap biasa saja paparan EDP nya tadi tidak ada yang istimewa dari pada EDP tv sebelum sebelumnya.

Kedua tv analog ini tadi komitmen menjadi MURNI TV LOKAL.

Oke deh kita tunggu saja besok bagaimana hasil akhirnya. Karena masih ada EDP untuk 4 tv analog lagi pada hari Rabo dan Kamis besok.

TV digital bagaiman? Sudah ada 22 yang lolos EDP digital di KPID DIY, seharusnya ke 22 tv digital ini diwajibkan siaran dan sewa mux kepada 5 mux swasta. Harusnya era SIMULCAST sudah jalan, sehingga warga jogja yang ingin melihat tv berkualitas maka saya yakin warga akan rela membeli pesawat TV baru yang sudah include receiver DVB-T2 atau cukup beli STB kisaran harga Rp. 350.000

image

image

image

image

image

EDP TV ANALOG : KRESNA TV, Kompas TV, My Tv di KPID DIY

image

image

image

Hari ini kembali EDP untuk tv analog memperebutkan dua kanal tambahan. Total ada 12 calon pemancar tv analog yang EDP untuk memperebutkan 2 kanal tambahan analog.

Untuk hari ini ada
KompasTV
MY TV
KRESNA TV

Jadi sudah 6 tv ini yang edp dengan kemarin.

Sebenarnya belum jelas ada 3 kanal yang diperebutkan atau hanya dua. Tetapi secara teknis tidak bisa kanal 55, 56, 57 on air dalam satu area. Kanal 56 seharusnya untuk guard band.

Yang paling gigih adalah kresna tv karena ini tv angkatan ADI TV, nusa tv, tugu tv, kurang lebih sejak 2007-2008 berjuang untuk dapat IPP.

Kalau kompas tv saat ini sudah siaran nebeng kanal RBTV, juga sudah siaran digital DVB-T2di mux transcorp.

Ya sudah mari kita tunggu saja perkembangannya.

image

image

image

image

image

image

EDP TV ANALOG : Citra TV, O CHANNEL YOGYAKARTA, Inspira TV

image

Jadi EDP kali ini adalah EDP untuk pemancar TV analog.

Saat ini yang EDP analog adalah O Channel, Citra TV, Inspira TV.

Untuk Inspira TV ini beda dengan Inspira TV yang dulu EDP digital

www.hadiyanta.com/2013/07/04/edp-inspiratv-sukatv-pandawatv/

Untuk O Channel sudah punya ijin siaran digital di jogja, seharusnya tinggal sewa kepada salah satu MUX DIGITAL lalu siaran. Tapi entah kenapa sampai sekarang belum siaran digital.

Sebenarnya akan ada 11 yang EDP untuk memperebutkan ketiga kanal diatas.

Info dari BALMON DIY yang hadir di acara ini, bahwa kanal analog tambahan adalah 55, 57 dan 61 UHF. Salah satu dari kanal tersebut untuk RTV yang saat ini ada di kanal 56 UHF milik magelang. KPID JATENG minta kanal 56 dikembalikan. dan spt logika teknis saya kmrn jika ada kanal 55, 56, 57 berurutan maka tidak ada guardband, karena kanal 56 adalah kanal guardband untuk kanal 55 dan 57. Jadi tinggal dua kanal analog tambahan yang diperebutkan oleh 11 pemohon.

image

Bapak Nugroho Balmon DIY

Komitmen ketiga tv ini adalah akan menjadi TV LOKAL, sehingga akan punya studio tv sendiri yang akan menyerap SDM lokal Jogja.

Lantas bagaimana nasib tv digital DVB-T2? au ah.

Kita tunggu saja siapa besok yang akhirnya siaran.

image

image

image

image

image

%d bloggers like this: