Sugeng tindak bapakku

image

Pawartos Lelayu Bapak

Ternyata ini Ramadan terakhir bapak.

Innalillahi wa innaillaihi rojiuun. Bapak Tugiran meninggal jam 6:45 WIB, Ahad 19 Juni 2016 di RS SARJITO.

Insya Allah dimakamkan hari ini jam 16:00 WIB

Mohon dimaafkan semua kesalahan beliau.

Semoga khusnul khotimah.

Amin.

Sebelumnya saya ingin mengenang masa masa saya bersama bapak. Yang saya ingat saat kecil, bapak selalu mengajak saya jamaah maghrib dan isyak di masjid Al Muttaqin, masjid di dusun kami. Meskipun saat itu saya nakal sekali selalu minta mampir jajan diwarung utara masjid, tetapi bapak selalu saja mengajak saya ke masjid. Saya selalu digendong di belakang di punggung bapak. Saat besar ini saya sadari ternyata bapak memberikan saya filter iman dan islam dengan cara selalu mengajak saya ke masjid. Pada perkembangannya saya memang menjadi anak masjid dengan dan mendapat teman teman seusia di masjid seperti Andang, Aris, Bendot, Biyanto, Danang, Purwoko, Siut, Pardi dll. Terimasih bapakku, pendidikanmu ini membuat anakmu punya filter iman dan islam diera akhir jaman yang serba terbolak balik ini. Air terlihat seperti api, api terlihat seperti air, hanya dengan mata iman nur cahaya ilahi bisa membedakannya.

Satu lagi pelajaran berharga dari bapak, yaitu bapak mengajarkan saya untuk menyambung silaturahmi, dengan sepeda ontanya saya kadang bonceng di planthangan kadang di boncengan, sering banget pantat dan kaki saya memjadi gringgingen. Bapak selalu mengajak saya silaturahmi saat lebaran ke rumah family, terutama di Tebon, dan di Dongkelan jalan godean barat Berjo. Ternyata tanpa saya sadari saya memang menyukai silaturahmi, terimakasih bapakku.

Saat saya kelas 3 SMP bapak beli motor astrea star, ini tahun 1988, entah itu bapak beli untuk bapak sendiri, atau belikan saya, tapi pada akhirnya sayalah yang pakai, bapak lalu tetap dengan sepeda ontanya untuk ke SD KEDUNGPULE dekat Museum Soeharto. Untuk yang satu ini saya merasa bersalah pada bapak karena seperti menange dewe merebut motornya bapak. Motor ini saya pakai sampai kuliah tahun 1997 nan saya jual untuk beli komputer karena saya rasa lebih baik saya punya komputer dan punya ilmu tentang komputer, besok motor bisa beli lagi, alhamdulillah saya sudah buktikan ke bapak, bisa punya motor kharisma, beat, pulsar dan PCX.

Doa saya dulu sebelun dapat pekerjaan adalah mendapat pekerjaan yang baik bagi saya, orang tua saya dan masa depan saya dunia akherat, alhamdulillah akhirnya setelah setahun dari lulus S1, saya mendapatkan pekerjaan di Jogja. Tidak perlu keluar jogja, ini artinya saya bisa tetap dekat dan menjaga bapak dan ibu saya.

Bahkan saat saya membeli vantrend, itu semata mata tujuan utama demi bisa untuk jaga jaga bapak ibu kalau minta diantar kondangan, kalau kalau sakit mendadak, dll dan hal tersebut memang terbukti. Jadi punya mobil memang sebatas kebutuhan.

Bapak saya, TUGIRAN, telah berpulang kehadirat Allah SWT pada bulan romadhon 1437 H ini, bapak mulai merasa kurang sehat sekitar 40 hari yang lalu, saat itu beliau ikut acara budaya tahlilan di tempat saudara, bapak sudah tidak mau makan.

Lalu berangsur kesehatan bapak menjadi semakin turun, bapak jadi selalu pingin tidur di teras rumah bapak, rumah yang saya tempati saat ini, sedang bapak dan ibu menunggu rumah adik saya yang kosong. Sampai akhirnya saya dan istri, belikan bapak tempat tiduran dari bambu yang bisa diatur naik turun pada bagian kepala, agar bapak merasa nyaman tiduran di teras rumah, bapak bilang pingin melihat pepohonan yang segar disekitar rumah. Bapak lumayan masih senang bercerita cerita, dan saya sengaja rekam video pas bapak cerita, karena feeling saya saat itu kok kayaknya harus merekan bapak untuk kenangan.

Bapak juga sempat bilang ke saya bahwa rumah bapak yang saya tempati ini kalau ada yang rusak rusak, saya disuruh memperbaiki, padahal selama ini bapak yang memperbaiki rumah jika ada yang rusak. Rumah ini dibuat pada 1Juni 1980, jadi sudah 36 tahun.

Pada perkembangannya kesehatan bapak makin menurun lagi, hingga bapak bilang tidak kuat berjalan sampai teras rumah depan. Lalu bapak digelarkan springbed di kamar tamu rumah adik yang ditinggali bapak.

Ternyata para tetangga sudah pada tahu kondisi bapak, dan beramai ramai rombongam pada jenguk bapak, bapak sempat pesan ini itu tentang pengajian yang selama ini bapak rintis dan asuh. Disini saya sudah merasa ada pertanda dari bapak.

Pakdhe Parno pas jenguk bapak juga diberi pesan oleh bapak, bahwa pralon pengairan di sawah harus dipasang begini begini. Satu pertanda lagi.

Paklik saya juga diberi amanat buku catatan bapak tentang pembuatan masjid Al Muttaqin yang bangunan pertama. Bapak juga minta maaf kepada paklik. Pertanda lagi.

Akhirnya pada tanggal 14 Juni 2016, bapak opname di RS SARJITO di Melati 5B, kami bergantian tiga shift nunggu bapak, ada adik adik bapak, keponakan, mantu, dan tentu kami anak anaknya, saya kebagian nunggu pada tanggal 18 Juni 2016, sabtu jam 19.

Tanggal 18 Juni 2016, pagi jam 7:30 saya bawa ibu jenguk bapak, saat itu bapak terlihat sudah makin menurun, tapi tadi pagi sudah makan jenang hampir habis, kakak saya anaknya mbokdhe yang ndulang bapak, saat kami datang, bapak terlihat tidur, tapi ternyata bapak terbangun mendengar kedatangan kami, lalu ibu masih sempat menyuapi sisa jenang yang tadi belum habis, saya sendiri sempat memberikan secendok madu kepada bapak. Jam 8 lebih sedikit saya, ibu dan mas saya pulang. Bapak ditunggu paklik saya yang rumahnya persis timur rumah bapak.

Jam 15:50 ada WA dari adik saya perempuan yang kebetukan dokter umum dan ternyata tidak pulang dari tadi pagi ikut menjaga bapak, agar saya segera ke Sarjito, lalu saya pun segera meluncur bersama istri ke RS Sarjito. Kondisi hujan deras di rumah, saya pakai matrol tapi hujan reda, dan mulai hujan lagi di perempatan ringroad Demakijo, ternyata hujan bertahan sampai pagi, dan ternyata ada bencana longsong di Purworejo yang banyak menimbulkan korban jiwa.

Jam 17:15 kami sampai di RS, tapi kami tidak boleh masuk kamar karena sedang ada tindakan. Akhirnya saya dan istri ke masjid As Shifa RS Sarjito untuk buka minta nasi kotak di masjid.

Jam 20:15 saya dipanggil masuk adik saya, saya langsung diberitahu kondisi bapak menurun dan saya diminta minta maaf, lalu saya ajak bapak bicara dan minta maaf kesalahan saya, istri dan anak anal saya, bapak juga malah gantian minta maaf pada saya, jadi nangis saya, tapi plong.

Ternyata adik saya yang di Tegal, sebelumnya sudah telp minta maaf melalui telpon.

Habis saya, lalu istri saya gantian masuk untuk minta maaf ke bapak, saat itu bapak hanya jawab tanda ya. Lalu bapak makin menuru, tidak lagi mau bicara.

Sampai menjelang jam 03:30 saya dan adik saya gantian menjaga bapak, banyak sekali obat obatan yang diinfuskan ke bapak, semua usaha maksimal sudah dilakukan. Saya tidak lupa selalu mengajak bapak istigfar, dan syahadat meskipun bapak tampaknya sudah dalam kondisi koma.

Sehabis sahur yang saya beli di food court sisi depan Sarjito, saya dan istri ke masjid untuk sholat shubuh, lalu balik lagi ke depan kamar bapak.

Jam 05:23 adik saya memanggil untuk masuk, kondisi bapak sudah sangat menurun, lalu bapak diberikan pemicu jantung dengan cara ditekan tekan pakai tangan dan dihembuskan angin dengan alat seperti balon dipejet manual. Lalu saya keluar dan hanya adik saya yang menunggu.

Akhirnya jam 7:07 adik saya memanggil saya, ternyata bapak telah berpulang jam 6:45 WIB tadi.

Innalillahi wa innaillaihi rojiuun.

Beruntung sebelum meninggal tadi, ibu masih bisa ketemu bapak terakhir kalinya, tadi ibu pagi-pagi dibawa suaminya adik saya dari rumah.

Akhirnya Ibu dan Istri saya, kami minta pulang dulu, lalu saya dan adik ipar menunggu jenazah bapak sampai jam 9 untuk disucikan di rumah sakit. Adik saya mengurus administrasi.

Saya dan suami adik saya ikut memandikan jenazah bapak di RS Sarjito, mengawasi pemakaian kain kafan, lalu adik perempuan saya yang bareng mobil ambulan menuju rumah. Saya dan suami adik saya pulang pakai motor masing masing.

Sekitar jam 11 siang saya sampai rumah, semua sudah dibantu sanak saudara dan tetangga, bahkan kuburan untuk bapak sudah selesai jam 11, dan eloknya lagi meski semalam hujan deras, tapi kuburan bapak kering tidak ada airnya, semoga semua kemudahan kemudahan ini pertanda khusnul khotimahnya bapak. Pembuatan makan bisa cepat karena mendapat tanah biasa, bukan tanah padas yang keras, tapi pemakaman bapak tetap sesuai rencana yaitu jam 16 WIB.

Suasanya mendung dan adem  tapi tidak hujan, bahkan tidak gerimis, ini dari saya tiba dirumah sampai selesai pemakaman jenazah bapak, semoga ini salah satu pertanda bapak khusnuh khotimah. Padahal kalau mengingat hujan semalam, rasanya kemungkinan pas pemakaman bapak bakal turun hujan, sangat bisa terjadi.

Jam 15:30 upacara pemberangkatan jenazah bapak dimulai, dan jam 16 selesailah pemakaman bapak saya.

Terimaksih kepada semua sanak saudara dan tetangga yang telah membatu kami yang tidak dapat kami sebut satu persatu, terimakasih kepada para takziyah yang telah melayat bapak mendoakan, menyolatkan dan beberapa sampai ikut ke keburan untuk memakamkan bapak.

Kami tahu bapak sudah merasa mongkok, senang, bangga pada pencapaiannya mendidik dan ngemong kami, kemarin saat sakit beliau punya keingingan untuk syukuran dengan nanggap karawitan kelompok beliau, sewa tenda dan kursi, ngundang tetangga, dan itu harus, kata bapak, semua biaya akan ditanggung bapak. Entah itu isyarat atau apa, ternyata memang bapak wafat dan akhirnya menyewa tenda kursi, tapi memang insya Allah keinginan bapak itu harus kami laksanakan kelak secepatnya.

Pengalaman paling berkesan dengan bapak adalah saya tahun lalu di bulan mei 2016 mengantar dan mendampingi bapak umroh, alhamdulillah bapak sehat tanpa sakit selama umroh dan sehabis umroh. Saya malah sakit seminggu setelah pulang umroh. Ibuk saya telah umroh tahun 2014 didampingi adik perempuan saya.

Bapak saya ini orangnya hampir tidak pernah marah, semarahnya bapak paling bilang SEMPRUL, begitu pada saya. Soal makan, bapak selalu makan dirumah, masakan sayur pakai santan, itu wajib bagi bapak. Kalau jajan diluar itu karena saya ajak saja. Sayangnya dulu bapak perokok tingwe, alias linting dewe, berhenti pada 26 Februari 2015, menjelang mau umroh sampai bapak wafat tidak lagi merokok.

Bapak itu orangnya slow, tanpa pikiran macem macem, semeleh, sehingga raut wajah beliau itu selalu tenang dan awet seperti itu.

Selamat jalan bapak, semoga Allah mengampuni dosa dosa bapak, semoga dijembarke kubure, diperlihatkan syurga yang bakal engkau singgahi nantinya bapakku. Amin.

image

Bapak pulang kenduri

image

image

Masjid Nabawi

image

Saya, bapak dan Om

image

image

image

Bapak dan adiknya caket

image

Saya, bapak dan mas Sukro di pelataran

image

Adik dan ibuk

image

image

Jabal Rahmat

image

Latihan

Tool carrier xiaomi yi untuk riding

image

Untuk memotret atau video selama riding pakai motor, maka saya membeli alat pembawa action camera saya xiami yi, alatnya seperti diatas, sehingga kamera bisa ditaruh di dada atau bisa pula dipakai terbalik sehingga kamera ada di punggung.

Xiaomi yi saya setting mengambil foto secara otomatis setiap 60 detik. Sehingga selama perjalanan saya tidak mikir foto foto manual, kalau mau lebih sering juga bisa di set kurang dari 60 detik.

Sayangnya camera xiaomi yi ini batrenya hanya bertahan sekitar 30 menitan.

Harga alat pembawa kamera ini adalah Rp. 100.000

Banyak juga blogger yang pakai alat ini pas kemarin short touring dari Bandung ke Karawan, antara lain : tmc, iwb, kobay, mbah wir, ari, dll

image

image

image

image

image

image

Pesiar ke DAM PIJENAN, KAMIJORO, BANTUL

image

Tadi saya dari servis pulsar, karena haus, mampir di penjual es degan di bawah pohon besar diatas DAM PIJENAN, di jalur SEDAYU-PALBAPANG.

DAM PIJENAN ini dibuat jaman Belanda, tahun 1924, air di bendung dan dialirkan sampai ke SANDEN, mungkin sampai GEJLIK PITU, bahkan sepertinya lewat selokan di selatan rumah mbokdhe saya di Joho, Trimurti, Srandakan. Semoga saya tidak salah info.

Saya habis dua gelas es degan, dan dua gorengan, total bayar 7,500. Murah kannnn.

Habis minum saya pemasaran untuk melihat DAM, lalu saya turun lewat tangga, ternyata ada pintu pintu air dan ada pula semacam pompa air besar yang sepertinya sudah tidak berfungsi.

Bagi anda yang ingin melepas lelah saat naik motor, tempat ini memang pas banget. Bisa minum es degan, nasi kucing, gorengan, sambil menikmati pemandangan KALI PROGO.
image

Ini koordinatny :

-7.880332,110.267798

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Test harian CB650F, ternyata enak banget

image

Andaiiii

Saya pertama kali testride CB65OF di Purwokerto, saat launching CBR150R 2016, tepatnya di pelataran GOR SATRIA, waktu itu sekadar muter muter saja, dan ternyata moge ini mudah dikendalikan saat kita terpaksa harus pelan pelan. Karena naik moge dengan cepat, itu pasti enak, tapi naik moge pelan tapi tetap enak, itu baru istimewa.

Akhirnya setelah balik ke jogja saya meminjam ke Astra Motor di Jombor selama satu minggu, mulai 18 April 2016 sampai 25 April 2016.

Niat saya dari awal saat meminjam CB650F ini adalah untuk membuktikan apakah moge ini bisa saya pakai harian untuk kerja.

Syarat utama motor lolos untuk harian kerja, bagi saya adalah motor tidak membuat badan saya lelah. Ini karena saya PP sekitar 80 KM tiap harinya.

Motor ini kalau saya tidak salah, seharga avanza veloz terbaru, yang spek paling tinggi, itupun masih sisa sedikit, artinya masih lebih mahal motor ini. Jadi saya was was juga ketika pertama kalinya benar benar memakai motor ini, yang karena itu bukan untuk sekedar testride semenit dua menit.

Tentu saja saya sudah pengalaman memakai motor besar dan berat, tapi dengan kapasitas mesin yang kecil, yaitu BLACK COYOTE saya, rasanya hampir sama beratnya kedua motor ini, sehingga saat menuntun CB650F, saya pastikan pinggang kanan menempel di jok, motor agak miring kekiri sedikit, ini untuk menjaga agar motor tidak miring ke kanan, yang tentu saja akan ambruk ke kanan karena pasti motor seberat ini tidak akan cukup tenaga untuk menahannya.

Saya sudah menyiapkan safety shoes jadul saya merek kings untuk mengendarai CB650F ini, juga sarung tangan dan jaket respiro berprotektor pada lengan dan punggung, tidak lupa helm NHK full face baru. Semua perlalatan ini wajib dikenakan jika mau mengendarai CB650F.

Saya pernah dua kali jatuh kepleset memakai pulsar saat menapak di pinggiran jalan yang ternyata berkerikil, saya pastikan hal konyol seperti ini saya ingat dan saya tidak ingin terjadi saat mengendarai CB650F.

Tinggi badan saya adalah 176 cm, dengan memakai safety shoes, kedua kaki saya bisa menapak di kiri kanan, alias pas banget, tidak menggantung, tidak dingklik detected.

Pertama kalinya jalan jauh dari Astra Motor Jombor di Jalan Magelang menuju kantor saya di Patuk Gunungkidul, waktu sudah habis maghrib ketika saya mulai start. Saya hanya memikirkan untuk memakainya dengan pelan pelan, mencoba memahami dan merasakan karakter mesin, juga pengereman.

image

Double disk dan ABS

image

Rem belakang

CB650F ini perangkat pengereman depan adalah double disk dan tentu saja sudah ABS. Untuk sektor belakang juga diskbrake. Jadi pengereman mumpuni.

Lucu juga saat naik dari Bangjo Piyungan ke Patuk, saya disalip motor matic, dan saya mengerem hati saya untuk membetot gas, saya ingatkan diri saya bahwa saat ini saya masih tahap OSPEK memakai CB650F ini.

image

Stiker pengingat untuk memakai helm, sepatu dan sarung tangan

Desain CB650F ini menurut saya, sederhana dan fungsional, bukan pamer desain yang aneh aneh dengan mesin ala kadarnya. Tapi basic desainnya menurut mata awam saya adalah menyuguhkan indahnya knalpotnya yang ada empat, dan lengan ayun belakang yang kekar tapi manis. Jadi saya maklum jika tidak banyak orang yang melirik dan melihat dengan mata heran saat saya pakai jalan biasa kecepatan 50-60 kpj, beda dengan motor 250cc dua silinder yang saya juga pernah pakai selama seminggu, alamak anak anak SD SMP menatap penuh rasa senang dan harap, mungkin teringat tokoh sinetron yang lagi digandrunginya. Ironi.

Biasanya saat mau berhenti di lampu merah, saya bleyer sedikit, untuk membuat sensasi dengan suara khasnya. Lalu saya nikmati pandangan heran orang orang disekitar saya, terutama yang di belakang. Mungkin dikira motor modifan.

Saat lampu hijau menyala, saya biasanya pelan dulu sampai di titik aman yaitu telah melewari garis tengah perempatan, lagi lagi ini karena pengalaman dulu pernah di baris pertama langsung tarik gas, ternyata ada becak nylonong, saya rem pulsar saya sampai oleng dan roboh. Jadi mulai saat itu saya di lampu hijau pasti pelan pelan dulu, biarkan orang lain yang ada di depan, dan enaknya pakai CB650F ini, saya bisa langsung ngacir hanya pakai gigi dua yang bisa saya geber sampai 110 an KPJ, tapi biasanya sebelum sampai angka tersebut, jalanan di depan sudah krodit, akhirnya tuas gas dikendurkan demi keamanan semuanya.

Saya yang terbiasa pakai PCX yang knalpotnya nyaris tak bersuara, jadi sangat cocok dengan suara knalpot CB650F yang juga halus untuk ukuran moge, hanya suara mendesing yang khas dan itu saya suka. Bisa dikata CB650F ini adalah Si cepat yang senyap.

Hari kedua saya memakai CB650F, saya ambil rute dari rumah ke arah bangjo Sedayu, lalu keselatan menuju Palbapang Bantul, dan terus ke timur melewati BANGJO BAKULAN jalan Paris, terus ketimur sampai Imogiri dan naik menuju HUTAN PINUS MANGUNAN, lalu lanjut ke arah Patuk Gunungkidul dan finish di kantor saya. Saya hapal jalan Bangjo Sedayu sampai Palbapang ini jalannya lebar dan aspalnya mulus, trimakasih untuk pemda Bantul.

Tujuan saya tercapai di jalanan Bantul yang mulus ini, saya bisa sedikit lari, dan saya lupa apakah pernah pakai gigi 4 atau hanya gigi 3 saja. Jelas gigi 5 dan 6 belum pernah saya pakai. Kecepatan 100 kpj sangat mudah dicapai dalam hitungan detik, menyenangkan.

Saya pernah ke arah Purworejo lewat Godean kebarat naik menoreh dan tembus Kaligesing, heran papasan dengan moge moge adventure, versys kalau saya tidak salah lihat, yang ngebut di jalanan naik turun dengan enaknya, dan baru sekarang ini saya menyadari bahwa mereka itu tidak ngebut, karena bagi mesin moge, percayalah bahwa jalan naik itu tidak ada bedanya dengan jalan datar, karena tenaganya dibetot tidak habis, tidak ada kamus pakai moge saat ketemu jalanan naik extrim jadi lelet, sama sekali tidak. Itulah yang saya rasakan saat naik dari Imogiri ke Hutan Pinus Mangunan. Serasa semua jalan adalah datar saja. Bahkan saya sempat standing tanpa sadar saat naik menyalip mobil dan terlalu kuat membetot tuas gas.

Yang lucu saat naik CB650F ini adalah saat jalan santai 50-60 kpj, tiba tiba ada gronjalan di jalan, otomatis tangan kanan jadi narik gas, dan motor bisa melaju tidak sesuai dengan keinginan. Ini karena memang tuas gas sangat sangat tipis, artinya ditarik tipis saja sudah lari. Saat sudah menyatu dan menguasai motor ini, menyalip mobil atau motor di depan sangatlah menyenangkan, yang itu karena tidak bisa saya lakukan jika pakai motor 150 cc, karena tidak yakin bisa lari dan menyalip dengan tepat dan cepat. Pokokke CB650F di gas sithik njepat, WIIINGGGG.

Okelah sementara ini dulu ceritanya, dari saya penunggang awam yang benar benar awam mesin motor.

image

image

image

image

image

3.418 KM, saat pertama saya pinjam

image

image

Helm, jaket, sarung tangan, safety shoes. Wajib dipakai.

image

Sampai juga di kantor dengan selamat

Sepedaan dadakan ternyata asik juga

image

7:56 start dari rumah

Pagi ini saya ditelpon teman SMP dan sekaligus teman SMA saya, katanya mau mengajak gowes.

Okelah saya langsung mandi dan bersiap siap, saya memakai sepeda milik anak lanang yang biasa dipakai ke sekolah. Awalnya saya ragu, terutama pada jok sepedanya yang keras, dan terbukti saya capek pantat panas gegara jok kurang empuk.

Jam 7:56 WIB kita berangkat dari rumah, tanpa tujuan pasti dan tanpa batasan waktu, lalu kami gowes ke utara arah Gunung Berjo, sampai di perempatan Tebon, kami ambil kiri masuk dusun Semingin lalu menyeberang sungai masuk ke dusun SOKONILO, lalu bablas ke utara ketemu jalan GODEAN, kami nyebrang jalan besar GODEAN lalu keutara melewati sawah sawah, yang penting ke utara dan tidak melewati jalan besar yang ramai.

Akhirnya kami sampai di wilayah dusun NJERING, baru kali ini saya lewat dusun ini kayaknya, ternyata ada bendungan dan ada embung, kami melewati sisi timur embung dan terus ke utara, akhirnya sampai di tugu penunjuk jalan yang ada di perempatan jalan, tugu ini berisi informasi arah beberapa dusun.

Kami bablas keutara, sampai akhirnya ketemu jalan Seyegan tembus BALANGAN, kami ambil kiri ke arah pefempatan BALANGAN, berhenti sebentar beli air minum.

Lanjut ke utara akhirnya sampai di BOK RENTENG, ini adalah saluran irigasi yang bentuknya unik. Setelah foto foto selfie pakai xiaomy, lanjut ke arah BLIGO dengan menyusuri aliran irigasi, ternyata asik juga, ada bendungan yang eksotik sebelum kami sampai di warung untuk istirahat ngeteh.

Setelah penat hilang, lanjut turun ke arah JEMBATAN GANTUNG DUWET, saya tahu disini biasanya ada penjual duren, buah kesukaan saya, benar juga ada yang jual, meskipun katanya ini duren dari wilayah PAKIS MAGELANG, karena duren KULONPROGO sudah habis musimnya.

Kami beli satu harganya 20.000, karena ada satu kamar yang busuk, akhirnya di korting jadi 15.000, mau nambah satu lagi sudah gak kuat.

Lanjut ke Jembatan Gantung, tentu saja selfi dulu, ternyata ramai juga lalu lintas motor yang lewat di jembatan ini. Memang hanya motor yang boleh lewat, mobil tidak bisa lewat karena ada portal. Jembatan ini di tengah sudah agak miring, mungkin tali kawat bajanya sudah kendor sebelah.

Habis selfi di jembatan lalu lanjut kebarat nyebrang jembatan lanjut ke arah kalibawang, lalu belok keselatan melalui jalan inspeksi saluran air, akhirnya sampai juga je jalan raya melewati penjual penjual buah naga lanjut keselatan arah pertigaan BORO, tanjakannya lumayan tinggi, kami nyerah nuntun sepeda.

Selanjutnya istirahat di POM BENSIN utara bangjo Dekso, lalu lanjut lagi nyebrang ke Sleman dan mampir warung di pertigaan pasar, timurnya SENDANG KREO.

Kami makan di warung, saya makan soto dan teh manis.

Lanjut lagi perjalanan pulang, kami sengaja lewat jalan jalan yang tidak ramai, sampai tembus ke sekitar SMP BINA UMAT, lanjut ke KALIDUREN, lalu kami pisah di PERTIGAAN barat BENDOSARI. Saya pulang ke timur, om Wiji lanjut keselatan.

Ternyata menyenangkan sekali naik sepeda santai dan njajah deso milang kori, melalui jalan jalan pedusunan.

Sayang hanya sepedanya memang perlu diberi jok yang empuk biar pantat tidak penat.

Bersepeda begini bikin paru paru saya terasa lapang dan enak, sebenarnya memang ini perimbangan dari naik motor ya dengan naik sepeda genjot.

image

Sampai Njering

image

image

Ternyata ada embungnya

image

Lewat tengah sawah sampai disini

image

Menuju BLIGO via saluran air

image

image

Mampir nge teh 200 meter sebelum jembatan gantung duwet

image

Makan duren dekat jembatan gantung

image

15.000 kenyang

image

Jembatan gantung, dulu saat sma pernah lewat sini

image

image

Prasasti jembatan

image

Nemu belik (mata air)

image

Tanjakan pertigaan BORO, nyerah deh

image

Pertigaan BORO

image

Warung makan pertigaan timur sendang KREO

image

Seger

image

12:52 sampai rumah

Es Duren Kombinasi Pak Kasdi, depan GOR SATRIA PURWOKERTO

Satu kata : uenakkk tenan.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Lezatnya Sate Bebek Pak Encus

image

Kali ini saya berkesempatan icip icip sate bebek untuk pertamakalinya dalam perjalanan dari jogja ke purwokerto.

Biasanya favorit saya adalah sate klathak, yaitu sate kambing.

Kalau saya tidak salah ingat, pada hari kamis, sate bebek ini tayang di tvone, dan membahas juga peternak bebeknya, dan alhamdulillah hari sabtu ini saya bisa menikmatinya.

Sebenarnya saya lebih senang bebek goreng dengan sambal hijau mentah. Tapi demi mencoba hal baru, maka saya pesan sate bebek.

Rasanya lumayan enak, tetapi karena saya penggemar sate kambing, maka tetap sate kambing model klathak saya lebih suka.

image

image

image

image

image

image

Berburu duren di Puncak Gajah, Kokap, Kulonprogo dengan koboys

image
Yess pagi ini jam 6:15 saya start dari rumah menuju Wates, jam 07:00 sampe juga di rumah Mas Tongsam di Wates. Sekitar 5 menit kemudian datang rombongam scrambler mas Gora, mas Irawan, dan mas Rendi, semuanya dari Bantul.

Lalu datang juga mas Faizz yang tadinya ragu ragu tidak mau ikut, akhirnya galau menyusul. Yang tidak jadi ikut adalah mas Guru Andy Suranto dan Demang Sugak.

Setelah sarapan cilok dan kopi, kami berenam berangkat menuju puncak Gajah melalui jalur kalibiru naik terus sampai akhirnya di pertigaan di bawah Puncak Gajah.

Alhamdulillah kami bisa foto foto sekitar 200 meterean sebelum puncak Gajah, ada tempat yang dirata untuk kedepan rencana dipakai parkiran wisata puncak Gajah.

Setelah poto poto kami lanjut ke parkiran puncak gajah yang sudah ada, lha kok ndilalah ada yang jual duren.

Jadilah kami pesta duren di puncak Gajah. Membelah 4 duren, yang 3 pahit, yang satu manis. Nyusss. Pokokke kenyang makan duren, sampai mabok.

Selanjutnya kami turun karena nanti mau jumatan di masjid dekat rumah mas Tongsam.

Lhooo kok disepanjang jalan menurun menuju waduk Sermo banyak pengepul duren dan manggis. Rupanya memang sudah mulai musim duren, padahal 3 bulan yang lalu kami lewat jalan ini, sepi tidak ada duren sebuahpun.

Harga duren lumayan murah, kisaran 25.000 sampai 30.000

Untuk manggis harganya cuma 7.000 per kg, tadi saya beli 5 kg sampai berat taa punggung saya.

Pokoknya puas banget angon scrambler dengan sedulur koboys hari ini. Turing itu ridak harus jauh dan pakai motor mahal.

Rencana bulan depan kita mau mruput mandi di KEDUNG PEDUT, dan semoga musim duren belum berakhir.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Bakpia Kemusuk 033, enak dan cocok untuk oleh oleh

image

Ternyata di dekat rumah saya ada produsen BAKPIA yang rasanya enak nendang. Sebenarnya saya sudah mendengar kabarnya agak lama, tapi baru hari minggu kemarin saya buktikan sendiri datang ke rumah produksi Bakpia ini, itupun karena mengantar Mas Zuhair, owner PCX yang minta ditunjukkan tempat bakpia di sekitar Museum HM Soeharto.

Betul sekali bahwa rumah produksi bakpia ini memang ada di barat parkiran Museum HM Soeharto, Presiden kedua RI yang lahir di Dusun KEMUSUK, sehingga tidak salah juga kalau bakpia ini diberi brand name BAKPIA KEMUSUK.

Satu box isinya 20 bakpia, harganya tidak sampai 25.000 kayaknya kemarin, karena saya kebetulan dibelikan satu box oleh mas Zuhair. Makasih lho mas.

Bakpia ini kulitnya tipis, isinya lembut sekali, dan manisnya juga pas.

Jadi monggo yang pesiar ke Museum HM Soeharto, jangan lupa beli oleh oleh BAKPIA KEMUSUK nomer 033, akpia asli buatan sekitar museum.

Kalau penduduk sekitar mau pesan bakpia, bisa datang langsung atau telp yang nomernya ada di bawah ini.

Dari museum HM Soeharto, kita bisa jalan kaki ke arah barat sekitar 30 meter, nanti ada gerbang masuk gang jalan dusun, maka masuk kiri, lalu maju 30 meteran juga, rumah produksinya ada di kanan jalan. Ada plakat BAKPIA KEMUSUK di tembok rumahnya. Sayangnya kemarin saya malah lupa tidak foto.

image

image

image

Jalan arah barat, sebelah baratnya Museum HM Soeharto, lihat gapura kiri jalan itu, masuk kiri lalu maju 30 m

image

Ini gerbang museum HM SOEHARTO

image

image

Koordinatnya : -7.791611,110.279666

Koordinat BAKPIA KEMUSUK :

-7.791611,110.279666

copy angka koordinat diatas, lalu buka google maps, lalu paste di PENCARIAN. lalu enter.

image

PCX hitam milik mas Zuhair, PCX merah si Brambang punya saya.

Museum HM SOEHARTO sendiri paling gampang diakses melalui jalan Wates KM 9, kalau dari ringroad Gamping, silahkan ke arah barat, sampai ketemu Lampu Bangjo (traffick light) pertama kali di pojokan kanan ada pos polisi polsek Pedes, ambil kanan (utara), maju ke utara 3 km, sampai Perempatan KEMUSUK, lalu belok kanan 150 m maka sampai Museum HM SOEHARTO.

Mari hadiri ultah pertama MCW di Waduk GajahMungkur

image

image

image

image

image

Mazda Club Wonogiri akan mengadakan hajatan pada tanggal 14 Februari 2016, yaitu acara ulang tahun pertamanya.

Monggo yang punya mobil mazda bisa gabung di acara ini, sekaligus plesiran dan nambah sedulur.

Selamat ulang tahun pertama untuk MCW. Semoga makin solid dan bermanfaat untuk member dan sesama. Amin.

%d bloggers like this: