Salah kaprah antena digital untuk menerima siaran TV Digital Teresterial.

Sering kali saya membaca status di facebook yang mempertanyakan dimana bisa beli antena digital? Tentu saja yang dimaksudkan oleh penanya adalah antena yang dipakai untuk menerima siaran TV digital teresterial DVB-T2.

Wajar saja pertanyaan pertanyaan seperti diatas muncul, jadi dalam tulisan kali ini saya coba untuk menjelaskan bahwa kita tidak perlu membeli antena baru untuk menangkap siaran tv digital DVB-T2, karena gelombang pembawa masih sama yaitu UHF, sedangkan antena TV kita dirumah adalah antena UHF.

Jadi kalau ada toko atau penjual online menawarkan antena digital, sebenarnya itu semacam dagelan saja.

Yang lebih diperlukan adalah punya tiang antena yang baik, tinggi, dan tidak goyang goyang, maka nanti tangkapan sinyal UHF dari pemancar akan lebih bisa ditangkap dengan baik oleh antena UHF yang letaknya lebih tinggi.

Semoga berguna.

Selamat datang KRESNA TV di Jogja

image

image

Hari ini jagat televisi teresterial analog di langit Jogja tambah satu lagi yang meramaikan, yaitu KRESNA TV yang memakai kanal 61 UHF.

Saat saya scan tv saya dirumah, ternyata ada 19 kanal analog yang mampir di tv saya
Dan 10 kanal digital.

Kualitas video setelah kanal 40 UHF keatas, kalau dirumah saya yang bagus hanya NET. itu karena powernya 30 KW. Untuk tv lain rata rata ada semutnya.

Jarak lurus rumah saya ke komplek pemancar tv di Patuk adalah kisaran 29 KM.

image

1. TVRI 6
2. TVRI 22
3. TRANSTV 24
4. MNC 26
5. INDOSIAR 28
6. ANTV 30
7. RCTI 32
8. SCTV 34
9. GLOBAL 36
10. TVONE 38
11. KOMPAS 40
12. METRO 42
13. ADITV 44
14. TRANS7 46
15. JOGJATV 48
16. INEWS MAGELANG 54
17. RTV 55
18. NET. 57
19. KRESNA 61

image

image

image

image

image

image

image

Selamat datang di jogja untuk CNN INDONESIA

image

Selamat datang untuk CNN Indonesia telah bersiaran DVB-T2 di area Jogja-Solo dan sekitarnya melalui MUX transcorp di Dusun Soka, Ngoro Oro, Patuk, Gunungkidul, menemani transtv, trans7 dan kompastv di MUX yang sama.

Yang lain bagaimana?

Mungkin kita harus menunggu keputusan Presiden RI untuk kepastian hal ini.

image

image

Akhirnya membeli TV yang include DVB-T2 receiver

image

Sore ini selepas pulang dari kantor, saya mampir ke toko elektronik At Takrib Putera di jalan Kyai Mojo Jogja guna membeli sebuah pesawat televisi.

Saya ingin membeli pesawat televisi LED yang ukuran 32 inch dan sudah include receiver DVB-T2. Karena selama ini saya nonton tv pakai monitor komputer yang saya beri TV TUNER, dan saat mau menonton tv digital harus pakai SET TOP BOX.

Sesampainya di toko, saya langsung disambut deretan pesawat televisi berbagai ukuran, merek dan teknologi. Setelah saya bilang bahwasaya mau beli TV yang bisa menangkap siaran digital, ternyata pramuniaga paham juga dan saya langsung diajak dan ditunjukkan kepada TV yang sudah include receiver DVB-T2, antara lain ada merk LG dikisaran 2,8 juta, ada merek Toshiba dikisaran 2,9 juta, dan yang paling saya lihat siap dan paham DVB-T2 adalah Samsung, karena ada semacam petunjuk bahwa sudah ready DVB-T2 pada display beberapa TV nya. Akhirnya saya ambil samsung UA 32J4100 yang harganya kisaran 3,7 ljuta.

Akhirnya TV ini saya bawa pulang dengan saya gendong seperti membawa tas punggung, karena saya hanya pakai motor saja ke toko ini.

Dengan memiliki TV ini maka saya sudah bisa melihat siaran TV Digital Teresterial DVB-T2 Free to Air, dirumah tanpa Set Top Box lagi.

Jadi bagi yang mau beli TV baru, pastikan saja yang sudah ada label DVB-T2. Meskipun saat ini siaran DVB-T2 belum jelas arah dan ketentuan hukumnya, tapi saya yakin pada hukum alam bahwa teknologi yang baik dan efisien pasti suatu saat akan dipakai juga. Jadi tidak ada salahnya membeli tv yg sudah include receiver DVB-T2.

Semoga berguna.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

menarik juga, DVB-T2 kedepannya mau ditarungkan dengan Analog

Mendapat kabar dari berbagai sumber, sepertinya akan ada titik terang tentang penyiaran tv digital free to air DVB-T2, yaitu besok siaran teresterial analog dan DVB-T2 akan dilakukan simulcast yaitu siaran bersama-sama, dan tidak ada CUT OFF siaran analog secara paksa, melainkan nanti akan dibiarkan SELEKSI ALAM yang akan dilakukan oleh para pemirsa TV, yaitu mirip-mirip dengan dulu saat ada telepon AMPS yang pakai gelombang FM dan kadang kemresek noise saat cuaca hujan lalu secara alami tergusur oleh GSM yang mempunya keunggulan dalam banyak hal daripada AMPS. Mungkin mirip juga dengan Siaran Radio AM yang akhirnya harus tersisih oleh jernihnya siaran radio FM Stereo.

 

Kumpulan transmisi TV difoto dari tower TVRI (foto by Mr. T. Udiyono)

Kumpulan transmisi TV difoto dari tower TVRI (foto by Mr. T. Udiyono)


Langkah simulcast dan non CUT OFF ini memang langkah jalan tengah yang paling masuk akal saat ini, biarkan grup grup besar yang masih ingin getol siaran analog dibiarkan, tapi tv tv baru yang ingin siaran pun bisa diwadahi dengan ikut mux pemancar DVB-T2, lebih efisien karena hanya tinggal menyetorkan content acara ke pemilik MUX, tanpa memikirkan maintenance pemancar dengan segala SDM yang ada di pemancar. Ini adalah pertarungan yang fair menurut saya.

Jadi besok masyarakat adalah penentu berkembangnya atau sebaliknya matinya siaran DVB-T2 dan sebaliknya juga untuk siaran Analog. Tetapi kalau prediksi saya nanti siaran analog hanya bisa bertahan 5 tahunan paling lama, yaitu menunggu tv yang belum ada tuner DVB-T2 nya rusak dan mati, dan saya yakin kalau pemancar DVB-T2 sudah siaran full dengan banyak content provider yang bergabung, maka akan banyak pesawat tv penerima yang dijual sudah ready DVB-T2 tuner.

Misal di Jogja ada MUX : Transcorp, tvOne, SCTV, GlobalTV, MetroTV dan TVRI Jogja, sehingga total ada 6 mux dan masing masing mengusung 8 sampai 10 content provider, maka artinya akan ada sekitar 60 tv DVB-T2 siap dinikmati oleh para pemirsa TV. Sedangkan analog di jogja tidak akan berkembang, hanya yang ada sekarang ini saja yaitu, transtv, tvOne, RCTI, MNC (yang kemungkinan jadi TPI lagi), GlobalTV, antv, indosiar, trans7, SCTV, MetroTV, ADITV, JogjaTV, RTV, RBTV, KompasTV, TVRI, NET, KresnaTV.

Secara alami orang akan memilih siaran dengan kualitas yang lebih sedap dipandang mata, dan dengan banyak pilihan daripada tetap pilih melihat siaran TV dari pemancar analog. Orang akan rela beli pesawat TV baru yang sudah ready tuner DVB-T2, atau beli STB untuk TV lama agar bisa menonton siaran tv digital gratis.

Nah kalau pemirsa pemancar analog sudah sangat sedikit, maka kenapa mesti mempertahankan operasional pemancar analog yang operasionalnya sangat tinggi, yaitu kisaran 60-100 juta hanya baru untuk bayar listrik saja.

Demikian sedikit penerawangan nasib pemancar TV teresterial digital DVB-T2. Kita tunggu saja apakah akan seperti itu atau tidak.

Anda medukung yang mana?

 

KPID DIY 2014-2017

kpid diy 2015 2a

kpid diy 2015 3a

 

kpid diy 2015 2b

 

kpid diy 2015 2c

 

kpid diy 2015 1a

 

kpid diy 2015 1b

 

kpid diy 2015 1c

NET. ANALOG siaran di Magelang

NET Magelang bersiaran Analog pada kanal frekuensi
58 UHF. Sejak hari KAMIS, 9 April 2015.

Seperti kita ketahui bahwa frekuensi JOGJA – JATENG adalah kanal frekuensi GENAP dimulai pada kanal 22 UHF dan berakhir pada kanal 48 UHF. Total ada 14 kanal UHF.

Sedangkan jatah Magelang adalah juga kanal GENAB dimulai dari 50 UHF sampai 62 UHF. Total ada 7 kanal.

NET. memakai kanal 58 UHF ini sudah benar. Lucunya kanal 56 UHF dipakai di Jogja oleh RTV. Sedangkan sebentar lagi di jogja akan tambah pemancar ANALOG pada frekuensi 55, 57 dan 61 UHF ini adalah kanal frekuensi dari PURWOREJO.

Daerah Magelang bahkan sampai Temanggung sebenarnya sudah tercover dari pemancar analog di Jogja yang rata-rata berkekuatan 20 KW. Namun karena memang sudah didaerah akhir dari pancaran, maka di Magelang kebanyakan memakai BOSTER untuk penguatan sinyal antena. Inilah yang menimbulkan masalah ketika tvOne digital hadir di Magelang pada kanal UHF genab maka bentrok dengan GlobalTV jogja yang sama kanalnya. Alhasil penduduk protes pada siaran tvOne digital di Magelang yang mengganggu penerimaan tv di rumahnya.

Begitupun juga dengan NET. di magelang yang meskipun sudah benar di frekuensi jatah magelang yaitu 58 UHF tapi menurut kabar valid yang sampai ke saya, tetap mengganggu penerimaan tv penduduk di Magelang. Padahal NET ini baru memancar dengan kekuatan 100 watt saja. Belum lagi besok kalau dari pemancar jogja misal di kanal 55, 57 atau 61 UHF sudah memancar, kemungkinan interferensi sangat besar karena kanalnya berdekatan yaitu 57 dan 58.

Urusan pembagian frekuensi memang tidak bisa main main, memang ini urusan negara. Negara yang mengatur daerah mana pakai frekuensi berapa.

Orang selalu meributkan frekuensi UHF untuk TV bahwa itu katanya frekuensi milik daerah. Tapi orang lupa bahwa seluler juga menguasai frekuensi bahkan secara nasional.

Yang rugi jika tv digital teresterial dibatalkan

Kalau penilaian saya. Yang rugi jika DTV
dibatalkan adalah sbb :
1. Rakyat hanya terbatas maksimal lihat 20
tv analog di daerah masing masing dg
kualitas beragam, dari bersemut hingga yg
cling. tergantung power pemancar analognya.
2. Pengusaha pembuat STB yang kadung
bikin STB.
3. SELULAR yg tidak jadi dapat tambahan
frekuensi untuk 4G LTE di kanal 50-62 UHF.
4. Rakyat lagi yg tidak jadi menikmati 4G LTE
murah.
5. Rakyat lagi yang mungkin akan merasakan
internet makin lelet karena jalur sdh sesak,
pemakai makin banyak.
6. Pemenang mux dtv rugi sudah invest
miliaran utk menggelar dtv
7. Content provider yang sudah EDP juga
rugi, cuma PHP doang. dan harapan
bersiaran musnah krn kanal analog sudah
full.
8. PH yang kehilangan pangsa pasar besar
jika dtv jalan.

EDP TV ANALOG : Blangkon TV dan Yogya Channel

image

Ini adalah rangkaian EDP oleh 12 calon TV ANALOG di KPID DIY untuk memperebutkan entah dua atau tiga kanal analog UHF tambahan, yaitu kanal 55, 57 dan 61.

Hari ini yang EDP adalah Blangkon TV dan YOGYA CHANNEL.

Tadi saya melihat paparannya untuk Blangkon TV katanya mau membuat tower TV di kota Jogja dengan ketinggian 75 meter. Acuannya adalah tinggi BTS di dekat tanah yang akan dibangun tower adalah 75 meter. Jadi dipandang tidak masalah.

Akan tetapi Blangkon TV mungkin belum tahu secara teknis bahwa kanal analog yang akan diperebutkan ini adalah untuk wilayah coverage Jogja dan Solo bahkan sampai Boyolali, Sragen, Karanganyar, Magelang, Muntilan dan Temanggung. Sehingga mau tidak mau harus memancar dari desa Ngoro-Oro, Patuk, Gunungkidul, tempat dimana semua pemancar TV analog dan digital area coverage Jogja-Solo berada.

Perkara tower dan gedungnya mau sewa kepada pemancar yang sudah ada atau mau beli tanah lalu dibangun sendiri, itu terserah saja. Tetapi sebagai gambaran bahwa untuk mendirikan pemancar sendiri dengan lengkap paling tidak habis 3-5 Milyar.

Sebagai gambaran harga tanah kisaran Rp. 750.000/meter.
Biaya pembuatan tower mungkin 500 juta sampai 1 Milyar.

Pemancar harusnya yang 20 KW dan sebaiknya jangan main main dengan pemancar yang belum terbukti kehandalannya. Untuk pemancar bisa 2-4 Milyar sendiri harganya.

Belum lagi membuat Gedung, beli Genset 200 KVA, beli UPS.

Jadi memang urusan membuat pemancar analog ini bukan hal yang ringan.

Ironi jika program siaran secara konten bagus dan menarik tetapi terkendala pemancar yang jelek sehingga diterima di pemirsa kualitasnya jelek banyak semut dan suara kemresek. Karena ini analog.

Sebenarnya saya salut pada paparan dari Blangkon TV karena menyasar budaya kepada generasi muda Jogja. Hanya saja perlu dipertimbangkan tentang letak pemancarnya.

Untuk Yogya Channel saya anggap biasa saja paparan EDP nya tadi tidak ada yang istimewa dari pada EDP tv sebelum sebelumnya.

Kedua tv analog ini tadi komitmen menjadi MURNI TV LOKAL.

Oke deh kita tunggu saja besok bagaimana hasil akhirnya. Karena masih ada EDP untuk 4 tv analog lagi pada hari Rabo dan Kamis besok.

TV digital bagaiman? Sudah ada 22 yang lolos EDP digital di KPID DIY, seharusnya ke 22 tv digital ini diwajibkan siaran dan sewa mux kepada 5 mux swasta. Harusnya era SIMULCAST sudah jalan, sehingga warga jogja yang ingin melihat tv berkualitas maka saya yakin warga akan rela membeli pesawat TV baru yang sudah include receiver DVB-T2 atau cukup beli STB kisaran harga Rp. 350.000

image

image

image

image

image

EDP TV ANALOG : KRESNA TV, Kompas TV, My Tv di KPID DIY

image

image

image

Hari ini kembali EDP untuk tv analog memperebutkan dua kanal tambahan. Total ada 12 calon pemancar tv analog yang EDP untuk memperebutkan 2 kanal tambahan analog.

Untuk hari ini ada
KompasTV
MY TV
KRESNA TV

Jadi sudah 6 tv ini yang edp dengan kemarin.

Sebenarnya belum jelas ada 3 kanal yang diperebutkan atau hanya dua. Tetapi secara teknis tidak bisa kanal 55, 56, 57 on air dalam satu area. Kanal 56 seharusnya untuk guard band.

Yang paling gigih adalah kresna tv karena ini tv angkatan ADI TV, nusa tv, tugu tv, kurang lebih sejak 2007-2008 berjuang untuk dapat IPP.

Kalau kompas tv saat ini sudah siaran nebeng kanal RBTV, juga sudah siaran digital DVB-T2di mux transcorp.

Ya sudah mari kita tunggu saja perkembangannya.

image

image

image

image

image

image

%d bloggers like this: