Sebelum terlanjur, MUX TX TV Digital harusnya satu lokasi

image

image

Pemancar TV DIGITAL TERESTERIAL DVB-T2 saat ini hampir sudah digelar semua di Pulau Jawa, meski kadang ada yang belum siaran full, masih siaran setengah power, siaran power full tapi powernya kecil, berhenti siaran karena bentrok dengan frekuensi tv uhf analog terdekat, dll.

Untuk wilayah jogja solo tidak ada masalah berarti dalam penempatan pemancar digital, karena semua ngikut di tower existing pemancar analog. Sehingga masyarakat yang mau nonton siaran tv digital tidak perlu merubah arah antenanya, tingga beli SET TOP BOX, lalu install dan cling tv digital sudah bisa dilihat.

Jadi bermasalah untuk daerah yang baru yaitu MAGELANG, PURWOREJO, PATI, BLORA, karena sebelumnya tidak ada tower tv uhf analog berdiri di kota kota tersebut.

Pada perkembangannya tv digital untuk mudahnya tinggal sewa ke tower radio yang towernya besar tinggi dn kuat. Tetapi ada juga yang bikin tower dan gedung baru untuk pemancar digitalnya, yang saya tahu adalah pemenang mux GLOBALTV yang mendirikan tower baru di sekitar kopeng untuk mengcover area Magelang.

Akan sangat menyusahkan penonton nantinya jika misal seperti saat ini pemancar digital globaltv ada di kopeng, tvone ada di pusat kota magelang, ada yang di telomoyo, dll. Bisa jadi nanti 5 mux letaknya menyebar. Dan pengalaman saya mencoba menangkap sinyal tv digital, arah antena rumah ke antena pemancar harus LINE OF SIGHT jika bergeser maka akan susah mendapat sinyal stabil.

Jadi mumpung belum fix benar, misal untuk magelang alangkah baiknya misal semua mux ada di tower milik GLOBALTV, sewa disini. Sehingga nanti semua masyarakat Magelang tidak bingung menentukan arah antena. Cukup ke satu titik arah kopeng yaitu ke tower GLOBALTV.

Saya kira perlu campur tangan pemerintah untuk “memaksa” kedua belah pihak yaitu pemilik tower dan penyewa untuk harus kerjasama semua pasang pemancar digital di tower globaltv kopeng. Karena bisa jadi nanti misal pihak pemilik tower tidak mau menyewakan. Bisa jadi nanti pemenang mux lainnya yang tidak mau sewa ke tower globaltv.

Pada era penyiaran digital ini, persaingan sesungguhnya adalah pada persaingan konten yaitu isi siaran. Karena semua sudah jernih dan bagus diterima di pesawat tv dirumah. Memang ada perbedaan ketika power pemancar tidak sama kekuatannya. Juga nanti ada perbedaan mau pakai SDTV yang hanya kisaran 4 mbps atau HDTV yang makan 8 mbps. Makin besar makin mahal sewa mux nya.

Demikianlah sekedar usulan saran saya demi kebaikan bersama, masyarakat dan pihak pemenang MUX.

Semoga berguna.

About these ads

Diskusi publik KPID DIY, aturan iklan kampanye di media siar

image

Hari ini saya memenuhi undangan DISKUSI PUBLIK dari KPDI DIY, yaitu tentang aturan kampanye di media siar.

image

image

image

image

Makin aneh saja nih mengatasi parkir liar di Jakarta

image

image

image

Setelah aksi cabut pentil ban dirasa tidak efektif. Sekarang dicoba dengan menjaring motor yang melanggar parkir dengan jaring lalu diderek dengan kaitan dari truk alat berat khusus. Lalu motor diangkut ke kantor polisi. Foto saya ambil di tvOne yang sedang live dari TKP.

Masalahnya seberapa kapasitas truk ini dalam sekali razia. Saya yakin besok besoknya masyarakat akan saling menginfokan keberadaan truk ini. Ingat truk ini berat dan besar. Akan sulit menerjang kemacetan Jakarta. Kecuali mungkin ada petugas yang menjaring dulu. Baru kemudian truk datang kapanpun untuk mengangkatnya.

Kalau saya sih idenya bagaimana jika motor yang melanggar di foto saja motor dan platnya juga foto dari kejauhan yang memperlihatkan motor tersebut melanggar parkir di wilayah mana yang bisa dikenali. Lalu upload foto tersebut di website khusus untuk pelanggar parkir, dilengkapi dengan tanggal, jam, dan denda yang tertampang di website ini. Lalu ada keterangan sudah dibayar dendanya atau belum. Satu motor bisa saja melanggar parkir berkali kali. Biarkan saja. Yang penting di foto dn di upload d web. Nanti kalau tidak juga di bayar dendanya. Maka saat pajak tahunan bisa dipaksa untuk bayar. Atau bisa enggak ya kerja sama dengan pihak bank. Nanti yang belum membayar akan di potong langsung ke rekening pemilik motor.

Bagi para pembeli motor bekas juga bisa cek dulu apakah motor yang mau dibeli ini melanggar parkir dan dendanya sudah dibayar atau belum. Mungkin dibuat aplikasi di android untuk melihat dan mengecek sekaligus jika mau membayar dendanya.

Untuk sekali pelanggaran parkir coba saja didenda 300.000. Kapokmu kapan :-D

Kalau melanggarnya berulang kali ya tinggal kalikan saja.

Jovan jalan jalan ke Semarang

image

Kebetulan ada kerjaan mengantar radiator genset dari kantor jogja ke kantor semarang. Yo wis daripada susah susah mencari mobil untuk mengangkutnya, maka saya coba angkut pakai Jovan.

Inilah hebatnya jovan. Kursi penumpang dibelakang kokpit bisa dilipat rebah. Bahkan bisa dicopot lepas dikeluarkan dari dalam mobil. Sehingga radiator genset yang besar lebar dan tinggi bisa masuk pas ke jovan. Tinggal menyisakan kursi pilot dan copilot saja.

Perjalanan jovan dimulai dari kantor di jogja menuju rumah saya. Dengan jarak tempuh 38KM. Sebelumnya saya isi bensin di POM SEDAYU sebanyak Rp. 220.000. Dan Hidrogen Generator saya isi Rp. 7.000 pertamax.

Perjalanan dilanjut setelah isya dari rumah saya menuju semarang via Godean lalu Seyegan lalu Tempel lalu Muntilan lalu Magelang lalu Ambarawa lalu Ungaran lalu Gombel lalu Gunungpati. Jarak yang ditempuh 116 KM. Berangkat jam 19:15 dan sampai Gunungpati jam 23:00.

Paginya hari Kamis tanggal 5 Des 2013 kami berangkat pulang jam 12:15 dari Gunungpati via Sekaran tembus Ungaran. Nah masalah muncul, ternyata jalanan macet parah ada pengecoran di sisi timur jalan. Benar benar ujian jadi pilot jovan. Dan alhamdulillah bisa melewati ujian dengan selamat. Karena bisa bayangkan jadi pilot newbie itu paling sulit ujian macet di jalan nanjak. Dan depannya truk truk besar.

AC jovan terpaksa saya off karena suhu sudah hampir 3/4 mendekati merah. Padahal dari start awal saya ON kan terus AC JOVAN.

Sampai Bawen baru jalanan lancar. Jovan ambil arah Salatiga lalu Boyolali. Jovan minum di Pom Boyolali sebelum hotel Ayu. Minumnya Rp. 100.000. Dan tabung Hidrogen Generator saya isi Rp. 5.000.

Jovan mampir silaturahmi ke sedulur koboys yaitu kang Karto Ngali. Saya sengaja mau melihat lihat ternak ayam jowo super miliknya.

Setelah itu langsung bablas via Tulung Klaten tembus Bendogantungan. Lalu jovan ambil arah ke Cawas untuk nanti naik langsung ke Gunungkidul arah Langgeran. Jalannya nanjak extrim kisaran 45 derajat dengan jarak hampir 500 meter nanjak terus. Alhamdulillah jovan kuat melaluinya.

Jam 18:00 tepat jovan masuk kantor dimana awal start. Jarak tempuh 120 KM.

TOTAL JARAK TEMPUH adalah :
38+116+120 = 274 KM

Bensin masih bisa saya pakai untuk pulang kerumah, lalu ngantor, lalu pulang ke rumah lagi, sehingga 38+38+38 = 114 KM

Totalnya 274+114 = 388 KM

Jadi konsumsi bensinnya adalah Rp. 320.000 bisa menempuh 388 KM

49 liter untuk 388 KM = 8km/L kok boros.

Semoga speedometernya presisi.

image

image

image

image

image

image

tvOne dan Antv digital DVB-T2, diterima baik sekali di Kota Wates

Hari sabtu 19 Januari 2013, pas libur saya gunakan waktu saya untuk melakukan test penerimaan televisi digital teresterial di Kota Wates, saya pilih Wates karena dari pemancar di Jogja, daerah Wates ini merupakan daerah yang boleh dikatakan paling barat, meski kebarat lagi juga masih tercover, nanti kalau ada kesempatan lagi saya akan test di daerah limit perbatasan KulonProgo dengan Purworejo.

screencapture pas saya di kota Wates.

screencapture pas saya di kota Wates.

Line of sight Pemancar ke kota Wates, kira-kira 40KM

garis lurus Pemancar tvOne ke kota Wates, kira-kira 40KM

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

Purworejo sudah ada pemancar tv digital sendiri, karena sinyal dari pemancar di Jogja tidak bisa menembus pegunungan Menoreh yang membujur dari utara keselatan di daerah KulonProgo. Sebenarnya di Jogja pun ada beberapa tempat yang kesulitas dalam penerimaan tv dari pemancar di Jogja (Bukit Patuk Gunungkidul), karena ada beberapa bukit juga, seperti daerah SEDAYU Bantul keselatan yang ada perbukitan, sehingga dibagian barat bukit agak kesulitan untuk mendapat sinyal televisi.

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

Terlihat untuk tvOne dan antv diatas, hampir sama parameter kualitas dan intensitas, karena memang satu pemancar digital di tower tvOne.

Untuk transTV dan Trans7 dibawah ini juga demikian, hampir sama parameter kualitas dan intensitasnya, karena untuk pemancar tv digitalnya di tower Transtv.

wates5

wates6

Untuk kota Wates, jika ditarik garis lurus dari pemancar tvOne di Gunungkidul, kurang lebih jaraknya adalah 40KM. Hasil penerimaan sangat baik, bahkan jauh lebih baik dari rumah saya di daerah utara Sedayu Bantul yang kurang lebih hanya 25 Km dari pemancar.

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

Intinya di kota Wates, baik penerimaan tv analog maupun tv digital, semuanya baik hasilnya. Terimakasih kepada mas Adhani pemilik Toko Elektronik KARUNIA BARU, yang sudah mengijinkan tempatnya dan tv serta antenanya untuk saya pakai melakukan percobaan penerimaan tv digital di Kota Wates. Letak toko ini dari terminal Wates ambil kanan jika dari arah jojga, kira kira 300 meter, di kiri jalan.

Besok jika STB DVB-T2 (tuner tv digital) sudah dijual bebas, untuk warga Kulonprogo silahkan beli di toko Karunia Baru. Cepetan kulakan ya mas Adhani :-D

ini lho bedanya antara penerima TV analog, dengan penerima TV digital DVB-T2

tif2

Ini TV DIGITAL lho meskipun layarnya TABUNG

Dari pengalaman saya bincang bincang dengan beberapa orang, hampir 100% mereka tahunya kalau TV yang tipis misal LCD atau LED itu adalah TV DIGITAL. Mungkin bisa benar jika TV LCD itu sudah include tuner DVB-T2. Tapi kalau belum ada tuner DVB-T2 ya belum bisa disebut tv penerima digital teresterial.

Foto paling atas malah bisa disebut TV DIGITAL, walaupun itu layarnya masih TABUNG yang besar dan memakan tempat. Karena tv tabung diatas sudah saya beri STB DVB-T2 yang saya letakkan diatas  tv tabung.

Sedangkan foto dibawah ini, meskipun ini adalah monitor LCD, yang aslinya adalah monitor komputer di rumah saya, tapi saya belikan tuner tv ANALOG merk gadmei dengan harga Rp. 155.000,- Jadilah layar LCD ini menjadi penerima TV Analog.

LCD View Sonic diberi receiver tv analog merk Gadmei

Ini TV ANALOG lho. layar LCD View Sonic diberi receiver tv analog merk Gadmei

TV Tuner ANALOG Gadmei

TV Tuner ANALOG Gadmei

Untuk instalasi TV TUNER ANALOG Gadmei ini, intinya tv tuner ada di antara monitor dan komputer.

Instalasi kabel dan antena dilihat dari atas

Instalasi kabel dan antena dilihat dari atas

lebih jelas lagi

lebih jelas lagi

Perbandingan penerimaan tv digital vs analog dg antena dan tv yg sama di rumah saya

Set Top Box DVB-T2 difoto dari sisi bawah dan belakang

Set Top Box DVB-T2 difoto dari sisi bawah dan belakang

Alhamdulillah akhirnya bisa ngetest lagi penerimaan siaran DVB-T2, tv digital teresterial di rumah saya. Kali ini saya memakai STB (set top box) milik kantor saya. Dan Ajaibnya sekarang tvOne dan Antv bisa diterima di rumah saya, padahal dulu saat pakai STB HD2000 sama sekali tidak bisa menangkap tvOne dan Antv digital dirumah saya. Mungkin STB yang ini lebih peka.

Saya memakai tv tabung milik adik saya, cara instalasi STB sudah pernah saya tulis, sehingga tidak perlu saya tulis ulang. Dalam tulisan kali ini saya lebih mengajak untuk membadingkan hasil penerimaan siaran digital dengan siaran analog. Perlu diperhatikan bahwa TV tabung dan antena yang dipakai adalah sama. Sehingga bisa dibandingkan dengan adil.

Saat dihidupkan pertama kalinya, maka otomatis akan ada pilihan bahasa dan teritori negara, pilih saja INDONESIA, nanti selanjutnya akan scaning otomatis seperti foto dibawah ini.

STB DVB-T2 sudah dipasang di TV Tabung

STB DVB-T2 (diatas TV tabung), sudah disambung dengan TV Tabung

Ditunggu saja sampai selesai seluruh frekuensi UHF ter scan, dan hasilnya nanti tv digital yang tertangkap akan terpampang di daftar seperti foto dibawah ini. Sebenarnya untuk tvOne DIGITAL dan tvOne DIGITAL Jogja itu isinya sama saja, memang sengaja saya isi dua untuk tvOne, saya beri tambahan tvOne DIGITAL Jogja, agar enak saja untuk melihat bahwa ini berasal dari pemancar di jogja. Karena tv digital ada juga pemancarnya di Magelang dan Purworejo, ada kemungkinan untuk daerah diperbatasan, besok bisa dapat dari tvone jogja, atau bisa juga dari pemancar digital di Magelang atau Purworejo. Oh iya satu pemancar ini bandwidth nya bisa 40 MBPS, jika satu konten tv digital SDTV (standard TV) hanya butuh 4MBPS, maka untuk 40 MBPS dibagi 4 MBPS, maka akan bisa diisi 10 konten tv digital, sedangkan saat ini untuk pemancar tvOne digital di Jogja baru diisi 3 konten tv digital, sedangkan pemancar digital TRANSTV baru diisi dua konten tv digital, yaitu transtv digital dan trans7 digital. Sebagaimana bisa dilihat pada foto dibawah ini.

Daftar TV siaran digital yang tertangkap di rumah saya

Daftar TV siaran digital yang tertangkap di rumah saya

Foto dibawah ini contoh saat kita pilih kanal pertama 001 seperti foto diatas. Kebetulan tadi pas saya foto pas menkoinfo sedang diwawancari reporter tvOne saat banjir di Jakarta.

tvOne Digital Jogja

tvOne Digital Jogja

tif2

tvOne digital Jogja :-D

tvOne digital Jogja :-D

Foto dibawah ini adalah hasil penerimaan siaran ANALOG, dapat dilihat dengan jelas bahwa siaran analog mengalami penurunan kualitas jika semakin jauh dari pemancar. Makin jauh dari pemancar makin banyak semutnya :-D.

Jika tv digital maka pada jarak tertentu jika sinyal dari pemancar sudah tidak sampai, maka di daerah tersebut tidak bakal bisa menerima siaran digital. alias menjadi daerah blank spot.

tvOne Jogja yang analog

tvOne Jogja yang analog diterima di rumah saya

Kalau dirumah saya, entah mungkin posisi antena yang tidak bersahabat dengan antv analog, maka hasilnya yang penerimaan tv analog, jelek sekali, berbeda dengan penerimaan siaran tv digital antv yang jernih. Ingat lho ini masih memakai tv tabung dan antena yang sama.

ANTV Digital Jogja

ANTV Digital Jogja diterima di rumah saya

ANTV Analog Jogja

ANTV Analog Jogja diterima di rumah saya

Untuk penerimaan tv analog yang TransTV saya lupa tidak memfotonya, tapi kualitas siaran analog TransTV di rumah saya lumayan baik kok. Tapi tetap saja lebih jernih yang digital seperti foto dibawah ini.

TrnasTV digital di Jogja

TransTV digital di Jogja

Trans7 digital Jogja

Trans7 digital Jogja

Trans7 Analog Jogja

Trans7 Analog Jogja

Sayangnya saat ini belum banyak pedagang yang tahu peluang jualan STB DVB-T2 ini, karena kalau mau jualan, tentu lagu, karena sudah ada tv digital siaran, khusunya di jogja saat ini ada 4 aygn pasti siaran digital bisa diterima, yaitu tvOne, antv, transtv, dan trans7. Nanti tentu akan disusul oleh tv-tv yang lain.

Yang pasti jangn sampai 2014 saat ada piala dunia sepakbola, anda masih melihatnya dengan tv analog, pastikan besok pakai tv digital, beli tv LCD yang besar tinggal ditambah STB DVB-T2 ini, maka sudah bisa menonton siaran tv digital yang jernih dan indah :-D

indonesia butuh STB DVB-T2 berapa banyak?

Data penduduk indonesia saat ini adalah 255 juta.

Jika tiap rumah rata-rata kita misalkan berisi 5 orang, artinya 255.000.000 dibagi 5

= 51 juta rumah

Jika kita misalkan tiap rumah hanya punya satu pesawat televisi maka untuk seluruh indonesia akan butuh 51 juta SET TOP BOX DVB-T2.

Jika harga STB saat ini kisaran Rp. 200.000 per buah,

maka 51.000.000 X 200.000 = Rp. 10.200.000.000.000

Ada uang sebanyak diatas hanya untuk STB saja.

 

Catatan :

ini hanyalah itung-itungan kasar saja, dan saya tidak melakukan menelitian apapun.

TV mu dirumah digital belum?

Sering kali kita rancu dan bingung tentang tv digital.

Apakah tv penerima saya dirumah sudah digital?

===================================================================

oh TV ku kan tv digital, sudah teknologi LED.

TV ku juga sudah digital, kan sudah LCD

TV ku juga sudah digital, kan TV Plasma

ini tv ku digital lho, kan ada di HP dan di tabletku android

wah TV ku belum digital nih, kan masih tv TABUNG yang bentuknya kotak besar.

===================================================================

CRT (tabung), LED, LCD, Plasma, adalah teknologi layar TV. Layar tv sebenarnya NETRAL saja posisinya.

Memang ada SDTV alias standard tv yang rasionya adalah 4:3 (rasio panjang X lebar)

dan ada layar TV dengan rasio 16:9, yang support HDTV, jadi TVnya lebih panjang.

Boleh jadi saya hanya punya TV tabung, tapi bisa juga anda punya LED, LCD atau plasma TV dirumah. Semua itu adalah LAYAR TV, digital atau bukan adalah tergantung masukannya.

Saya bisa nonton tv digital satelit, dengan memakai receiver atau STB DVB-S/S2.

saya bisa nonton tv digital teresterial, dengan memakai receiver atau STB DVB-T2

saya bisa menonton tv digital kabel, dengan memakai receiver atau STB DVB-C (cable)

ingat saya hanya punya satu  TV lama model tabung yang bentuknya kotak besar.

Tambahan, untuk yang nonton tv di HP atau di tablet android, semua itu masih receiver analog. Belum saya jumpai HP atau tablet android dijual di indonesia yang sudah include receiver DVB-T2. (inspirasi dari kang Triyanto Banyumasan)

karena saat ini tv digital teresterial sedang tahap memulai siarannya, maka jangan heran jika besok ada produsen TV yang melengkapi TV nya dengan receiver abalog dan receiver DVB-T2 sekaligus, dan untuk saat ini saya sarankan dengan sangat, jika beli TV, tolong beli  yang sudah ada receiver DVB-T2 nya. Biar langsung bisa melihat TV digital teresterial DVB-T2, dan jika misal ada tv yang belum siaran digital, anda masih bisa melihatnya dengan merubah ke pilihan receiver analog.

Semoga bermanfaat.

#bisa jadi saya salah dalam definisi dll, mohon koreksinya, karena saya juga sedang belajar.

apa sih bedanya tv digital teresterial dengan tv satelit?

Tulisan ringan ini semoga bisa menambah dan mencerahkan bagi yang belum begitu paham tentang tv digital teresterial DVB-T2 yang free to air, alias gratis diterima oleh pemirsa.

TV digital DVB-T2 adalah siaran tv yang dipancarkan dari pemancar di darat (bukan dari satelit), contoh di jogja pemancar tv ada di bukit Patuk Gunung Kidul, dipilih tempat ini karena letaknya yang tinggi dan bisa menjangkau Jogja dan Solo sekaligus, meskipun sudah di tempat yang tinggi, tetap masih ditambah tower pemancar setinggi 80 meter sampai 150 meter, agar siaran bisa melewati halangan gedung dan pegunungan kecil yang mungkin menghalangi sampai ke rumah-rumah pemirsa.

Saat ini pemancar tv masih analog, yaitu satu jalur dipakai sendirian. Tetapi juga sudah ada yang bersiaran digital DVB-T2 seperti tvOne dan antv. Siaran digital ini memungkinkan satu jalur bisa dibagi-bagi lagi sehingga bisa dipakai siaran bareng 5-20 tv sekaligus, tergantung bitratenya.

Sekarang beralih dulu ke tv satelit, tv satelit ini sudah digital, yaitu standard DVB-S/S2 (digital video broadcasting Satelite/2). Jadi sebenarnya masih saudara antara DVB-S/S2 dengan DVB-T2 (digital video broadcasting Teresterial2). Lantas dimana bedanya?

Sebenarnya bedanya hanya pada antena penerimanya saja.

Untuk DVB-S/S2 siarannya dari satelit langsung ditangkap parabola, sebagai contoh adalah jika anda langganan indovision, fungsi parabola kecil diluar adalah untuk menampung sinyal dari satelit yang ada di atas sana. Setelah itu sinyal yang ditangkap parabola disalurkan ke STB (set top box) DVB-S/S2, STB DVB-S/S2 ini akan dibagikan kepada pelanggan yang berlangganan tv satelit, karena berlangganan atau berbayar atau disebut pay TV, maka dalam STB satelit ini ada smart card untuk mengontrol penggunaan bagi pelanggan. Nah dari STB satelit ini, lalu disalurkan ke TV kita. Karena penyiaran digital satelit sudah cukup lama, maka sudah banyak STB DVB-S/S2 dijual dipasaran, yang  dikenal dengan RECEIVER SATELIT, kalau yang ini biasanya untuk melihat siaran dari satelit yang gratis. Karena sebenarnya kita sudah dari dulu bisa nonton tvOne yang dari satelit, juga tv-tv lainnya secara gratis.

Nah untuk DVB-T2, siarannya dari pemancar di gunung, bukan dari satelit, inilah bedanya. Berhubung DVB-T2 tetap memakai frekuensi UHF, maka antena dirumah-rumah kita tetap bisa dipakai (contoh antena model PF), antena inilah fungsinya seperti antena parabola pada tv satelit. Dari antena yang biasanya kita pakai ini, sinyal kita teruskan ke STB teresterial DVB-T2, jadi kalau satelit pakai STB DVB-S/S2, kalau teresterial pakai STB DVB-T2, lalu dari STB DVB-T2 ini diberikan ke tv lama kita, jadi tidak perlu ganti tv baru. Cukup ditambahi STB DVB-T2 maka sudah bisa melihat tv digital teresterial dari pemancar di gunung sebagaimana biasa, dan tetap gratis.

Jadi perbedaan tv satelit dengan tv pemancar yang ada di gunung, hanya pada STB nya saja. Dan berhubung tv satelit ekbanyakan berbayar, maka pada STB DVB-S/S2 diberi smart card untuk mengontrol pelanggan. Pada STB DVB-T2 pun sebenarnya bisa diberikan smart card, contoh yang sudah berjalan di Jakarta adalah next media, ini adalah tv pemancar digital teresterial yang berbayar.

Jadi kita hanya perlu tambahan SET TOP BOX (STB) DVB-T2 saja untuk menangkap siaran tv Digital teresterial. Antena dan tv lama tetap bisa dipakai.

Demikian semoga bermanfaat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.301 pengikut lainnya.