DVB-T2 belum jalan sehat, sudah disusul DVB-T2 Lite

Dunia penyiaran televisi teresterial saat ini sedang menjalankan standar DVB-T2 untuk penyiaran digital teresterial free to air alias gratis. Namun jalannya masih tertatih-tatih karena beberapa alasan teknis dan non teknis. Dengan permasalahan seperti itu, malah sekarang ada standar baru lagi pengembangan dari DVB-T2 yaitu DVB-T2 Lite. Maka yang DVB-T2 sekarang bisa kita disebut dengan DVB-T2 Base.

Saya sendiri masih mempelajari tentang teknologi DVB-T2 base dan DVB-T2 Lite ini, sehingga pemahaman saya juga belum bisa merata, menyeluruh dan menguasai secara baik. Jadi mohon maaf jika mungkin terjadi kesalahan informasi.

Sebenarnya ada pangsa pasar besar sekali penonton televisi yang dilewatkan oleh televisi digital teresterial saat ini, yaitu para pengguna HP layar lebar, para pengguna komputer, laptop, dan tablet. Karena saat ini DVB-T2 base hanya menyasar ke pemirsa tv rumahan memakai antena khusus, misal antena UHF diluar rumah yang dipasang pada tiang yang tinggi. Pada tempat tempat yang jauh dari pemanacar digital, menonton tv digital teresterial tanpa antena yang tinggi adalah mustahil.

Pemahaman saya untuk DVB-T2 Lite adalah untuk menyasar yang pangsa pasar penonton yang terlewat tadi, jadi orang akan begitu mudahnya kelak menonton tv digital teresterial dengan standar DVB-T2 Lite ini pada HP, tablet, laptop dan PC dengan diberi penerima STB USB kecil, atau mungkin laptop dan PC yang include receiver DVB-T2 Lite. Besok pada setiap HP terutama HP layar lebar apapun OS nya baik itu android, ios, bb, windows, semuanya sudah include receiver DVB-T2 Lite, sehingga orang bisa melihat tv digital teresterial dimanapun kapanpun melalui HP atau tabletnya dengan kualitas siaran yang jernih.

Jika sekarang dirata-rata tiap rumah hanya ada 1 pesawat TV, maka bisa dibayangkan kelak setiap orang menjadi punya satu pesawat penerima tv digital teresterial. Tiap orang akan bisa menonton acara televisi gratis sesuai kesukaan masing-masing. Berbeda dengan saat ini yang satu rumah hanya punya satu pesawat TV maka yang menguasai remote yang menang. Misal ibu menonton sinetron, terpaksa bapak yang suka sepakbola mengalah. Misal anak-anak menonton kartun, terpaksa ayah dan ibunya ikut menonton. Kelak tiap orang yang punya HP/tablet/laptop akan bisa melihat tv yang berbeda dalam waktu yang sama melalui perangkat masing-masing.

Ini adalah pangsa pasar besar yang sangat menjanjikan, dan saya yakin kelak teknologi ini akan terwujud.

Lalu bagaimana dengan DVB-T2 base? Sepertinya tetap berjalan, dan hebatnya DVB-T2 Lite ini bisa siaran bareng DVB-T2 Base dengan pemancar dan frekuensi yang sama.

Saya sampai saat ini masih bermimpi tentang tabelet android yang sudah ada receiver  DVB-T2, tetapi setahu saya belum juga ada yang dijual di Jogja. Bagaimanapun akan susah menangkap sinyal DVB-T2 base dengan tablet tanpa antena yang tinggi, karena dari pengalaman saya mencoba STB DVB-T2 base di jarak yang jauh dari pemancar, ternyata susah untuk mendapatkan sinyal, antena harus tinggi dipasang di tiang, dan harus FIX. Inilah mungkin alasannya percuma jika dicangkokkan receiver DVB-T2 Base kedalam laptop/tablet/HP. Malah menjadi tidak ekonomis, dan tidak berguna.

Sebenarnya ada teknologi DVB-H (handheld) untuk mobile. Tapi saya yakin akan susah berkembang, masalah utamanya adalah ketersediaan FREKUENSI. Pakai frekuensi mana lagi? kalau DVB-T2 Base dan Lite sudah jelas pakai UHF yang selama ini dipakai oleh pemancar TV analog.

Teknologi memang terus berkelanjutan, DVB-T2 Lite saya yakin akan diterima industri,  pangsa pasar yang besar adalah alasan utamanya, saya yakin akan memacu semua pihak untuk segera menjalankan teknologi DVB-T2 Lite ini, baik itu produsen HP/tablet/laptop/PC dan asesoris STB USB. Terlebih pasar yaitu para pemirsa TV yang tentu akan suka menonton TV digital jernih di layar HP/tablet/laptop atau PC masing-masing.

Jadi mari kita tunggu saja.

Semoga berguna.

Tata cara nonton tv dual mode analog dan digital DVB-T2 di rumah

image

Saya telah beberapa saat punya tv tuner analog untuk di cangkokkan ke PC dirumah, sehingga saya tidak perlu beli PESAWAT TV untuk melihat siaran tv analog dari pemancar teresterial yang berada di Patuk Gunungkidul letaknya.

image

Lalu saya juga ada STB dari kantor untuk memantau siaran tv digital teresterial DVB-T2 di rumah saya, dulu saya pasang di tv biasa di rumah orang tua saya yang letaknya bersebelahan saja. Jadi kalau mau pantau siaran digital harus lihat di tv ortu. Kemarin begitu karena di monitor komputer tidak ada colokan RCA untuk audio dan video.

image

Tetapi beberapa hari ini, anak lanang saya sibuk bikin antena tv, saya biarkan saja anak punya kreatifitas. Dan terakhir dia tanya soal STB, lalu saya kasih tahu cara pasangnya.

Jadi malah kepikiran mencoba pasang di tv tuner analog gadmei yang ternyata ada colokan RCA audio video input di sisi kiri. Dan saya lihat juga di STB ada antena LOOP, saya pikir antena bisa di loop ke input antena lain, dalam hal ini masuk ke input antena yang receiver analog gadmei, dan ternyata berhasil.

Jadi saat ini jadinya layar komputer saya bisa dual mode. Bisa untuk nonton siaran analog, bisa untuk nonton siaran digital DVB-T2, tinggal ganti source nya saja.

Lumayan juga saat ini bisa menikmati siaran digital dari 3 mux
1. Mux GLOBAL : berisi mnc, global dan rcti
2. Mux transcorp : berisi transtv, trans7, dan kompastv
3. Mux TVRI berisi : tvri nasional, tvri jogja

Jadi kalau mau nonton selain diatas harus pindah ke mode analog. Apakah ribet? Tidak juga.

Untuk tv biasa bagaimana? Mudah kok, pasang STB sebagaimana sudah pernah saya tulis. Lalu langkah kedua tinggal sambung saja loop out dari STB ke input antena di TV. Jadi deh dual mode.

image

image

image

Menteri Kominfo dan pengaruhnya pada perkembangan TV digital

Pengumuman KABINET oleh Presiden Jokowi, bagi saya dan kami-kami yang bekerja di bidang TELEVISI, tentu saja sosok menteri kominfo (Komunikasi dan Informatika) adalah yang paling ditunggu dan penting untuk dicermati.

Apalagi bagi saya yang bekerja di Pemancar TV Analog, sebagaimana untuk diketahui bahwa saat ini pemancar TV teresterial masih menggunakan teknologi analog sejak saat pertama kali TVRI bersiaran pertama kalinya hingga saat ini, memang pemancar TV Digital DVB-T2 saat ini juga sudah ada yang bersiaran, tapi kendalanya adalah peraturan yang belum pasti.

100_5000

Menarik bahwa Menteri kominfo saat ini adalah Bapak Rudiantara  adalah orang yang sudah lama malang melintang di industri telekomunikasi, yaitu pernah berkarir di Indosat, Telkomsel, Excelcomindo (kini XL Axiata) dan Telkom.

Lalu apa hubungannya dengan dunia pemancar Televisi analog?

Ceritanya adalah sebagai berikut. Saat ini dalam dunia penyiaran televisi, sudah ada standar baru, yaitu DVB-T2, sebagai gambaran mudahnya, jika pemancar tv analog, maka satu kanal frekuensi, hanya bisa dipakai untuk siaran satu pemancar TV, contoh misal TVRI Jogja, dipancarkan melalui kanal 22 UHF. Sedangkan jika memakai teknologi pemancar digital DVB-T2, maka satu kanal frekuensi yang tadinya hanya bisa dipakai oleh satu TV, maka dengan DVB-T2 akan bisa dipakai satu atau lebih TV siaran bareng. MIsal pemancarnya punya bandwidth 40 mbps, sedang satu TV gital butuh 4 mbps, maka dalam satu pemancar DVB-T2 ini bisa untuk siaran 10 tv digital sekaligus, yaitu 4 mbps X 10 tv = 40 mbps,

Saat ini tiap wilayah area layanan setahu saya diberi 6 kanal frekuensi untuk penyiaran TV Digital, jadi paling tidak-tiap area akan ada 6 kanal X 10 content/kanal = 60 tv digital siaran bareng dalam satu wilayah. Lalu kanal frekuensi yang ditinggalkan oleh tv analog bagaimana nasibnya?

Inilah nasib kanal frekuensi yang ditinggal oleh pemancar tv analog, yaitu nantinya kanal frekuensi yang merupakan sumber daya alam terbatas ini akan bisa dipakai untuk komunikasi data kecepatan tinggi, yang tampak didepan mata adalah LTE pada 700 Mhz, atau nanti malah sudah langsung dipakai untuk 5G.

Jadi inilah menariknya bagi saya ketika menkoinfo adalah orang dari SELULAR, maka prediksi saya justru perkembangan pemancar TV digital bakal mulus dan dipercepat, karena sang menteri tahu pasti bahwa kanal frekuensi saat ini yang dimiliki oleh Selular sudah bisa dikatakan kurang, jalan satu satunya yang masuk akal adalah mendorong secepat mungkin penyiaran tv digital digelar diseluruh nusantara, lalu pemancar tv analog segera di CUT OFF (mati) dan kanal frekuensi UHF yang ditinggalkan oleh pemancar tv analog bisa segera dipakai untuk komunikasi data oleh selular.

Analisa saya ini bisa banget untuk meleset, jadi marilah kita cermati saja sepak terjang kominfo yang baru ini dalam perkembangan tv digital DVB-T2 dan perkembangan komunikasi data kecepatan tinggi. Karen keduanya memang sangat dibutuhkan saat ini. Hampir tiap orang saat ini memakai smartphone android, dan itu memerlukan data dan jalur data yang lancar dan cepat.

Lantas bagaimana nasib ISP? Kalau kang Onno W Purbo jadi kominfo mungkin nasibnya akan cerah. Jadi memang sosok orang dipiih jadi menteri tentu akan berimbas pada kebijakan kebijakan pada bidang yang selama ini digelutinya.

Piala Dunia 2014 Brasil hanya di FTA UHF ANALOG

Dulu saya pernah menulis bahwa salah satu pemicu terbaik meluasnya FTA UHF DIGITAL adalah siaran piala dunia 2014 ini. Tetapi memang ternyata hal itu meleset karena siaran sepakbola piala dunia hanya disiarkan melalui FTA ( free to air) UHF ANALOG saja.

image

Yang mau melihat tayangan digital bahkan sampai kualitas HD, saran saya cuma satu, via tv satelit VIVA+.

image

Berbagai kendala tv digital memang sampai saat ini masih banyak. Dari segi regulasi, teknis pemancar dll.

Jadi monggo yang mau melihat piala dunia FTA ANALOG UHF, antenanya mungkin bisa ditinggikan, perarahan cari yang terbaik untuk tvOne atau antv, penerimaan tv yang lain jelek tidak apa.
Kita syukuri saja bahwa untung masih bisa lihat piala dunia 2014 dengan gratis.

Mungkin saja piala dunia 2018 besok sudah tidak ada lagi siaran gratis. Harus lewat berbayar semua.

Oke deh saya jagoin JERMAN, anda jagoin mana?

Daftar Stasiun Transmisi Digital DVB-T2 diJawa Tengah, DIY, dan Sekitarnya

YOGYAKARTA

Pemancar: Ngoro-oro, Patuk, Gunung Kidul

1. MUX Indosiar, Ch.25/506MHz, Indosiar-
SCTV, OFF AIR
2. MUX MetroTV, Ch.27/522MHz,
MetroTV, ON AIR
3. MUX TVRI, Ch.29/538MHz, TVRI Nas-
TVRI Jogja, ON AIR
4. MUX TVOne, Ch.35/586MHz, TVOne-
ANTV, TRIAL (jam 20-07)
5. MUX GlobalTV, Ch.41/634MHz, GTV-
RCTI-MNCTV, ON AIR
6. MUX TransTV, Ch.47/682MHz, TTV-T7-
KompasTV, ON AIR

 

MAGELANG
Pemancar: Gunung Merbabu
1. DTX GlobalTV, Ch.42/642MHz,
GlobalTV, ON AIR

 

PURWOREJO

Pemancar: Ngablak
1. DTX GlobalTV, Ch.40/626MHz,
GlobalTV, ON AIR
Pemancar: Radio POP FM
1. MUX TVOne, Ch.34/578MHz, TVOne-
ANTV, TRIAL

 

SEMARANG
Pemancar: Bukit Gombel
1. MUX Indosiar, Ch.32/562MHz, Indosiar-
SCTV, TRIAL
2. MUX MetroTV, Ch.38/610MHz,
MetroTV, ON AIR
3. MUX TVRI, Ch.28/530MHz, TVRI Nas-
TVRI Jateng, ON AIR
4. MUX GlobalTV, Ch.40/626MHz, GTV-
RCTI-MNCTV, ON AIR
5. MUX TransTV, Ch.44/658MHz, TTV-T7-
KompasTV, ON AIR
Pemancar: Gunungpati
1. MUX TVOne, Ch.34/578MHz, TVOne-
ANTV, TRIAL (Senin jam 08)

 

BANYUMAS
Pemancar: Gunung Depok
1. MUX TVOne, Ch.36/594MHz, TVOne-
ANTV, TRIAL
2. MUX GlobalTV, Ch.42/642MHz, GTV-
RCTI-MNCTV, ON AIR
3. MUX TransTV, Ch.44/658MHz, TTV-T7,
TRIAL
Pemancar:
1. DTX SerayuTV. Ch.55/746MHz,
SerayuTV, TRIAL

 

TEGAL
Pemancar: Gunung Gantungan
1. MUX TVOne, Ch.34/578MHz, TVOne-
ANTV, ON AIR
2. MUX GlobalTV, Ch.40/626MHz, GTV-
RCTI-MNCTV, ON AIR
3. MUX TransTV, Ch.43/650MHz, TTV-T7,
ON AIR

 

CIREBON
Pemancar:
1. Rcti-tri jaya fm channel 41 frek. 634.0
status trial
2. Metro tv- b channel 35 frek. 586.0
status trial
3. Sctv-Indosiar channel 37 frek. 602.0
status on
Keterangan:
MUX : Multiplexer, siap menampung
beberapa siaran dalam 1 frekuensi
DTX : Digital Transmitter, tanpa MUX,
siaran single
ON AIR : jaya di udara
OFF AIR : transmitter pada posisi mati
TRIAL : mengudara hanya pada waktu
tertentu

 

Nunggu bantuan temen2

 

Notes:
22=482, 23=490, 24=498, 25=506,
26=514, 27=522, 28=530, 29=538,
30=546, 31=554, 32=562, 33=570,
34=578, 35=586, 36=594, 37=602,
38=610, 39=618, 40=626, 41=634,
42=642, 43=650, 44=658, 45=666,
46=674, 47=682, 48=690, 49=698,
50=706, 51=714, 52=722, 53=730,
54=738, 55=746, 56=754, 57=762,
58=770, 59=778, 60=786, 61=794,
62=802, 63=810, 64=818, 65=826,
66=834, 67=842, 68=850, 69=858,
70=866

Thank for  mbah hanib 😀

TVRI JOGJA sudah onair DVB-T2

TVRI Jogja sebagai MUX atau network provider digital, sejak 23 Desember 2013 sudah mulai bersiaran digital dengan standard DVB-T2 memakai pemancar merk NEC dengan kekuatan pancar 5 KW. Pada kanal 29 UHF.

Satu mux bisa dipakai kurang lebih 10 tv digital. Karena ada 6 MUX digital. Besok di jogja bisa ada 60 tv digital siaran bareng.

MUX digital yang lainnya sbb :

1. SCTV – Indosiar di kanal 25 UHF
2. Metro TV di kanal 27 UHF
3. antv – tvOne di kanal 35 UHF
4. Global TV – MNC Group di kanal 41 UHF
5. TransCorp di kanal 47 UHF
6. TVRI JOGJA kanal 29 UHF

Jadi tv dan antena di rumah anda masih bisa dipakai. Tinggal menambah SET TOP BOX. Sudah dijual bebas. Bisa cek di sisi kanan atas blog saya ini.

LTE bisa saja membunuh DVB-T2

Saat ini teknologi data selular di dunia sudah masuk tahap 4G dengan teknologi LTE yang bisa digelar di berbagai frekuensi pembawa seperti 700MHz, 900MHz, 1800MHz, 2100Mhz dan 2,3GHz. Sudah ada sekitar 200 negara di dunia yang menggelar layanan LTE. Tapi indonesia masih tahap uji coba di Bali saat ini.

LTE bisa 35-150Mbps dalam kecapatan downloadnya. Banyak teman teman saya yang kadang terpaksa harus melihat tayangan live misal motoGP, sepakbola dll melalui streaming dengan smartphone androidnya, yang tentu saja baru bisa 3G, itupun sudah cukup nyaman untuk melihat tayangan live. Jadi saat nanti LTE benar-benar telah digelar, maka streaming video menjadi sesuatu yang nyaman dan biasa.

Gambaran saya kedepan jika LTE sudah digelar di indonesia dan dengan biaya langganan data unlimited sama dengan saat ini, maka kita akan disuguhi altenatif menonton live streaming berbagai tayangan pertandingan olahraga secara nyaman. Minimal kita bisa langsung akses youtube yang menyediakan video sangat sangat banyak dan beragam sesuai minat kita. Biasanya saya download dulu video youtube ke harddisk, baru kemudian saya putar sewaktu waktu, ini butuh waktu download dan buruh media simpan, kedepan dengan LTE maka kita cukup menonton langsung di HP secara streaming.

Kedepan saya kira orang orang akan membuat acara sendiri lalu dijual sendiri. Contoh misal ada presenter kondang maka dia memproduksi acara sendiri dan kita bisa langganan untuk melihatnya secara streaming.

Dengan teknologi tv analog saat ini, maka kanal analog yang terbatas hanya bisa satu tv per kanal, sungguh sangat membatasi kreasi pertumbuhan tv dan kontennya. Teknologi DVB-T2 pengganti teknologi pemancar tv analog juga belum jelas digelar. Maka selalu ada jalan bagi air bah untuk meluapkan energinya, yaitu melalui LTE. Cukup bikin konten konten acara yang menarik, lalu jual sendiri secara online.

Simple.

EDP genTV, emotionTV, RepublikaTV di KPID DIY

Hari ini ada undangan acara EDP tiga content provider TV baru yang siap mengudara di Jogja, ketiganya adalah sebagai berikut :

1. GenTV
2. E-motion TV
3. Republika TV

Acara dimulai pada jam 9:38, molor seperti biasa dari undangan yang tertulis jam 09:00.

image

Setelah dibuka dan sambutan dari ketua KPID DIY, acara dilanjutkan EDP (evaluasi dengar pendapat) atau istilah gampangnya ketiga TV ini presentasi untuk minta tanggapan dan masukan serta ijin untuk bersiaran di jogja.

GenTV adalah TV yang menembak sasaran generasi muda sebagai pemirsanya, tentu saja nanti acaranya khas anak muda. Dan di Jogja sudah berkolaborasi dengan radio JIZZ FM yang alamatnya di Sonosewu, apa ini dulunya radio BIKIMA itu ya? (oh iya baru ingat Rasia Lima, kalau Bikima kan yang di dekat Jalan Pramuka dekat Umbulharjo itu ya)

edp2013b

E-motion TV adalah awalnya PH (production house) yang memasok acara-acara ke TV, dan sekarang mencoba untuk menyiarkan sendiri program yang dibuatnya. Sehingga sasarannya adalah hiburan. Musik dan sinetron sepertinya menjadi menu andalan dari tv ini.

RepublikaTV tentu kita bisa tebak, basisnya adalah koran republika, mungkin seperti kompasTV yang basisnya adalah koran kompas, tentu saja RepublikaTV ini sumber daya untuk isi siaran bisa berkiolaborasi dengan koran Republika. Untuk Republika ini program utamanya adalah MENCERAHKAN DUNIA DAN AKHERAT.

edp2013d

Nantinya ketiga tv baru yang sedang dalam proses EDP dan perijinan ini, tentu saja dalam siarannya sudah dalam format DVB-T2, sehingga nanti tinggal menyerahkan penyiarannya kepada NETWORK PROVIDER yang mereka ininkan, ada 5 Network Provider, yang masing-masing bisa menampung 6-12 siaran sekaligus, sehingga bisa banyak pilihan mau bergabung di NETWORK PROVIDER yang mana.

Jadi kita tunggu saja apakah dalam waktu dekat ini mereka akan segera mengudara di jogja.

edp2013c

apakah tv digital teresterial DVB-T2 harus terhambat fitur EWS di STB nya?

Perlu pembaca tercinta sekalianketahui, bahwa untuk wilayah jogja solo dan tentu kota besar lainnya yang sudah ditenderkan untuk network provider pemancar digital teresterial DVB-T2, semua pemenangnya sudah install pemancar digital dan sudah siap siaran. Hanya saja saat ini untuk jogja sedang OFF AIR dulu karena terhambat ijin ISR yaitu frekuensi untuk siaran. Misal tvOne pakai kanal 35 UHF, ini harus dapat ijin ISR dari Balai Monitor di Jogja. Tetapi secara teknis semua pemancar sudah siap siaran kapanpun diminta ON AIR.

Belum kelar kendala diatas, ternyata ada lagi kendala lanjutan, yaitu STB DVB-T2 harus punya fitur EWS (early warning system) yaitu peringatan dini terjadinya bencana, misal stunami.

Pertanyaannya perlukah STB punya fitur ini? toh umur STB mungkin hanya kisaran 2-3 tahun saja, karena sejatinya STB ini adalah perangkat antara sebelum nantinya semua tv yang dijual sudah include receiver DVB-T2 nya.

Dan dalam kenyataannya seberapa bergunakah fitur EWS ini? dan kenapa harus ditanamkan pada STB, sebenarnya ada perangkat lain yang tiap orang mayoritas membawanya, yaitu HANDPHONE, kenapa tidak di HP saja fitus EWS ini ditanamkan, atau gunakan saja fitur SMS yang tiap HP pasti ada, jadi nantinya dibebankan kepada operator untuk SMS ke semua perangkat HP yang ada di wilayah terjadinya potensi bencana, hal ini bisa dideteksi oleh HLR (home location register) dan VLR (visited location register) pada sistem seluler. Jadi misal saya nomer jogja kebetulan sedang berada di Cilacap, lalu ada gempa dan berpotensi ada stunami, maka operator akan otomatis mendeteksi saya berada di cilacap, dan mengirikan pesan ke HP saya.

Bahwa tidak tiap waktu orang akan menyetel atau melihat TV, jadi belum tentu TV itu hidup terus, sehingga saat misal terjadi bencana, maka fitur EWS juga tidak begitu berguna.

Saat ini bahkan kabar baiknya adalah sudah ada satu dua penjual STB DVB-T2 dan anda sudah bisa membelinya. Dan sepertinya fitur EWS nya juga tidak ada, apakah nanti STB yang sekarang sudah pada dijual dan tidak ada fitur EWS akan disita oleh pemerintah?

Sekarang informasi gempa, stunami, tabrakan mobil, dll rasanya lebih cepat kita dapat seketika melalui twitter, karena di twitter biasanya langsung diupdate oleh orang orang yang mengalaminya atau yang melihatnya.

Jadi masih perlukah fitur EWS pada STB? saya kira kalau masyarakat diberi pilihan, adalah pilih segera bisa mendapat STB gratis tanpa atau dengan EWS agar bisa melihat tv dengan kualitas audio video yang lebih baik dari pada sekarang saat masih analog.

tvOne dan Antv digital DVB-T2, diterima baik sekali di Kota Wates

Hari sabtu 19 Januari 2013, pas libur saya gunakan waktu saya untuk melakukan test penerimaan televisi digital teresterial di Kota Wates, saya pilih Wates karena dari pemancar di Jogja, daerah Wates ini merupakan daerah yang boleh dikatakan paling barat, meski kebarat lagi juga masih tercover, nanti kalau ada kesempatan lagi saya akan test di daerah limit perbatasan KulonProgo dengan Purworejo.

screencapture pas saya di kota Wates.

screencapture pas saya di kota Wates.

Line of sight Pemancar ke kota Wates, kira-kira 40KM

garis lurus Pemancar tvOne ke kota Wates, kira-kira 40KM

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

Purworejo sudah ada pemancar tv digital sendiri, karena sinyal dari pemancar di Jogja tidak bisa menembus pegunungan Menoreh yang membujur dari utara keselatan di daerah KulonProgo. Sebenarnya di Jogja pun ada beberapa tempat yang kesulitas dalam penerimaan tv dari pemancar di Jogja (Bukit Patuk Gunungkidul), karena ada beberapa bukit juga, seperti daerah SEDAYU Bantul keselatan yang ada perbukitan, sehingga dibagian barat bukit agak kesulitan untuk mendapat sinyal televisi.

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

Terlihat untuk tvOne dan antv diatas, hampir sama parameter kualitas dan intensitas, karena memang satu pemancar digital di tower tvOne.

Untuk transTV dan Trans7 dibawah ini juga demikian, hampir sama parameter kualitas dan intensitasnya, karena untuk pemancar tv digitalnya di tower Transtv.

wates5

wates6

Untuk kota Wates, jika ditarik garis lurus dari pemancar tvOne di Gunungkidul, kurang lebih jaraknya adalah 40KM. Hasil penerimaan sangat baik, bahkan jauh lebih baik dari rumah saya di daerah utara Sedayu Bantul yang kurang lebih hanya 25 Km dari pemancar.

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

Intinya di kota Wates, baik penerimaan tv analog maupun tv digital, semuanya baik hasilnya. Terimakasih kepada mas Adhani pemilik Toko Elektronik KARUNIA BARU, yang sudah mengijinkan tempatnya dan tv serta antenanya untuk saya pakai melakukan percobaan penerimaan tv digital di Kota Wates. Letak toko ini dari terminal Wates ambil kanan jika dari arah jojga, kira kira 300 meter, di kiri jalan.

Besok jika STB DVB-T2 (tuner tv digital) sudah dijual bebas, untuk warga Kulonprogo silahkan beli di toko Karunia Baru. Cepetan kulakan ya mas Adhani 😀

%d bloggers like this: