TVRI JOGJA sudah onair DVB-T2

TVRI Jogja sebagai MUX atau network provider digital, sejak 23 Desember 2013 sudah mulai bersiaran digital dengan standard DVB-T2 memakai pemancar merk NEC dengan kekuatan pancar 5 KW. Pada kanal 29 UHF.

Satu mux bisa dipakai kurang lebih 10 tv digital. Karena ada 6 MUX digital. Besok di jogja bisa ada 60 tv digital siaran bareng.

MUX digital yang lainnya sbb :

1. SCTV – Indosiar di kanal 25 UHF
2. Metro TV di kanal 27 UHF
3. antv – tvOne di kanal 35 UHF
4. Global TV – MNC Group di kanal 41 UHF
5. TransCorp di kanal 47 UHF
6. TVRI JOGJA kanal 29 UHF

Jadi tv dan antena di rumah anda masih bisa dipakai. Tinggal menambah SET TOP BOX. Sudah dijual bebas. Bisa cek di sisi kanan atas blog saya ini.

About these ads

LTE bisa saja membunuh DVB-T2

Saat ini teknologi data selular di dunia sudah masuk tahap 4G dengan teknologi LTE yang bisa digelar di berbagai frekuensi pembawa seperti 700MHz, 900MHz, 1800MHz, 2100Mhz dan 2,3GHz. Sudah ada sekitar 200 negara di dunia yang menggelar layanan LTE. Tapi indonesia masih tahap uji coba di Bali saat ini.

LTE bisa 35-150Mbps dalam kecapatan downloadnya. Banyak teman teman saya yang kadang terpaksa harus melihat tayangan live misal motoGP, sepakbola dll melalui streaming dengan smartphone androidnya, yang tentu saja baru bisa 3G, itupun sudah cukup nyaman untuk melihat tayangan live. Jadi saat nanti LTE benar-benar telah digelar, maka streaming video menjadi sesuatu yang nyaman dan biasa.

Gambaran saya kedepan jika LTE sudah digelar di indonesia dan dengan biaya langganan data unlimited sama dengan saat ini, maka kita akan disuguhi altenatif menonton live streaming berbagai tayangan pertandingan olahraga secara nyaman. Minimal kita bisa langsung akses youtube yang menyediakan video sangat sangat banyak dan beragam sesuai minat kita. Biasanya saya download dulu video youtube ke harddisk, baru kemudian saya putar sewaktu waktu, ini butuh waktu download dan buruh media simpan, kedepan dengan LTE maka kita cukup menonton langsung di HP secara streaming.

Kedepan saya kira orang orang akan membuat acara sendiri lalu dijual sendiri. Contoh misal ada presenter kondang maka dia memproduksi acara sendiri dan kita bisa langganan untuk melihatnya secara streaming.

Dengan teknologi tv analog saat ini, maka kanal analog yang terbatas hanya bisa satu tv per kanal, sungguh sangat membatasi kreasi pertumbuhan tv dan kontennya. Teknologi DVB-T2 pengganti teknologi pemancar tv analog juga belum jelas digelar. Maka selalu ada jalan bagi air bah untuk meluapkan energinya, yaitu melalui LTE. Cukup bikin konten konten acara yang menarik, lalu jual sendiri secara online.

Simple.

EDP genTV, emotionTV, RepublikaTV di KPID DIY

Hari ini ada undangan acara EDP tiga content provider TV baru yang siap mengudara di Jogja, ketiganya adalah sebagai berikut :

1. GenTV
2. E-motion TV
3. Republika TV

Acara dimulai pada jam 9:38, molor seperti biasa dari undangan yang tertulis jam 09:00.

image

Setelah dibuka dan sambutan dari ketua KPID DIY, acara dilanjutkan EDP (evaluasi dengar pendapat) atau istilah gampangnya ketiga TV ini presentasi untuk minta tanggapan dan masukan serta ijin untuk bersiaran di jogja.

GenTV adalah TV yang menembak sasaran generasi muda sebagai pemirsanya, tentu saja nanti acaranya khas anak muda. Dan di Jogja sudah berkolaborasi dengan radio JIZZ FM yang alamatnya di Sonosewu, apa ini dulunya radio BIKIMA itu ya? (oh iya baru ingat Rasia Lima, kalau Bikima kan yang di dekat Jalan Pramuka dekat Umbulharjo itu ya)

edp2013b

E-motion TV adalah awalnya PH (production house) yang memasok acara-acara ke TV, dan sekarang mencoba untuk menyiarkan sendiri program yang dibuatnya. Sehingga sasarannya adalah hiburan. Musik dan sinetron sepertinya menjadi menu andalan dari tv ini.

RepublikaTV tentu kita bisa tebak, basisnya adalah koran republika, mungkin seperti kompasTV yang basisnya adalah koran kompas, tentu saja RepublikaTV ini sumber daya untuk isi siaran bisa berkiolaborasi dengan koran Republika. Untuk Republika ini program utamanya adalah MENCERAHKAN DUNIA DAN AKHERAT.

edp2013d

Nantinya ketiga tv baru yang sedang dalam proses EDP dan perijinan ini, tentu saja dalam siarannya sudah dalam format DVB-T2, sehingga nanti tinggal menyerahkan penyiarannya kepada NETWORK PROVIDER yang mereka ininkan, ada 5 Network Provider, yang masing-masing bisa menampung 6-12 siaran sekaligus, sehingga bisa banyak pilihan mau bergabung di NETWORK PROVIDER yang mana.

Jadi kita tunggu saja apakah dalam waktu dekat ini mereka akan segera mengudara di jogja.

edp2013c

apakah tv digital teresterial DVB-T2 harus terhambat fitur EWS di STB nya?

Perlu pembaca tercinta sekalianketahui, bahwa untuk wilayah jogja solo dan tentu kota besar lainnya yang sudah ditenderkan untuk network provider pemancar digital teresterial DVB-T2, semua pemenangnya sudah install pemancar digital dan sudah siap siaran. Hanya saja saat ini untuk jogja sedang OFF AIR dulu karena terhambat ijin ISR yaitu frekuensi untuk siaran. Misal tvOne pakai kanal 35 UHF, ini harus dapat ijin ISR dari Balai Monitor di Jogja. Tetapi secara teknis semua pemancar sudah siap siaran kapanpun diminta ON AIR.

Belum kelar kendala diatas, ternyata ada lagi kendala lanjutan, yaitu STB DVB-T2 harus punya fitur EWS (early warning system) yaitu peringatan dini terjadinya bencana, misal stunami.

Pertanyaannya perlukah STB punya fitur ini? toh umur STB mungkin hanya kisaran 2-3 tahun saja, karena sejatinya STB ini adalah perangkat antara sebelum nantinya semua tv yang dijual sudah include receiver DVB-T2 nya.

Dan dalam kenyataannya seberapa bergunakah fitur EWS ini? dan kenapa harus ditanamkan pada STB, sebenarnya ada perangkat lain yang tiap orang mayoritas membawanya, yaitu HANDPHONE, kenapa tidak di HP saja fitus EWS ini ditanamkan, atau gunakan saja fitur SMS yang tiap HP pasti ada, jadi nantinya dibebankan kepada operator untuk SMS ke semua perangkat HP yang ada di wilayah terjadinya potensi bencana, hal ini bisa dideteksi oleh HLR (home location register) dan VLR (visited location register) pada sistem seluler. Jadi misal saya nomer jogja kebetulan sedang berada di Cilacap, lalu ada gempa dan berpotensi ada stunami, maka operator akan otomatis mendeteksi saya berada di cilacap, dan mengirikan pesan ke HP saya.

Bahwa tidak tiap waktu orang akan menyetel atau melihat TV, jadi belum tentu TV itu hidup terus, sehingga saat misal terjadi bencana, maka fitur EWS juga tidak begitu berguna.

Saat ini bahkan kabar baiknya adalah sudah ada satu dua penjual STB DVB-T2 dan anda sudah bisa membelinya. Dan sepertinya fitur EWS nya juga tidak ada, apakah nanti STB yang sekarang sudah pada dijual dan tidak ada fitur EWS akan disita oleh pemerintah?

Sekarang informasi gempa, stunami, tabrakan mobil, dll rasanya lebih cepat kita dapat seketika melalui twitter, karena di twitter biasanya langsung diupdate oleh orang orang yang mengalaminya atau yang melihatnya.

Jadi masih perlukah fitur EWS pada STB? saya kira kalau masyarakat diberi pilihan, adalah pilih segera bisa mendapat STB gratis tanpa atau dengan EWS agar bisa melihat tv dengan kualitas audio video yang lebih baik dari pada sekarang saat masih analog.

tvOne dan Antv digital DVB-T2, diterima baik sekali di Kota Wates

Hari sabtu 19 Januari 2013, pas libur saya gunakan waktu saya untuk melakukan test penerimaan televisi digital teresterial di Kota Wates, saya pilih Wates karena dari pemancar di Jogja, daerah Wates ini merupakan daerah yang boleh dikatakan paling barat, meski kebarat lagi juga masih tercover, nanti kalau ada kesempatan lagi saya akan test di daerah limit perbatasan KulonProgo dengan Purworejo.

screencapture pas saya di kota Wates.

screencapture pas saya di kota Wates.

Line of sight Pemancar ke kota Wates, kira-kira 40KM

garis lurus Pemancar tvOne ke kota Wates, kira-kira 40KM

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

Purworejo sudah ada pemancar tv digital sendiri, karena sinyal dari pemancar di Jogja tidak bisa menembus pegunungan Menoreh yang membujur dari utara keselatan di daerah KulonProgo. Sebenarnya di Jogja pun ada beberapa tempat yang kesulitas dalam penerimaan tv dari pemancar di Jogja (Bukit Patuk Gunungkidul), karena ada beberapa bukit juga, seperti daerah SEDAYU Bantul keselatan yang ada perbukitan, sehingga dibagian barat bukit agak kesulitan untuk mendapat sinyal televisi.

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

Terlihat untuk tvOne dan antv diatas, hampir sama parameter kualitas dan intensitas, karena memang satu pemancar digital di tower tvOne.

Untuk transTV dan Trans7 dibawah ini juga demikian, hampir sama parameter kualitas dan intensitasnya, karena untuk pemancar tv digitalnya di tower Transtv.

wates5

wates6

Untuk kota Wates, jika ditarik garis lurus dari pemancar tvOne di Gunungkidul, kurang lebih jaraknya adalah 40KM. Hasil penerimaan sangat baik, bahkan jauh lebih baik dari rumah saya di daerah utara Sedayu Bantul yang kurang lebih hanya 25 Km dari pemancar.

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

Intinya di kota Wates, baik penerimaan tv analog maupun tv digital, semuanya baik hasilnya. Terimakasih kepada mas Adhani pemilik Toko Elektronik KARUNIA BARU, yang sudah mengijinkan tempatnya dan tv serta antenanya untuk saya pakai melakukan percobaan penerimaan tv digital di Kota Wates. Letak toko ini dari terminal Wates ambil kanan jika dari arah jojga, kira kira 300 meter, di kiri jalan.

Besok jika STB DVB-T2 (tuner tv digital) sudah dijual bebas, untuk warga Kulonprogo silahkan beli di toko Karunia Baru. Cepetan kulakan ya mas Adhani :-D

ini lho bedanya antara penerima TV analog, dengan penerima TV digital DVB-T2

tif2

Ini TV DIGITAL lho meskipun layarnya TABUNG

Dari pengalaman saya bincang bincang dengan beberapa orang, hampir 100% mereka tahunya kalau TV yang tipis misal LCD atau LED itu adalah TV DIGITAL. Mungkin bisa benar jika TV LCD itu sudah include tuner DVB-T2. Tapi kalau belum ada tuner DVB-T2 ya belum bisa disebut tv penerima digital teresterial.

Foto paling atas malah bisa disebut TV DIGITAL, walaupun itu layarnya masih TABUNG yang besar dan memakan tempat. Karena tv tabung diatas sudah saya beri STB DVB-T2 yang saya letakkan diatas  tv tabung.

Sedangkan foto dibawah ini, meskipun ini adalah monitor LCD, yang aslinya adalah monitor komputer di rumah saya, tapi saya belikan tuner tv ANALOG merk gadmei dengan harga Rp. 155.000,- Jadilah layar LCD ini menjadi penerima TV Analog.

LCD View Sonic diberi receiver tv analog merk Gadmei

Ini TV ANALOG lho. layar LCD View Sonic diberi receiver tv analog merk Gadmei

TV Tuner ANALOG Gadmei

TV Tuner ANALOG Gadmei

Untuk instalasi TV TUNER ANALOG Gadmei ini, intinya tv tuner ada di antara monitor dan komputer.

Instalasi kabel dan antena dilihat dari atas

Instalasi kabel dan antena dilihat dari atas

lebih jelas lagi

lebih jelas lagi

Perbandingan penerimaan tv digital vs analog dg antena dan tv yg sama di rumah saya

Set Top Box DVB-T2 difoto dari sisi bawah dan belakang

Set Top Box DVB-T2 difoto dari sisi bawah dan belakang

Alhamdulillah akhirnya bisa ngetest lagi penerimaan siaran DVB-T2, tv digital teresterial di rumah saya. Kali ini saya memakai STB (set top box) milik kantor saya. Dan Ajaibnya sekarang tvOne dan Antv bisa diterima di rumah saya, padahal dulu saat pakai STB HD2000 sama sekali tidak bisa menangkap tvOne dan Antv digital dirumah saya. Mungkin STB yang ini lebih peka.

Saya memakai tv tabung milik adik saya, cara instalasi STB sudah pernah saya tulis, sehingga tidak perlu saya tulis ulang. Dalam tulisan kali ini saya lebih mengajak untuk membadingkan hasil penerimaan siaran digital dengan siaran analog. Perlu diperhatikan bahwa TV tabung dan antena yang dipakai adalah sama. Sehingga bisa dibandingkan dengan adil.

Saat dihidupkan pertama kalinya, maka otomatis akan ada pilihan bahasa dan teritori negara, pilih saja INDONESIA, nanti selanjutnya akan scaning otomatis seperti foto dibawah ini.

STB DVB-T2 sudah dipasang di TV Tabung

STB DVB-T2 (diatas TV tabung), sudah disambung dengan TV Tabung

Ditunggu saja sampai selesai seluruh frekuensi UHF ter scan, dan hasilnya nanti tv digital yang tertangkap akan terpampang di daftar seperti foto dibawah ini. Sebenarnya untuk tvOne DIGITAL dan tvOne DIGITAL Jogja itu isinya sama saja, memang sengaja saya isi dua untuk tvOne, saya beri tambahan tvOne DIGITAL Jogja, agar enak saja untuk melihat bahwa ini berasal dari pemancar di jogja. Karena tv digital ada juga pemancarnya di Magelang dan Purworejo, ada kemungkinan untuk daerah diperbatasan, besok bisa dapat dari tvone jogja, atau bisa juga dari pemancar digital di Magelang atau Purworejo. Oh iya satu pemancar ini bandwidth nya bisa 40 MBPS, jika satu konten tv digital SDTV (standard TV) hanya butuh 4MBPS, maka untuk 40 MBPS dibagi 4 MBPS, maka akan bisa diisi 10 konten tv digital, sedangkan saat ini untuk pemancar tvOne digital di Jogja baru diisi 3 konten tv digital, sedangkan pemancar digital TRANSTV baru diisi dua konten tv digital, yaitu transtv digital dan trans7 digital. Sebagaimana bisa dilihat pada foto dibawah ini.

Daftar TV siaran digital yang tertangkap di rumah saya

Daftar TV siaran digital yang tertangkap di rumah saya

Foto dibawah ini contoh saat kita pilih kanal pertama 001 seperti foto diatas. Kebetulan tadi pas saya foto pas menkoinfo sedang diwawancari reporter tvOne saat banjir di Jakarta.

tvOne Digital Jogja

tvOne Digital Jogja

tif2

tvOne digital Jogja :-D

tvOne digital Jogja :-D

Foto dibawah ini adalah hasil penerimaan siaran ANALOG, dapat dilihat dengan jelas bahwa siaran analog mengalami penurunan kualitas jika semakin jauh dari pemancar. Makin jauh dari pemancar makin banyak semutnya :-D.

Jika tv digital maka pada jarak tertentu jika sinyal dari pemancar sudah tidak sampai, maka di daerah tersebut tidak bakal bisa menerima siaran digital. alias menjadi daerah blank spot.

tvOne Jogja yang analog

tvOne Jogja yang analog diterima di rumah saya

Kalau dirumah saya, entah mungkin posisi antena yang tidak bersahabat dengan antv analog, maka hasilnya yang penerimaan tv analog, jelek sekali, berbeda dengan penerimaan siaran tv digital antv yang jernih. Ingat lho ini masih memakai tv tabung dan antena yang sama.

ANTV Digital Jogja

ANTV Digital Jogja diterima di rumah saya

ANTV Analog Jogja

ANTV Analog Jogja diterima di rumah saya

Untuk penerimaan tv analog yang TransTV saya lupa tidak memfotonya, tapi kualitas siaran analog TransTV di rumah saya lumayan baik kok. Tapi tetap saja lebih jernih yang digital seperti foto dibawah ini.

TrnasTV digital di Jogja

TransTV digital di Jogja

Trans7 digital Jogja

Trans7 digital Jogja

Trans7 Analog Jogja

Trans7 Analog Jogja

Sayangnya saat ini belum banyak pedagang yang tahu peluang jualan STB DVB-T2 ini, karena kalau mau jualan, tentu lagu, karena sudah ada tv digital siaran, khusunya di jogja saat ini ada 4 aygn pasti siaran digital bisa diterima, yaitu tvOne, antv, transtv, dan trans7. Nanti tentu akan disusul oleh tv-tv yang lain.

Yang pasti jangn sampai 2014 saat ada piala dunia sepakbola, anda masih melihatnya dengan tv analog, pastikan besok pakai tv digital, beli tv LCD yang besar tinggal ditambah STB DVB-T2 ini, maka sudah bisa menonton siaran tv digital yang jernih dan indah :-D

indonesia butuh STB DVB-T2 berapa banyak?

Data penduduk indonesia saat ini adalah 255 juta.

Jika tiap rumah rata-rata kita misalkan berisi 5 orang, artinya 255.000.000 dibagi 5

= 51 juta rumah

Jika kita misalkan tiap rumah hanya punya satu pesawat televisi maka untuk seluruh indonesia akan butuh 51 juta SET TOP BOX DVB-T2.

Jika harga STB saat ini kisaran Rp. 200.000 per buah,

maka 51.000.000 X 200.000 = Rp. 10.200.000.000.000

Ada uang sebanyak diatas hanya untuk STB saja.

 

Catatan :

ini hanyalah itung-itungan kasar saja, dan saya tidak melakukan menelitian apapun.

apa sih bedanya tv digital teresterial dengan tv satelit?

Tulisan ringan ini semoga bisa menambah dan mencerahkan bagi yang belum begitu paham tentang tv digital teresterial DVB-T2 yang free to air, alias gratis diterima oleh pemirsa.

TV digital DVB-T2 adalah siaran tv yang dipancarkan dari pemancar di darat (bukan dari satelit), contoh di jogja pemancar tv ada di bukit Patuk Gunung Kidul, dipilih tempat ini karena letaknya yang tinggi dan bisa menjangkau Jogja dan Solo sekaligus, meskipun sudah di tempat yang tinggi, tetap masih ditambah tower pemancar setinggi 80 meter sampai 150 meter, agar siaran bisa melewati halangan gedung dan pegunungan kecil yang mungkin menghalangi sampai ke rumah-rumah pemirsa.

Saat ini pemancar tv masih analog, yaitu satu jalur dipakai sendirian. Tetapi juga sudah ada yang bersiaran digital DVB-T2 seperti tvOne dan antv. Siaran digital ini memungkinkan satu jalur bisa dibagi-bagi lagi sehingga bisa dipakai siaran bareng 5-20 tv sekaligus, tergantung bitratenya.

Sekarang beralih dulu ke tv satelit, tv satelit ini sudah digital, yaitu standard DVB-S/S2 (digital video broadcasting Satelite/2). Jadi sebenarnya masih saudara antara DVB-S/S2 dengan DVB-T2 (digital video broadcasting Teresterial2). Lantas dimana bedanya?

Sebenarnya bedanya hanya pada antena penerimanya saja.

Untuk DVB-S/S2 siarannya dari satelit langsung ditangkap parabola, sebagai contoh adalah jika anda langganan indovision, fungsi parabola kecil diluar adalah untuk menampung sinyal dari satelit yang ada di atas sana. Setelah itu sinyal yang ditangkap parabola disalurkan ke STB (set top box) DVB-S/S2, STB DVB-S/S2 ini akan dibagikan kepada pelanggan yang berlangganan tv satelit, karena berlangganan atau berbayar atau disebut pay TV, maka dalam STB satelit ini ada smart card untuk mengontrol penggunaan bagi pelanggan. Nah dari STB satelit ini, lalu disalurkan ke TV kita. Karena penyiaran digital satelit sudah cukup lama, maka sudah banyak STB DVB-S/S2 dijual dipasaran, yang  dikenal dengan RECEIVER SATELIT, kalau yang ini biasanya untuk melihat siaran dari satelit yang gratis. Karena sebenarnya kita sudah dari dulu bisa nonton tvOne yang dari satelit, juga tv-tv lainnya secara gratis.

Nah untuk DVB-T2, siarannya dari pemancar di gunung, bukan dari satelit, inilah bedanya. Berhubung DVB-T2 tetap memakai frekuensi UHF, maka antena dirumah-rumah kita tetap bisa dipakai (contoh antena model PF), antena inilah fungsinya seperti antena parabola pada tv satelit. Dari antena yang biasanya kita pakai ini, sinyal kita teruskan ke STB teresterial DVB-T2, jadi kalau satelit pakai STB DVB-S/S2, kalau teresterial pakai STB DVB-T2, lalu dari STB DVB-T2 ini diberikan ke tv lama kita, jadi tidak perlu ganti tv baru. Cukup ditambahi STB DVB-T2 maka sudah bisa melihat tv digital teresterial dari pemancar di gunung sebagaimana biasa, dan tetap gratis.

Jadi perbedaan tv satelit dengan tv pemancar yang ada di gunung, hanya pada STB nya saja. Dan berhubung tv satelit ekbanyakan berbayar, maka pada STB DVB-S/S2 diberi smart card untuk mengontrol pelanggan. Pada STB DVB-T2 pun sebenarnya bisa diberikan smart card, contoh yang sudah berjalan di Jakarta adalah next media, ini adalah tv pemancar digital teresterial yang berbayar.

Jadi kita hanya perlu tambahan SET TOP BOX (STB) DVB-T2 saja untuk menangkap siaran tv Digital teresterial. Antena dan tv lama tetap bisa dipakai.

Demikian semoga bermanfaat.

kejutan penyiaran TV digital saat ini baru permulaan saja

Teknologi terus berkembang dan makin pesat makin cepat, jika bangsa ini tidak tepat memilih teknologi penyiaran digital teresterial, maka anak cucu kita kelak yang akan menanggungnya.

Paling tampak mata saat ini adalah pemilihan standard DVB-T2 untuk penyiaran tv digital teresterial free to air (alias gratis ditonton pemirsa), padahal ibaratnya baru kemarin TVRI dan beberapa tv swasta lainnya melakukan percobaan penyiaran tv digital teresterial dengan standar DVB-T.

Kenapa dipilih DVB-T2, tidak akan saya paparkan secara teknis banget, yang pasti tentu DVB-T2 lebih baik daripada DVB-T, dengan memilih DVB-T2 maka ini adalah pilihan pondasi yang tepat karena saat ini kita masih SDTV  (standard TV) yang memakan bandwitdh 4Mbps walau sudah dengan DVB-T2, sebenarnya DVB-T2 bisa HDTV (high definition TV) tetapi, HDTV butuh 8 Mbps.

DVB-T2 dengan 256-QAM ini kapasitas maksimalnya kurang lebih 40Mbps, jika kita pilih SDTV memakai 2Mbps, maka satu pemancar digital DVB-T2 bisa berisi 20 tv content secara bersamaan. Jika kita pakai SDTV yang 4Mbps maka bisa 10 tv content, jika kita pakai HDTV maka hanya akan bisa menyiarkan 5 tv content saja.

Jadi kedepan sebenarnya masih ada kejutan-kejutan dalam penyiaran TV digital teresterial ini, yaitu

SDTV > HDTV > 3DTV > InteractiveTV

Saat ini kita baru mulai di SDTV.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.295 pengikut lainnya.