jadikan Jogja makin Istimewa dengan swasembada LELE tahun 2013

Inilah manfaat positif dari berteman, jadi punya banyak teman dengan berbagai latar belakang ilmu, dan kali ini saya beruntung bisa kenal dan berteman dengan kang mas BAYUMURTI HARYOKUSUMO, yang ternyata beliau adalah penggiat budidaya lele di Sleman khususnya, dan Jogjakarta ini umumnya. Pertama ketemu mas Bayu karena mengantar Lingga Asmarantaka, yang katanya ke Jogja pingin belajar beternak lele ke mas Bayu. Kebetulan rumah mas Bayu dekat dengan rumah saya, kira-kira 15 menitan numpak pulsar agak kencang dikit :-D Setahu saya mas Bayu ini member prides, tapi memang belum jodoh ketemu saat saya menghadiri ultah prides di SALATIGA dulu. Sayapun member prides online, tapi memang rada pasif.

Mas Bayu adalah salah satu pengurus perkumpulan peternak lele di Jogja, dari beliau saya mendapatkan data-data dan angka-angka yang real dan fantastis bagi saya, dan ini saya sudah ijin beliau untuk share di blog dengan harapan bisa dibaca banyak orang lagi.

Untuk komunikasi via facebook bagi peternak lele, bisa gabung di grup facebook

BUDIDAYA LELE YOGYAKARTA

Mas Bayu dan teman temannya punya program “SWASEMBADA LELE 2013″ Program ini adalah sebagai jawaban atas keresahan beliau melihat nasib petani/peternak lele di jogja yang kurang sejahtera dan kurang punya bargaining di pasar, dan untuk meningkatkan daya beli lele konsumsi di tingkat rumah tangga. Artinya para peternak menjadi sejahtera, dan harga jual lele ke konsumen juga bisa stabil terjangakau.

Data menarik tersebut adalah faktanya permintaan lele konsumsi di Jogja 15-20 ton per hari. Harga jual petani ke pengepul kisaran Rp. 11.500 – Rp. 12.000 (idealnya), tetapi prakteknya masih banyak yang diinjak-injak pengepul dengan harga dibawah itu. Sementara itu harga jual pengepul ke pasar di atas 14-15ribu. Jumlah lele konsumsi per kg ada yang 7-8 ekor, ada pula yang 9-11 ekor.

Salah satu syarat dan cara menuju SWASEMBADA LELE 2013 adalah perlu percepatan pengadaan benih lele konsumsi. Hitungannya dengan permintaan konsumsi sehari 15-20 ton, artinya dibutuhkan pasokan benih untuk dibesarkan sebanyak 150.000 sampai 200.000 ekor benih per hari, jumlah yang fantastis bukan. Artinya dalam sebulan ada perputaran uang 6.3 milyar dari ikan bernama LELE ini di Yogyakarta. Lantas siapa yang menikmati hal tersebut? petani/peternak lele? kenyataanya adalah bukan!

Saya ingat sekitar tahun 1990an di dusun saya juga mengalami booming peternak lele, hampir semua orang punya kolam lele, dan saat itu beternak lele memang mudah dan menguntungkan. Saya rasakan ekonomi mereka yang beternak lele juga meningkat, saya ingat pernah mburuh bikin kolam ikan lele di sawah selatan dusunku. Saat itu ada juragan lele yang mau membeli dan menyediakan pakan berujud pelet, petani tinggal sediakan kolam dan membesarkan lelenya, tetapi badai itu datang juga, yaitu ketika harga pelet pakan lele melonjak, sehingga tidak ada margin keuntungan lagi saat beternak lele, padahal saat masa jaya dulu, sampai ada truk tronton dari pabrik pakan ikan lele langsung supply pelet ke juragan lele di kampung saya. Saat ini ibaratnya tinggal 10% mungkin peternak lele yang masih bertahan di dusunku.

Tambahan informasi bahwa pengelolaan kolam lele milik mas Bayu ini sedemikian rupa, sehingga air kolam tidak bau dan tidak gatal jika kena kulit kita. Menurut mas Bayu penting banget untuk menguasai ilmu memelihara air agar tidak bau, baru kemudian bisa beternak memelihara lele. Hal ini saya benarkan sekali, karena saya sendiri mengalami saat musim kemarau, tetangga yang punya kolam lele, ternyata airnya jadi bau dan berhembus sampai kerumah saya yang ada di utara kolam lelenya, mungkin karena jarang ganti air atau sebab yang lain.

Anak-anak saya adalah penggemar lele, mudah sekali kalau mau bikin gemuk anak-anak saya, asal dibelikan lauk lele maka akan lahap sekali makan mereka, dan ajaibnya selalu saja ada lele dijual di warung pagi penjual bubur milik tetangga. Lele memang lauk enak dengan harga terjangkau. Saat saya kecil dulu kisaran tahun 80an, lele alami masih banyak di sungai dekat rumah saya, rasanyapun gurih. Kemudian datang lele dumbo, dan lele lokal perlahan hilang. Lele lokal di sungai itu warnanya hitam pekat, kalau lele dumbo cenderung agak terang. Lele lokal kalau patilnya ke tangan saat nangkap, racun/bisa di patilnya sangat menyakitkan. Entahlah kalau lele dumbo sepertinya tidak terlalu menyakitkan.

Sangat penting bagi para peternak untuk bersatu dalam satu wadah agar bisa lebih terorganisir, dan punya power untuk bargaining dengan pemerintah dan pedagang. Para peternak lele harus sadar data dan fakta bahwa kebutuhan lele di jogja ini belum bisa disediakan secara swasembada oleh peternak Jogja sendiri, maka adalah aneh jika lele peternak jogja misal bisa dipermainkan harganya oleh pedagang, logikanya lele produksi jogja pada akhirnya tetap lebih murah dari lele produksi luar jogja, minimal dari perbedaan ongkos transport dibanding lele dari luar daerah. Sehingga harapan kedepan peternak selalu bisa menjaga harga jual lelenya dalam margin keuntungan yang layak. Tidak bisa dipermainkan pedagang dan tengkulak lagi. Saya tahu bahwa kendala beternak lele ini kadang hanya sebagai “samben” bukan sebagai profesi utama. Inilah mungkin yang perlu dibenahi mental dari peternak sendiri dulu, bolehlah samben, tapi kudu serius. Selamat berjuang mas Bayu dan teman-teman, bangsa ini tergantung pada petani dan peternak seperti anda-anda semua, semaju apapun suatu bangsa, tetap butuh makan dan lauk tiap hari.

Akhir kata, bukan saatnya bersaing antar kelompok-kelompok peternak lele di jogja, karena serapan pasar lele masih jauh dari yang peternak bisa hasilkan untuk jogja, saatnya bersatu untuk menjadi kuat dan berdaya juga makin sejahtera.

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.398 pengikut lainnya.