Jembatan SESEK bambu di Sungai Progo (part II)

Langsung saya tulis kelanjutan dari part I. Jembatan sesek bambu yang part I letaknya di selatan jalur SUTET PLN, nah untuk yang jembatan sesek part II ini di utara  jalur SUTET PLN yang juga menyeberang Sungai Progo, letaknya kalau di Kulonprogo di sekitar dusun TUKSONO, dan di ujungnya di kabupaten Bantul ada di wilayah Triwidadi, di selatan Perempatan Kayuan.

ini mantennya

Ceritanya tanggal 4 September 2011 mengahadiri resepsi pernihakan saudara di wilayah Kaliwiru Kulonprogro, daerah yang banyak industri pembuatan Tahu.

Pada saat berangkat, kami lewat Klangon di timur Jembatan Bantar, lalu belok kebarat melelui jalan Wates menuju Sentolo, dan di pertigaan pertama, kami belok kiri (ke timur), selanjutnya mengikuti jalan aspal yang ada ke arah Kaliwiru, arahnya keselatan dan ke timur.

terlihat tidak rapi dan tidak septi

Saat di dusun Tuksono, saya lihat ada plang nama mengiklankan adanya jembatan sesek bambu yang tembus ke wilayah Pajangan, Triwidadi Bantul, maka niat saya nanti sehabis acara resepsi manten, saya akan pulang lewat jembatan ini.

wah balapan nih?

Mantenan di Kaliwiru terhitung masih lekat dengan budaya yang kental sehingga acara menjadi lama, karena masih ada urusan lain di siang dan sore hari, maka saya pamit selepas mendapat minum dan snack :-D

Akhirnya saya jadi melewati jembatan sesek bambu, saya sempatkan berhenti untuk protret-potret sebentar. Yang kelihatan berbeda adalah, jembatan ini tidaklah serapi jembatan yang saya tulis pertama, kelihatan paling mencolok dari tidak adanya pagar di kiri dan kanan sepanjang jembatan, wah tidak septi ini, tapi kadung sampai sini, maka nekat lanjutkan juga melalui jembatan ini, lumayan lebih menakutkan dan kudu lebih hati-hati saat saya melintasinya, kaki kiri kanan tidak berani ada di footstep, jaga-jaga untuk menapak jika kondisi tidak seimbang. Setelah beberapa saat akhirnya sampai juga di ujung wilayang bantul, dan berhenti sebentar untuk membayar biaya pemeliharaan jematan, yaitu Rp 2000.

Black Coyote siap nyebrang

Dengan lewat jembatan ini, saya jadi hemat jarak kurang lebih 5 KM, lumayanlah.

About these ads

Jembatan SESEK bambu di sungai Progo (part I)

Sungai Progo di bagian selatan Jembatan Bantar membelah meliuk indah memisahkan antara kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. Saat musim kemarau seperti saat ini, sungai Progo ini tidaklah terlalu liar arusnya, tampak aliranya dangkal, bahkan disana-sini terdapat WEDI KENGSER, alias pulau-pulau yang terbentuk dari pasir yang tidak teraliri air sungai, ini karena begitu lebarnya sungai Progo membentang.

Ceritanya pada hari sabtu tanggal 3 September 2011, saya mengantar istri ke wilayah Ngentakrejo, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo. Berangkat dari rumah, lanjut rute ke bangjo Perempatan Sedayu, terus ambil keselatan sampai Perempatan Kayuan ambil keselatan lagi, lalu mampir sebentar di rumah teman istri, silaturahmi sebentar sekaligus saya menanyakan jembatan SESEK BAMBU yang bisa dilewati, dan dapat petunjuk nanti setelah lapangan desa Kamijoro, sebelum jalan belok kekiri maka ambil jalan kampung yang kekanan, ada dua jalan kampung, ambil yang paling kanan. Saya susuri jalan ini akhirnya sampai ke Sungai Progro.

siap menyeberang

Tampak jembatan SESEK BAMBU ini dibuat rapi, kira-kira lebarnya 1,5 meter dan pangjangnya mungkin sekitar 100 meteran. Saya bilang rapi, karena memang dilihat rapi dan kokoh, juga diberi pagar di kiri dan kanan, sehingga memberikan rasa aman saat melintas.

lebar, jernih dan dangkal saat kemarau

Untuk melewati jembatan bambu ini, harus gantian satu-persatu, misal dari arah barat dulu, atau dari arah timur dulu, tidak boleh bareng dan papasan di tengah jembatan, karena memang kondisi jembatan hanya kontruksinya dari bambu dan lebarnya pas-pasan. Sensasinya sungguh lain, terasa campuran sedikit kuatir dan takut kalau jatuh lalu nyebur ke sungai, meskipun sungainya dangkal. Bobot motor pulsar saya yang relatif sudah berat ditambah dinaiki 3 orang, maka saat melintas di jembatan ini suara ban beradu dengan bambu menjadi sangat meriah.

Sampai di ujung barat di wilayah Kulonprogo, kami membayar biaya pemeliharaan jembatan yang dikelola oleh warga, besarnya Rp 2000 saja. Jumlah ini sebenarnya terhitung murah, karena memang jalur yang saya lalui menjadi lebih pendek ketimbang saya harus memutar keselatan melalui Jembatan Panjang Srandakan Brosot. Belum lagi jika di pasar Mangiran ada keramaian lebaran pasar tumpah dan hiburan rakyat seperti pasar malam, perjalanan pasti dialihkan dari jalur utama, dan saya pernah muter-muter kesasar gara-gara lewat jalan kampung dan belum pakai GPS android.

Saya juga berkunjung ke bro Snalpot yang baru saja punya momongan perempuan, di wilayah dekat Kecamatan Galur. Selamat semoga menjadi anak yang sholihah.

Silaturahmi ke garasinya bro Snalpot, tilik snalpot yunior

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.953 pengikut lainnya.