Sungai Progo di bagian selatan Jembatan Bantar membelah meliuk indah memisahkan antara kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. Saat musim kemarau seperti saat ini, sungai Progo ini tidaklah terlalu liar arusnya, tampak aliranya dangkal, bahkan disana-sini terdapat WEDI KENGSER, alias pulau-pulau yang terbentuk dari pasir yang tidak teraliri air sungai, ini karena begitu lebarnya sungai Progo membentang.
Ceritanya pada hari sabtu tanggal 3 September 2011, saya mengantar istri ke wilayah Ngentakrejo, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo. Berangkat dari rumah, lanjut rute ke bangjo Perempatan Sedayu, terus ambil keselatan sampai Perempatan Kayuan ambil keselatan lagi, lalu mampir sebentar di rumah teman istri, silaturahmi sebentar sekaligus saya menanyakan jembatan SESEK BAMBU yang bisa dilewati, dan dapat petunjuk nanti setelah lapangan desa Kamijoro, sebelum jalan belok kekiri maka ambil jalan kampung yang kekanan, ada dua jalan kampung, ambil yang paling kanan. Saya susuri jalan ini akhirnya sampai ke Sungai Progro.
Tampak jembatan SESEK BAMBU ini dibuat rapi, kira-kira lebarnya 1,5 meter dan pangjangnya mungkin sekitar 100 meteran. Saya bilang rapi, karena memang dilihat rapi dan kokoh, juga diberi pagar di kiri dan kanan, sehingga memberikan rasa aman saat melintas.
Untuk melewati jembatan bambu ini, harus gantian satu-persatu, misal dari arah barat dulu, atau dari arah timur dulu, tidak boleh bareng dan papasan di tengah jembatan, karena memang kondisi jembatan hanya kontruksinya dari bambu dan lebarnya pas-pasan. Sensasinya sungguh lain, terasa campuran sedikit kuatir dan takut kalau jatuh lalu nyebur ke sungai, meskipun sungainya dangkal. Bobot motor pulsar saya yang relatif sudah berat ditambah dinaiki 3 orang, maka saat melintas di jembatan ini suara ban beradu dengan bambu menjadi sangat meriah.
Sampai di ujung barat di wilayah Kulonprogo, kami membayar biaya pemeliharaan jembatan yang dikelola oleh warga, besarnya Rp 2000 saja. Jumlah ini sebenarnya terhitung murah, karena memang jalur yang saya lalui menjadi lebih pendek ketimbang saya harus memutar keselatan melalui Jembatan Panjang Srandakan Brosot. Belum lagi jika di pasar Mangiran ada keramaian lebaran pasar tumpah dan hiburan rakyat seperti pasar malam, perjalanan pasti dialihkan dari jalur utama, dan saya pernah muter-muter kesasar gara-gara lewat jalan kampung dan belum pakai GPS android.
Saya juga berkunjung ke bro Snalpot yang baru saja punya momongan perempuan, di wilayah dekat Kecamatan Galur. Selamat semoga menjadi anak yang sholihah.
Filed under: Sepeda Motor, Travelling | Ditandai: bantul, jembatan alternatif, jembatan bantar, jembatan brosot, jembatan sesek, jembatan sesek bambu, kali progo, kretek sesek, kulonprogo, lendah, ngetakrejo, sesek bambu, snalpot, snalpot99, sungai progo | 4 Komentar »













