Panggung utama Honda Bikers Day 2010

Panggung utama gelaran Honda Bikers Day 2010 di Bumi Perkemahan Kiara Payung, ada di lapangan yang seluas lapangan bola, panggungnya sendiri ada di ujung utara, dan menghadap ke selatan, di sebalah barat didirikan tenda-tenda untuk diisi bagi para penjual pernak-pernik dagangan yang berhubungan dengan dunia biker. Sedang di Kiri ada tenda-tenda KAMPUNG BIKERS yang bisa digunakan untuk tinggal bagi para biker yang datang keacara HBD 2010 ini.
Sedangkan ditengah-tengah ada tulisan raksasan ONE HEART yang nantinya diisi dengan motor-motor para biker yang datang, hal ini sekaligus juga untuk memecahkan rekor MURI.

Di sebelah timur lagi ada lapangan yang digunakan untuk arena BENTENG ONE HEART, sebuah game mirip-mirip dengan benteng takeshi di acara TV itu :-), tapi hebat juga hadiahnya adalah beberapa buah HP CDMA, beberapa buah HP nokia dan 2 buah BB. Juga ada hadiah utama New Megapro yang bisa didapatkan dengan mengisi undian, dan hadiah NMP ini dimenangkan oleh brader yang kesehariannya naik Supra.

image

Selanjutnya silahkan menikmati foto-fotonya lebih lengkap disini

Baca lebih lanjut

Tentang iklan-iklan ini

setelah Pulsar UG4 180 cc turun harga

Saya sebelumnya telah menulis tentang persaingan antara Byson, NMP dan Pulsar UG4, tapi saat itu UG4 belum turun harga 2 juta ketika saya tulis dan bandingkan, nah ketika sudah turun harga, maka saya juga sudah menulisnya pula, tapi saya sekarang mau menulis lagi agar apa yang saya ketahui ini bisa dibaca dan bisa menjadi bahan pertimbangan bagi pembaca blog saya, bisa jadi anda tambah mumet dan pusing nantinya untuk pilih motor UG4 ini atau pilih motor lainnya. Saya mencoba diposisi netral, karena saya menulis juga enggak mendapat keuntungan apapun dari pihak manapun, tapi saya coba dedikasikan untuk biker roda dua yang ingin beli motor lanang anyar :-D

Ketika saya memutuskan beli UG4 pada Januari 2010, sejujurnya saya membandingkannya dengan Tiger yang saat itu harga barunya di Jogja kisaran 24 juta. Pertimbangan saya adalah, sosok UG4 yang gagahnya tidak kalah dengan Tiger karena UG4 ini memakai bodi dan rangka punya Pulsar 200, bahkan Shock depan sudah memakai ukuran 37mm (sama dengan ninja250r)  yang sejatinya punyaknya Pulsar 220 yang belum hadir di Indonesia sampai saat ini, ukuran ini lebih besar dari Pulsar 180 UG3 bahkan juga Pulsar 200 :-D. Kelebihan lain dari UG4 adalah Ban depan belakang juga sudah tubeless, sesuatu yang sangat penting bagi saya karena medan harian saya adalah naik turun gunung  yang sangat menyiksa jika saya harus bocor ban misal kena paku, dengan ban tubeless hal ini lebih bisa diminimkan.

Memang kekurangan dari UG4 ini adalah tidak ada oil cooler seperti punya Pulsar 200, dan juga knalpotnya tidak sebagus punya P200 yang harganya memang sekitar 2jutaan karena dari alumunium. Jadi wajar jika UG4 ini harga di Jogja saat itu 18,5juta sedangkan P200 adalah 21,5 juta, sedang Tiger tanpa rem cakram belakang kayaknya sekitar 24juta. Jadi beda harga UG4 dan P200 yang 3jutanan karena memang beda di CCnya yang selisih 20, beda di oil cooler, dan Knalpotnya. Tongkronganya sih menurut saya sama saja. Kalau soal konsumsi bensin, UG4 saya ini 40km/Liter. Pulsar 200 harusnya lebih boros.

Nah, ketika sekarang UG4 harganya di Jogja menjadi 16,4 juta, maka bukan saja dengan Tiger yang harganya 24jutaaan membandingkannya, tapi dengan NMP dan Byson juga menjadi bertarung habis-habisan. Jika tetap dibandingkan dengan Tiger, maka itung-itungannya beli UG4 akan hemat sekitar 7 jutaan lebih, kalau dibandingkan dengan NMP dan Byson, maka akan hemat sekitar 3jutaan lebih. Jika anda seneng touring dan beli UG4, Rp. 3 juta itu bisa untuk beli box belakang, beli riding gear misal jaket turing, sepatu turing, sarung tangan, tankbag dll. Menarik bukan.

Tapi gimana dengan Servise dan Spare partnya, nah inilah yang juga masih bikin saya mangkel, untuk urusan Service dan spare part, khususnya yang saya alami di Jogja, memang bajaj harus banyak belajar dari pabrikan lain yang lebih baik dalam pelayanan 2 S tersebut, bahkan urusan hadiah pembelian motor yang saat itu dijanjikan dapat jaket, saya belum menerima sampai saat ini, jian ora nguwongke tenan, nyepelekke konsumen!

Ingat saat ini bajaj turun harga pada UG4 dengan alasan karena ulang tahun ke-4 nya mengaspal di Indonesia. Dengan kondisi pelayanan Servis dan Spare Part yang mengecewakan saja, bajaj masih bisa bertahan sampai 4 tahun di Indonesia, coba nanti kalau bajaj bisa menyeragamkan dan menstandarkan pelayanan 3Snya di seluruh penjuru Indonesia, pasti akan ngedap-edhapi kiprahnya. Jadi tidak masuk akal jika motor bajaj itu ecek-ecek, yang ecek-ecek itu hanya dealernya yang kurang nguwongke konsumen.

Saya sarankan anda yang bingung beli motor lanang, untuk lihat panel spedometer UG4, yang menurut saya lebih jelas display dan angkanya untuk dilihat :-D dibanding siapa? ya dibanding motor yang mungkin akan anda beli selain UG4 tentunya. Tapi UG4 tidak ada fitur, jam digitalnya :-(

Beli motor memang tidak melulu harga, jadi terserah anda, wong duwit-duwite njenengan dewe juga kok. Saya hanya menulis pengalaman saya ketika membeli UG4 ini dibanding motor lainnya dengan fitur hampir sama tapi harga beda 6 jutanan, bagi saya uang 6 juta itu banyak banget. Saya tidak fanatik dengan UG4, hanya kebetulan inilah pilihan terbaik bagi saya dari segi harga dan fitur.

Ternyata mode memang berulang

Kemarin sempat heran lihat motor klasik Honda ada Shroudnya, lho kok kayak NMP nih, pikir saya. Apa memang ini yang menginspirasi NMP ya?

Ini kategorinya sayap atau Shroud ya?

NMP

 

yang ini punya NMP

Saya sendiri enggak tahu motor Honda klasik itu seri apa, honda 90 ya?

Memang kalau dilihat sepintas ada roh Shroud yang diwarisi oleh NMP dari Honda Classic diatas. :-D

Kayaknya BAJAJ pilih perang harga untuk hadapi NMP dan BYSON

Barusan di FB lihat statusnya teman yang ada link bahwa bajaj pulsar UG4 (uffff ini motor gueeeeeeeeeeeeeee!!!!!) harganya turun 2 jutanan, menjadi 15.9 juta on the road di Jakarta, sebagai perbandingan, dulu Januari 2010 saya beli motor ini dengan harga 18.5 juta di Jogja, jika turun 2 juta, maka harganya akan menjadi 16.5 juta, eudannnnnnn.

Saya kira bukan tanpa alasan jika BAJAJ nurunin harga Pulsar UG4 ini, kalo analisa saya jelas bahwa ini adalah PERANG HARGA untuk head to head menahan gempuran Honda New MegaPro dan dengan BYSON. Padahal TMCblog barusan nulis hal ini. Bayangkan saja NMP dan Byson sama-sama 150CC dengan harga kira-kira 19.8jutanan, lah ini Pulsar UG4 180CC, lebih tinggi 30 CC dari NMP dan BYSON dijual dengan harga 15.9 juta On the road di Jakarta. Opo Tumon!

Lantas apakah dengan harga baru ini Pulsar UG4 akan terdongkrak penjualannya? Belum tentu! saya kira Bajaj harus kerja keras menyampaikan informasi ini kepada masyarakat, dan lebih dari itu Bajaj harus membenahi Service dan Spare Part-nya di daerah-daerah yang saat ini masih kurang bagus. Jika Bajaj mampu menangani dan memberi jaminan dan memberikan kenyaman dan kepercayaan kepada calon pembeli Pulsar, maka bolehlah Honda NMP dan Yamaha Byson agak kuwatir dengan gempuran INDIHE ini.

Black Coyote

Untuk diketahui saya sampai saat ini belum mendapat jatah Jaket yang dijanjikan oleh Bajaj saat saya beli Pulsar UG4 dulu. Nganti males leh njaluk. Eh kemarin malah dapat ganti Jaket Turing dari Honda NMP, aneh kah? Trimakasih HONDA :-D.

Pesan saya untuk manajemen Bajaj, anda kudu iso NGUWONGKE konsumen, dah kalo itu bisa, pasti Bajaj bakal dilirik dan dibeli produknya dengan penuh keyakinan dari konsumen.

Tiga Blogger nampang di Koran Kedaulatan Rakyat bersama New MegaPro

Wah baru nyadar maghrib ini kalau saya nampang di Koran Kedaulatan Rakyat, koran lokal Jogja www.kr.co.id, di halaman 16 bagian bawah, dengan judul HONDA NEW MEGAPRO-BUKTIKAN KETANGGUHAN, TOURING JELAJAH JAWA.  Padahal sejak pagi tadi saya dah lihat-lihat KR ini tapi sama sekali gak kepikiran kalau itu adalah foto saya.

foto langsung dari Koran KR

foto lebih jelas yang tetap tidak jelas hasilnya :-D

Untuk cros cek sepatu dan motor NMP yang pelek ruji-ruji

Yang tampak di foto tersebut adalah saya, bisa dideteksi dari SAFETY SHOES METAL yang saya pakai warna coklat, lalu dibelakang saya adalah bro SL.com yang bisa terdeteksi dari celana dorengnya, dan yang nomer tiga adalah mas Taufik (TMCblog.com) terlihat dari helam TRXnya yang pada sisi kiri ditempeli stiker TMCblog.com

Dunia memang sempit kok, saat saya kenal dengan pak Tedy Suryadi dari AHM, eh jebul kakak kelas SMA saya juga gawe di AHM, kakak kelas saya ini beliau kelas III saya kelas I, dulu beliau ketua OSIS. Sedangkan yang motret dan menayangkan foto di Koran Kedaulatan Rakyat ini juga kakak kelas SMA, beliau kelas II saya kelas I, eh beliau juga ketua OSIS juga dulunya, kalau saya dulu Sie Kerohanian Islam :-D (anaksholeh.com).

Mas Hasan yang bertopi

Okelah tidak lupa saya ucapkan terimakasih untuk mas Hasan (wartawan KR yang saya ceritakan diatas), beliau kemarin juga mewakili media untuk turing lanjutan dari Jogja menuju SOLO. Ada yang lucu kemarin saat mas Hasan pas ambil foto itu saya panggil-panggil tapi beliau tidak tahu kalau saya, terus saat sudah rehat saya hampiri mas Hasan lalu saya ajak salaman, eh dikira saya ngajak kenalan, setelah mengenali saya barulah kami kepingkel-pingkel bareng. Saat saya cerita saya mewakili blogger, kayaknya mas Hasan belum begitu mengerti bahwa ada media yang namanya BLOG. :-D

 

Hasil scan kiriman dari bro Tongsam. thank You.

 

Blogger bisa lebih cepat menyajikan berita, tapi koran konvensional meskipun kesannya agak terlambat, tapi punya pangsa pasar tersendiri yang tidak terjangkau oleh blog. Jadi masing-masing saling melengkapi untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Turing New MegaPro dari Semarang sampai Jogja

Alhadulillah saya mewakili KOBOYS menjadi satu dari 5 blogger untuk melakoni test turing Honda New MegaPro untuk rute dari Semarang sampai Jogja. Sejak hari Jum’at sore saya sudah berada di Semarang, dan Sabtu pagi dengan diatar oleh Bro Dhuwur, Lingga dan Sudar Adp, saya sudah tiba di DP MALL yang lokasinya dekat dengan Lawang Sewu.

Lingga-Hadiyanta-Sudar Adp. KOBOYS > one heart

bro Dhuwur yang nganter saya pake meong :-D

Suasana DP MALL

Suasana masih sepi, tapi persiapan acara turing sudah nampak dengan adanya poster-poster dari Honda New MegaPro (NMP). Sambil menunggu mas Taufik, mas Tri, Bang Edo, bro SL dan Pak Tedy dari AHM maka kami mengisinya dengan berfoto-foto dahulu.

Ternyata acara pameran NMP ada di dalam DP mall, setelah pintu dibuka kami segera masuk kedalam, disini sudah ada beberapa unit NMP yang dipajang, dan inilah kali pertama kami ngelus-elus NMP secara langsung, mencoba menaikinya dan melihat-lihat beberapa fitur yang diunggulkan oleh NMP.

Suasana pameran di DP mall

nyoba posisi setang NMP di pameran DP mall

bro Lingga

Sudar Adp, wangun tenan numpak NMP :-P kasih jempol pula :-D

Bro Dhuwur, kalo kayak gini numpakke layak nunggu Honda 250 keluar.

Sekitar jam 11, rombongan blogger dari Jakarta datang, kami langsung berbincang akrab, dan itulah kali pertama untuk kami (Sudar, Lingga dan saya) berjumpa dengan mas Triatmono juragan rondo :-D, untuk ini ada cerita tersendiri nantinya.

NMP yang barusan tiba dari Tegal

Jam 11:12 rombongan turing NMP yang rute Tegal-Semarang akhirnya sampai, kami keluar sebentar untuk menyambutnya, setelah itu kami masuk lagi, eh kok ada yang heboh, ternyata juragan rondo telah menemukan makluk cantik bergaya di atas NMP, tidak lupa tentunya juragan rondo untuk pose bersama sang model, dan hal ini menjadi bidikan rame pula bagi para blogger dan wartawan yang hadir di DP mall.

Juragan Rondo dan Celengan

Setelah makan siang, dilanjutkan acara serah terima simbolis dari para rider yang mewakili media kepada para blogger, dengan penyerahan jaket yang nantinya wajib dipakai untuk turing. Setelah itu kami diberikan briefing untuk kelancaran dan keselamatan selama nanti turing dari pihak AHM dan dari salah satu brader dari klub MegaPro Semarang. Rampung itu kami mendapat pengumuman bahwa untuk blogger nanti ada dibelakang rombongan klub MegaPro yang berjumlah 9 orang dan blogger mendapatkan motor dari nomer 10-11-12-13-14, nomer 10 dipegang Mas Tri, sedangkan bang Edo dapat nomer 11, saya kebagian nomer 12, mas Taufik mendapat nomer 13 dengan warna kebesarannya MERAHMARUN, dan bro SL mendapatkan nomer 14. dan nomer 15 dipegang bapak Kesawa dari AHM.

Penyerahan jaket

Media dan blogger foto bareng setelah serah terima

Wah geli juga saya, kemarin dah posting gimana riding dengan motor yang punya rem cakram di belakang, lha kok ternyata saya malah mendapat motor NMP tromol dengan pelek ruji-ruji (spoke well). Yo wis rapopo malah cocok dengan pengalaman riding sehari-hari dengan BC saya yang tanpa rem cakram di belakang juga :-D.

Kami semua memakai Jaket dan Helm yang sama yang diberikan oleh AHM, juga diberikan pelindung dengkul untuk menjaga kemungkinan cidera bilamana nanti jatuh saat naik NMP. Rombongan turing dibuat jejer dua-dua dengan urutan 1+2, 2+3 dst sehingga saya ada di grid ke enam dengan bang Edo yang ada disamping kiri saya, mas Tri nomer 10 ada didepan saya, Bro SL ada dibelakang saya, dengan mas Taufik ada disamping kiri bro SL. Mas Tri persiapannya agak lama karena harus masang kamera di setang kirinya, juga kamera yang ada di kacamatanya. kereeeeeenn!!!.

nah ini dia motorku (sumber : infomotorbaru.blogspot.com)

Saat mencoba naik NMP ini, kesan pertama saya adalah sebuah motor yang bobotnya ringan menurut saya, terus saat naik di jok nya jelas banget saya turah-turah sikil alias tidak “dingklik detected”, NMP dengan setang yang tinggi khas motor turing menjadikan posisi tubung saya hampir tegak 90 derajat, nyaman juga dengan posisi ini, karena biasanya saya agak nunduk jika nyemplak BC, motor harian saya :-D. Pertama kali saya coba tingkah laku tuas koplingnya, dan menurut saya ini sangat enteng ditarik-tarik, sehingga untuk turing dengan jarak agak jauh, tentu tidak begitu melelahkan bagi tangan kiri untuk narik ngoplang ngopling sepanjang jalan. Terus urusan rem menjadi perhatian utama saya juga, saya coba rem cakram depan, dan gak usah diragukan lagi, PAKEM deh. Lalu rem belakang pakem juga, namanya juga motor kinyis-kinyis kok, tentu remnya masih optimal bekerja, lagi pula saya memakai safety shoes untuk riding NMP ini, dan sepatu ini dengan bentuknya yang kokoh dan agak berat, sangat membantu saya saat menginjak tuas rem belakang sehingga tidak perlu tenaga ekstra dan tidak menyakitkan bagi telapak kaki kanan saya, dan ini terbukti saya pernah sekali panic breaking, karena saya kira Mas Tri yang didepan saya narik, jebulno konstan, saya rem mendadak depan belakang dan langsung cieeeeetttttttt kedua roda bisa mengerem dengan sempurna menggaruk aspal mendecit suaranya, dan alhamdulillah tidak menyebabkan celaka bagi rombongan turing.

Jam 12:20 rombongan turing NMP akhirnya dilepas dari Semarang, wah awalnya saya agak kagok juga dengan tuas pemindah gigi yang berbentuk klasik ada tuas depan untuk diinjak sepatu bagian depan dan tuas bagian belakang untuk ditekan sepatu bagian belakang, dari pada repot, maka saya tetep hanya memakai yang tuas depan saja, layaknya saya biasa memakai BC saya, agak malu juga sempat 2 kali saya tidak sengaja malah mlorot gigi sehingga mesin menjadi meraung wah jian ngisin-isini tenan.

perlu penyesuaian dengan tuas oper gigi yang seperti ini.

Khas jalan diperkotaan, apalagi kota besar seperti semarang banyak motor, mobil dan truk besar yang melintas siang itu, sehingga walaupun jalan sudah dibuka oleh polisi tapi tetap saja hanya berjalan lambat sekitar 30-40kpj saj di perkotaan saya hanya memakai gigi 1 dan 2 saja, biarin rpm tinggi, hajar bleh mesinnya. Mesin NMP ini saya akui enteng dan responsif, tidak ada gejala ngeden saat jalanan naik pertama kali, kalau tidak salah di wilayah Gombel di sekitar komplek pemancar TV dan seluler yang tanjakannya lumayan tinggi.

Kalau ada kekurangan dari standar penilaian saya adalah goncangan saat jalanan jelek agak lebih terasa efeknya, ini terjadi di tanjakan Bawen, dalan nanjak kok pating gronjal, NMP jadi mendal mendul melibas jalan ini, saya rasa ini karena busa pada jok nya yang kurang kandel, alias kurang tebal, tapi kayaknya susah kalau harus ditebalin lagi, karena nanti posisi riding juga akan berbeda tentunya. Sebenarnya ini relatif kok, jika dibandingkan saat naik bebekku suprafit, ya tentu masih nyaman melibas gronjalan dengan NMP, tapi sejujurnya jika dibanding dengan BC saya yang beratnya minta ampun, masih lebih halus getaran goncangan BC dari pada NMP, tapi bagi anda yang belum pernah naik BC tentu tidak akan bisa membedakannya. Apalagi bagi para bebeker yang beralih ke NMP tentu ada memori enggak enaknya melibas gronjalan memakai bebek, dan akan seneng dengan kinerja NMP yang lebih baik saat melibas gronjalan, jadi untuk parameter satu ini adalah tergantung dari pengalaman pribadi masing-masing biker saja.

Jalan yang dipilih adalah Bawen ke kiri jurusan ke Salatiga jalanan sudah agak lancar disini, kami sudah bisa mencoba untuk ngegas agak pol, sampai di kota Salatiga kami belok ke kanan ke jurusan Boyolali, seingat saya kalau lurus nantinya sampai Kopeng, sebenarnya kalau bisa memilih, saya piling jalur Kopeng ini, nanti tembus ke Magelang, enaknya jalur Kopeng ini adalah jalanan naik turun dan agak menantang, tapi yo kepiye meneh, manut rombongan lah. Akhirnya rombongan sampai di pertigaan kalau kekanan kearah SELO, lagi-lagi ini adalah jalur bagus menurut saya, jalur disela-sela antar Gunung Merapi dan Merbabu, saya pernah lewat disini dari terminal magelang naik mobil pickup, saat itu mau naik ke gunung Merapi, sebenarnya di SELO bisa memilih naik ke Merapi atau ke Merbabu karena memang bener-bener disela-sela kedua gunung ini letak SELO. Jalurnya naik turun kadang kabut dan dikiri kanan jalan ada jurang diselingi perkebunan tembakau, kadang bisa menemukan para petani tembakau yang lagi “meramu” pupuk kandang dengan santainya. Oke lupakan jalur ini, lha piye kan tetep manut rombongan :-D.

Panel NMP saat belum di ON kan

Saat berhenti di daerah Boyolali

ini BC saya, silahkan menilai sendiri :-D

Akhirnya kami berhenti sebentar di Boyolali untuk minum agar tidak dehidrasi, saya langsung paksakan habis seprapat liter air mineral. Yang doyan udud tidak menyia-nyikan waktu berhenti kisaran 10 menit ini untuk udud.

Rombongan kembali berjalan, akhirnya sampai di Kartosuro, ambil belok kanan sudah masuk ke jalan Jogja-Solo, disinilah kami akhirnya bisa sedikit memaksa secara maksimal untuk masalah speed motor, captain road memberikan kode-kode untuk tarikan motor, kadang rombongan kadang dua-dua menurut grid masing-masing, tapi biasanya kami yang grid belakang langsung ngikut narik saja. Dari awal saya katakan, bahwa saya biker kebanyakan, biker biasa yang gak ngerti-ngerti banget masalah mesin, sing penting ditunggangi penak, mesin ora mrebet, ditarikke lancar, wis itu dah nyaman bagi saya :-D Untuk urusan gas pol ini, badan kudu nunduk kayak fotonya Dhuwur diatas.

NMP ini menurut saya memang ada limiternya, sayang saya kurang hapal dah masuk gigi berapa, tapi kayaknya gigi 3, RPM saya tarik sampai 9000 di redline, tapi mesin langsung nglimit nurunkan kecepatan dewe, yo wis langsung ganti gigi lagi, tarik lagi, dan saya hanya mendapatkan kecepatan 110KPJ dengan tuas gas wis mentok ora iso ditarik maning, itupun hanya saya lihat sekilas, karena saya kawatir kalau melihat terlalu lama misal kecepatan dan RPMnya maka motor didepan ada yang ngerem kan bisa gawat. Nah ini menurut saya panel indikator kecepatan cuilik timen rek, dadi susah melihatnya, lagi-lagi saya bandingkan dengan punya BC saya yang kayaknya besar dan sekali lirik dah bisa ketahuan angkanya. Mbuh ah yen iki selera saja, dan tergantung mata anda dewe-dewe.

apakah limiternya ada di komponen tersebut?

Kami tarikan sangat terbatas jaraknya, baru beberapa detik top speed dah nglorot gas lagi, jian rodo kecewa juga tidak bisa narik agak lama, dan tahu sendiri bro sekalian, karena posisi ridernya yang tegak hampir 90 derajat, maka saat tarikan mayoritas ridernya harus nunduk habis untuk mendapatkan tampekan angin yang minimal, biar tidak nabrak angin secara frontal. Tapi menurut saya yang pengalaman turing dengan BC ke Madura, mending kita jalan secara rata-rata 60-80 saja, nyaman dan terkendali, ngapain juga turing banter-banteran, malah ora iso menikmati pemandangan alam disekitar jalan, turing itu bukan sekadar untuk sesegera mungkin sampai tujuan, tapi menikmati perjalanan sepanjang jalan adalah lebih nikmat kalau menurut saya. Dan untuk NMP ini kalau jalan 60-80KPJ nyaman-nyaman saja, terasa masih nyantai, dan tidak melelahkan. Yen pingin banter yo tuku motor sing luwih banter wae.

Akhirnya kita masuk Jogja kisaran jam 15:30, saat di depan AMPLAZ kita terjebak macet, karena memang jalanan ramai sekali dan ada mobil molen guedhi, jadi agak susah menyingkir, tapi malah bagus juga, karena orang-orang bisa menyaksikan rombongan NMP lebih lama dan lebih dekat. Jadi waktu tempuhnya sekitar 3 jam karena kita berhenti di Boyolali sekitar 10 menitan. Kalau pengalaman saya dari rumah saya di Sleman paling kidul menuju Semarang di daerah Pedurungan, jarak tempuhnya sekitar 120KM, jadi kalau rute turing NMP ini saya kira sekitar 140KM karena rutenya yang memutar, sayang sekali saya kok ya lupa motret posisi awal spedometer di Semarang dan posisi akhir di Jogja, lhah baru pertama di rombongan turing kayak gini, jadi lupa deh. Tapi kalau dari pihak AHM ada kok data saat di Semarang motor saya KMnya berapa, saat di Jogja KMnya berapa, semuanya dah dicatet oleh petugas dari AHM. Yang jelas saat di Semarang posisi bensin FULL dan sampai di Jogja Indikatornya hanya hilang satu strip paling atas, rasanya kok ngirit juga. Indikator bensin ada 6 stip, kalau kapasitas tangki NMP adalah 12 liter, mungkin bisa dianggap kira-kira satu strip 2 liter. Tapi mungkin benar mungkin salah, yo wis untuk aman-nya saya ambil data resmi rilisan dari AHM saja :-D

email dari pak Kesawa (AHM)

Saya tiba di Jogja, dengan salam K = KOBOYS (foto by KB)

Jogja

Biker selanjutnya yang meneruskan dari Jogja ke Solo

Jaket Turing NMP

Demikianlah pengalaman saya turing NMP dari Semarang menuju Jogja, dengan rute jalan memutar ambil Salatiga dan Boyolali lalu ke Jogja, kesimpulannya bahwa naik NMP untuk turing memang pas, baik dari segi posisi riding yang tidak menunduk, dibawa ngebut juga bisa sampai 110KPJ, rem depan belakang yang pakem (jangan lupa aku pake tromol belakang lho), mestinya yang cakram belakang lebih pakem lagi kan. Tapi kalau enak saya rekomendasikan jalan santai kisaran 60-80 saja, ra usah ngoyo, riding sambil menikmati salam sekitar kita. Untuk dipakai di perkotaan juga enak, karena saat macet pun untuk narik tuas kopling enggak beitu berat, dan kalo macetnya lama, ya mending dinetralkan saja giginya. Mesinya yang responsif juga enak untuk sliwar-sliwer di perkotaan dengan didukung bodynya yang tidak sebesar Tiger, dan juga motornya yang enteng, pas lah kalau untuk perkotaan atau perdesaan atau sekali-kali pingin turing, karena apa memang anda mau turing terus tiap minggu, enggak lah.

ke Semarang naik bus Joglosemar

Ini adalah kali pertama pengalaman saya ke Semarang dengan naik bus, sebelumnya saya pernah ke semarang naik honda astrea star dan honda karisma, bus yang saya naiki adalah Shuttle Bus Joglosemar yang kalau di jogja kantornya ada di Jalan Magelang Km 5,5. Tiketnya Rp. 40.000

Kantor Joglosemar Jogja

Saya pilih berangkat jam 14 dari jogja, karena estimasi waktu sekitar 3 jam maka paling tidak jam 17 sudah sampai Semarang. Jam 14 tepat para penumpang yang sudah berkumpul di kantor Joglosemar Jogja diminta naik ke bis, setelah petugas mengecek masing-masing penumpang dan memberi BOX beriksi roti dan air mineral gelas, maka bis berangkat jam 14:10. Saya pilih kursi nomer 17, karena letaknya di tengah dan dekat dengan pintu bis.

Ruang tunggu yang nyaman

Bis yang akan kunaiki

Bisnya lumayan nyaman, karena hanya berisi dua kursi di deret kiri dan dua kursi di deret kanan, dan dengkul saya yang panjang bisa lega tidak mentok ke kursi di depan saya. Bis memakai AC yang lumayan dingin, ditambah tadi hujan lumayan besar di wilayah Tempel, akhirnya daripada ngantuk, saya buka Si Putih saya, mencoba online di dalam bus, lumayan di sepanjang jalan hampir tidak putus sinyalnya, di daerah Secang sinyal sempat putus karena ada di sela-sela pegunungan, mungkin sinyalnya nyangkut di pucuk gunung :-D.

Ini tiketnya

Ini box roti dan air mineral

Akhirnya sampai di Bawen Si putih saya matikan, dan saya bertanya pada kondektur apakah tujuan saya yaitu turun di SPBU Ungaran depan SMP 1 Ungaran sudah dekat? dan dijawab hampir sampai. Jam 16:45 saya sampai juga di SPBU Ungaran, disini bro Sudar Adp sudah menunggu saya, dan selanjutnya kami menuju ke GunungPati dekat kampus Unnes. Sebelumnya saya mampir untuk sholat asyar di masjid pinggir jalan, setalah alun-alun ungaran.

Kopdar mini dengan Bro Lingga dan Sudar Adp

Singkat kata saya tiba di tujuan untuk bermalam, dan jam 8 malam bro Lingga berkunjung untuk kopdaran dengan saya, inilah kali pertama saya ketemu darat sama bro Lingga, dulu bro Lingga pernah ke Jogja, tapi saya pas tidak bisa datang.

Saya ke Semarang karena memenuhi undangan dari AHM untuk ikut acara Turing New MegaPro dari Semarang menuju Jogja. Daripada saya berangkat Sabtu pagi dan kesusu, maka saya putuskan berangkat Jumat saja, biar bisa istirahat, biar nanti turingnya bisa fresh.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.525 pengikut lainnya.