EDP rainbowTV dan SportOneTv di KPID DIY

Hari ini saya kembali menghadiri undangan acara EDP di KPID DIY, sedangkan yang akan EDP adalah dua tv yang akan bersiaran dengan mode siaran digital DVB-T2, yaitu rainbowTV dan sportOneTV.

adp150513a

RainbowTV lebih seperti umumnya TV tetapi dengan konten yang dijanjikan akan tidak ada unsur porno, dan konten siarannya akan berisi hal hal mengenai lingkungan hidup dan pendidikan.

Program acaranya antara lain

- Pelangi Jogja

- Lunch Breack

- Go Green

- Resto resto

- Blusukan

- Wanita Perkasa

- Benny Show

- Quick Cooking

edpc

RainbowTv

Sedangkan untuk sportOne adalah tv dnegan konten siaran full acara olah raga, yang antara lain nanti program acaranya adalah

- Olah raga Tradisinonal (seperti panahan, lomba egrang, dll)

- Olahraga Komunitas

- Olahraga Kesehatan

- Berita Olahraga

- Arena Olahraga

- Gaya Hidup

- Film Olahraga

- Diskusi olehraga

- Kartun Olahraga

- Bio Tokoh olahraga

- Golden Moment

- Sport Game

edpb

SportOneTV

About these ads

EDP genTV, emotionTV, RepublikaTV di KPID DIY

Hari ini ada undangan acara EDP tiga content provider TV baru yang siap mengudara di Jogja, ketiganya adalah sebagai berikut :

1. GenTV
2. E-motion TV
3. Republika TV

Acara dimulai pada jam 9:38, molor seperti biasa dari undangan yang tertulis jam 09:00.

image

Setelah dibuka dan sambutan dari ketua KPID DIY, acara dilanjutkan EDP (evaluasi dengar pendapat) atau istilah gampangnya ketiga TV ini presentasi untuk minta tanggapan dan masukan serta ijin untuk bersiaran di jogja.

GenTV adalah TV yang menembak sasaran generasi muda sebagai pemirsanya, tentu saja nanti acaranya khas anak muda. Dan di Jogja sudah berkolaborasi dengan radio JIZZ FM yang alamatnya di Sonosewu, apa ini dulunya radio BIKIMA itu ya? (oh iya baru ingat Rasia Lima, kalau Bikima kan yang di dekat Jalan Pramuka dekat Umbulharjo itu ya)

edp2013b

E-motion TV adalah awalnya PH (production house) yang memasok acara-acara ke TV, dan sekarang mencoba untuk menyiarkan sendiri program yang dibuatnya. Sehingga sasarannya adalah hiburan. Musik dan sinetron sepertinya menjadi menu andalan dari tv ini.

RepublikaTV tentu kita bisa tebak, basisnya adalah koran republika, mungkin seperti kompasTV yang basisnya adalah koran kompas, tentu saja RepublikaTV ini sumber daya untuk isi siaran bisa berkiolaborasi dengan koran Republika. Untuk Republika ini program utamanya adalah MENCERAHKAN DUNIA DAN AKHERAT.

edp2013d

Nantinya ketiga tv baru yang sedang dalam proses EDP dan perijinan ini, tentu saja dalam siarannya sudah dalam format DVB-T2, sehingga nanti tinggal menyerahkan penyiarannya kepada NETWORK PROVIDER yang mereka ininkan, ada 5 Network Provider, yang masing-masing bisa menampung 6-12 siaran sekaligus, sehingga bisa banyak pilihan mau bergabung di NETWORK PROVIDER yang mana.

Jadi kita tunggu saja apakah dalam waktu dekat ini mereka akan segera mengudara di jogja.

edp2013c

ini lho bedanya antara penerima TV analog, dengan penerima TV digital DVB-T2

tif2

Ini TV DIGITAL lho meskipun layarnya TABUNG

Dari pengalaman saya bincang bincang dengan beberapa orang, hampir 100% mereka tahunya kalau TV yang tipis misal LCD atau LED itu adalah TV DIGITAL. Mungkin bisa benar jika TV LCD itu sudah include tuner DVB-T2. Tapi kalau belum ada tuner DVB-T2 ya belum bisa disebut tv penerima digital teresterial.

Foto paling atas malah bisa disebut TV DIGITAL, walaupun itu layarnya masih TABUNG yang besar dan memakan tempat. Karena tv tabung diatas sudah saya beri STB DVB-T2 yang saya letakkan diatas  tv tabung.

Sedangkan foto dibawah ini, meskipun ini adalah monitor LCD, yang aslinya adalah monitor komputer di rumah saya, tapi saya belikan tuner tv ANALOG merk gadmei dengan harga Rp. 155.000,- Jadilah layar LCD ini menjadi penerima TV Analog.

LCD View Sonic diberi receiver tv analog merk Gadmei

Ini TV ANALOG lho. layar LCD View Sonic diberi receiver tv analog merk Gadmei

TV Tuner ANALOG Gadmei

TV Tuner ANALOG Gadmei

Untuk instalasi TV TUNER ANALOG Gadmei ini, intinya tv tuner ada di antara monitor dan komputer.

Instalasi kabel dan antena dilihat dari atas

Instalasi kabel dan antena dilihat dari atas

lebih jelas lagi

lebih jelas lagi

Perbandingan penerimaan tv digital vs analog dg antena dan tv yg sama di rumah saya

Set Top Box DVB-T2 difoto dari sisi bawah dan belakang

Set Top Box DVB-T2 difoto dari sisi bawah dan belakang

Alhamdulillah akhirnya bisa ngetest lagi penerimaan siaran DVB-T2, tv digital teresterial di rumah saya. Kali ini saya memakai STB (set top box) milik kantor saya. Dan Ajaibnya sekarang tvOne dan Antv bisa diterima di rumah saya, padahal dulu saat pakai STB HD2000 sama sekali tidak bisa menangkap tvOne dan Antv digital dirumah saya. Mungkin STB yang ini lebih peka.

Saya memakai tv tabung milik adik saya, cara instalasi STB sudah pernah saya tulis, sehingga tidak perlu saya tulis ulang. Dalam tulisan kali ini saya lebih mengajak untuk membadingkan hasil penerimaan siaran digital dengan siaran analog. Perlu diperhatikan bahwa TV tabung dan antena yang dipakai adalah sama. Sehingga bisa dibandingkan dengan adil.

Saat dihidupkan pertama kalinya, maka otomatis akan ada pilihan bahasa dan teritori negara, pilih saja INDONESIA, nanti selanjutnya akan scaning otomatis seperti foto dibawah ini.

STB DVB-T2 sudah dipasang di TV Tabung

STB DVB-T2 (diatas TV tabung), sudah disambung dengan TV Tabung

Ditunggu saja sampai selesai seluruh frekuensi UHF ter scan, dan hasilnya nanti tv digital yang tertangkap akan terpampang di daftar seperti foto dibawah ini. Sebenarnya untuk tvOne DIGITAL dan tvOne DIGITAL Jogja itu isinya sama saja, memang sengaja saya isi dua untuk tvOne, saya beri tambahan tvOne DIGITAL Jogja, agar enak saja untuk melihat bahwa ini berasal dari pemancar di jogja. Karena tv digital ada juga pemancarnya di Magelang dan Purworejo, ada kemungkinan untuk daerah diperbatasan, besok bisa dapat dari tvone jogja, atau bisa juga dari pemancar digital di Magelang atau Purworejo. Oh iya satu pemancar ini bandwidth nya bisa 40 MBPS, jika satu konten tv digital SDTV (standard TV) hanya butuh 4MBPS, maka untuk 40 MBPS dibagi 4 MBPS, maka akan bisa diisi 10 konten tv digital, sedangkan saat ini untuk pemancar tvOne digital di Jogja baru diisi 3 konten tv digital, sedangkan pemancar digital TRANSTV baru diisi dua konten tv digital, yaitu transtv digital dan trans7 digital. Sebagaimana bisa dilihat pada foto dibawah ini.

Daftar TV siaran digital yang tertangkap di rumah saya

Daftar TV siaran digital yang tertangkap di rumah saya

Foto dibawah ini contoh saat kita pilih kanal pertama 001 seperti foto diatas. Kebetulan tadi pas saya foto pas menkoinfo sedang diwawancari reporter tvOne saat banjir di Jakarta.

tvOne Digital Jogja

tvOne Digital Jogja

tif2

tvOne digital Jogja :-D

tvOne digital Jogja :-D

Foto dibawah ini adalah hasil penerimaan siaran ANALOG, dapat dilihat dengan jelas bahwa siaran analog mengalami penurunan kualitas jika semakin jauh dari pemancar. Makin jauh dari pemancar makin banyak semutnya :-D .

Jika tv digital maka pada jarak tertentu jika sinyal dari pemancar sudah tidak sampai, maka di daerah tersebut tidak bakal bisa menerima siaran digital. alias menjadi daerah blank spot.

tvOne Jogja yang analog

tvOne Jogja yang analog diterima di rumah saya

Kalau dirumah saya, entah mungkin posisi antena yang tidak bersahabat dengan antv analog, maka hasilnya yang penerimaan tv analog, jelek sekali, berbeda dengan penerimaan siaran tv digital antv yang jernih. Ingat lho ini masih memakai tv tabung dan antena yang sama.

ANTV Digital Jogja

ANTV Digital Jogja diterima di rumah saya

ANTV Analog Jogja

ANTV Analog Jogja diterima di rumah saya

Untuk penerimaan tv analog yang TransTV saya lupa tidak memfotonya, tapi kualitas siaran analog TransTV di rumah saya lumayan baik kok. Tapi tetap saja lebih jernih yang digital seperti foto dibawah ini.

TrnasTV digital di Jogja

TransTV digital di Jogja

Trans7 digital Jogja

Trans7 digital Jogja

Trans7 Analog Jogja

Trans7 Analog Jogja

Sayangnya saat ini belum banyak pedagang yang tahu peluang jualan STB DVB-T2 ini, karena kalau mau jualan, tentu lagu, karena sudah ada tv digital siaran, khusunya di jogja saat ini ada 4 aygn pasti siaran digital bisa diterima, yaitu tvOne, antv, transtv, dan trans7. Nanti tentu akan disusul oleh tv-tv yang lain.

Yang pasti jangn sampai 2014 saat ada piala dunia sepakbola, anda masih melihatnya dengan tv analog, pastikan besok pakai tv digital, beli tv LCD yang besar tinggal ditambah STB DVB-T2 ini, maka sudah bisa menonton siaran tv digital yang jernih dan indah :-D

TV mu dirumah digital belum?

Sering kali kita rancu dan bingung tentang tv digital.

Apakah tv penerima saya dirumah sudah digital?

===================================================================

oh TV ku kan tv digital, sudah teknologi LED.

TV ku juga sudah digital, kan sudah LCD

TV ku juga sudah digital, kan TV Plasma

ini tv ku digital lho, kan ada di HP dan di tabletku android

wah TV ku belum digital nih, kan masih tv TABUNG yang bentuknya kotak besar.

===================================================================

CRT (tabung), LED, LCD, Plasma, adalah teknologi layar TV. Layar tv sebenarnya NETRAL saja posisinya.

Memang ada SDTV alias standard tv yang rasionya adalah 4:3 (rasio panjang X lebar)

dan ada layar TV dengan rasio 16:9, yang support HDTV, jadi TVnya lebih panjang.

Boleh jadi saya hanya punya TV tabung, tapi bisa juga anda punya LED, LCD atau plasma TV dirumah. Semua itu adalah LAYAR TV, digital atau bukan adalah tergantung masukannya.

Saya bisa nonton tv digital satelit, dengan memakai receiver atau STB DVB-S/S2.

saya bisa nonton tv digital teresterial, dengan memakai receiver atau STB DVB-T2

saya bisa menonton tv digital kabel, dengan memakai receiver atau STB DVB-C (cable)

ingat saya hanya punya satu  TV lama model tabung yang bentuknya kotak besar.

Tambahan, untuk yang nonton tv di HP atau di tablet android, semua itu masih receiver analog. Belum saya jumpai HP atau tablet android dijual di indonesia yang sudah include receiver DVB-T2. (inspirasi dari kang Triyanto Banyumasan)

karena saat ini tv digital teresterial sedang tahap memulai siarannya, maka jangan heran jika besok ada produsen TV yang melengkapi TV nya dengan receiver abalog dan receiver DVB-T2 sekaligus, dan untuk saat ini saya sarankan dengan sangat, jika beli TV, tolong beli  yang sudah ada receiver DVB-T2 nya. Biar langsung bisa melihat TV digital teresterial DVB-T2, dan jika misal ada tv yang belum siaran digital, anda masih bisa melihatnya dengan merubah ke pilihan receiver analog.

Semoga bermanfaat.

#bisa jadi saya salah dalam definisi dll, mohon koreksinya, karena saya juga sedang belajar.

Seminar Digitalisasi Penyiaran dan Keberpihakannya Terhadap Televisi Lokal di KPID DIY

 

Para nara sumber

 

Dasar digitalisasi

 

peserta seminar

 

peserta dari transtv dan MNCTV

STOP! jangan beli tv baru, kecuali sudah include DVB-T2 receiver

Banyak yang mengira bahwa kalau beli tv yang tipis jenis LED atau LCD itu adalah sudah tv digital. Sama sekali bukan itu yang dimaksud tv digital.

LED, LCD, OLED adalah teknologi layar televisi, yang dahulu pada awalnya layar televisi model tabung yang besar dan cembung, memakan banyak tempat, maka dengan teknologi layar LED, LCD dan OLED bisa menjadi tipis sehingga tidak makan tempat.

Saya yakin belum banyak yang tahu bahwa mau tidak mau pada akhir tahun 2017 (semoga saya tidak salah) pemancar tv analog akan CUT OFF, pemancar analog adalah pemancar tv yang sekarang ini beroperasi yang kita terima gratis di rumah-rumah dengan pesawat tv dan antena. Mulai 2013 pemancar tv digital akan on air, memancar bersama (multicast) dengan pemancar analog. Dan akhirnya pemancar analog akan dimatikan pada akhir tahun 2017, maka tinggal yang ada hanya pemancar tv digital.

Sebenarnya untuk jogja, saat saya menulis artikel ini transtv dan trans7 sudah siaran digital dengan DVB-T2, dengan kekuatan pemancar 2,5 KW, ini kira kira setara dengan 10 KW pada pemancar analog. Jadi sebenarnya masyarakat mulai sekarang sudah bisa melihat siaran tv yang digital, tetapi dengan catatan sudah punya tv yang ada receiver (penerima) standard DVB-T2, bagi yang sudah punya tv dengan DVB-T, tetap tidak bisa menerima, pokoknya harus yang DVB-T2 :-D

Apakah masyarakat harus beralih menonton digital saat ini? Jawabannya adalah TIDAK WAJIB, tetapi bisa. Bisa dalam hal ini kalau sekarang ya harus beli SET TOP BOX (STB) sendiri, STB nya harus yang DVB-T2, STB ini adalah alat untuk menangkap sinyal digital DVB-T2, alat ini diletakkan di antara antena dan tv lama kita. Jangan bingun, kalau beli STB, pasti nanti ada petunjuk pemasangannya :-D

Jadi TV lama dan antena lama kita tetap masih bisa dipakai untuk menonton tv digital dengan tambahan STB ini. Jadi tidak perlu beli tv baru. Tetapi harga STB ini kira-kira 200.000 – 300.000, dan masalahnya saat ini masih sulit mencari penjual STB yang DVB-T2.

Harusnya pemerintah kita meniru pemerintah Jepang, yaitu di toko-toko televisi, semua televisi yang dijual harus diberi stiker keterangan. Misal tahun 2017 akhir tv analog benar-benar CUT OFF, maka untuk yang jualan TV analog harus diberi keterangan sebagai berikut “pesawat tv ini hanya bisa menangkap siaran analog, dan pada tahun 2017 akhir tidak bisa disetel lagi karena pemancar tv analog sudah tidak siaran” 

Lalu untuk pesawat tv digital harus diberi keterangan juga, kira-kira sebagai berikut “pesawat tv ini   dijamin bisa menangkap siaran tv digital teknologi DVB-T2 yang sudah mulai siaran pada bulan november 2012″

Dengan cara tersebut maka masyarakat benar-benar tahu resikonya, misal saat sekarang ini tetep pilih beli tv analog, maka pesawat tv hanya bisa dipakai sampai akhir 2017. Setelah itu harus beli yang tv digital.

Teknologi tv digital ini memang tepat dimulai pada tahun 2013 dan pemancar tv analog tetap siaran sampai akhir tahun 2017, sehingga kita punya waktu 5 tahun  utnuk menghabiskan pesawat tv analog, karena diperkirakan setelah dipakai 5 tahun terus menerus, pesawat televisi akan rusak, dan jika beli pesawat tv baru, maka otomatis beli yang digital saja.

Bagi penonton di rumah, simpelnya teknologi digital ini adalah, penonton di rumah bisa menonton televisi dengan kualitas audio dan video lebih baik daripada yang teknologi analog, jika rumah kita kebetulan jauh dari pemancar tv analog, maka akan banyak semut di tv kita, alias gambarnya tidak bening, hal ini tidak akan terjadi di pemancar tv digital dan pesawat tv penerima di rumah yang sudah digital, hanya ada dua hal, jika mendapat sinyal, maka akan dapat gambar dan usara yang bagus, sebaliknya jika tidak mendapat sinyal, maka tidak bisa sama sekali terlihat siarannya. Satu algi jika saat ini hanya ada 14 tv siaran di Jogja Solo, maka besok akan bisa ada 72 tv, nah bingung kan mau lihat tv mana :-D

Jadi monggo pastikan yang mau beli pesawat tv baru, jangan sampai lalai untuk memastikan bahwa pesawat tv nya sudah ada receiver DVB-T2. Ingat ya harus DVB-T2, bukan yang DVB-T.

Semoga bermanfaat.

bulan november 2012 siap siap nonton tv digital teresterial di jogja

Setelah agak malas menulis, terutama dibidang otomotif roda dua, lagian sudah banyak blogger yang menulisnya :-D saya kembali menulis hal yang sesuai dengan dunia saya saja, yaitu televisi.

Siapa sangka bahwa tv digital teresterial free to air, alias gratis bisa segera dinikmati warga jogjakarta dan sekitaranya, malahan jateng dan jogja. Dahulu pada pesimis kalau tv digital teresterial paling cepat akan on air sekitar 2018-2020, tetapi inilah teknologi yang bagaimanapun tidak bisa dibendung, sementara banyak negara-negara lain sudah beralih ke teknologi digital teresterial, maka mau tidak mau negara kita Indonesia harus segera ikut pula migrasi dari siaran televisi analog teresterial  ke siaran televisi digital teresterial.

Saya mendapat info bahwa metrotv sudah siaran digital teresterial di banyak kota, tapi untuk jogja sepertinya belum. Saat ini semua pemenang tender NETWORK PROVIDER seharusnya memang segera bergegas untuk installasi pemancar digital, yang saat ini diputuskan memakai teknologi DVB-T2. Untuk daerah jogja, yang saya dengar baru indosiar yang sudah datang peralatan pemancarnya, kalau tidak salah dengan kekuatan 5KW. Untuk tvOne sendiri saat ini juga sudah installasi, dan kemungkinan bulan november 2012 ini bisa on-air di jogja, dengan kekuatan 1KW. Untuk diketahui bahwa jateng dan DIY ini satu area layanan, kenapa cuma 1 KW, karena jangkauan 1 KW pemancar digital hampir sepadan dengan 10 KW pemancar analog, padahal di derah magelang sudah ada pemancar sendiri yang malah sudah on air sekitar 2 hari yang lalu dari saat saya menulis ini, sehingga warga magelang besok tidak perlu lagi mengarahkan antena tv nya ke arah Patuk, GunungKidul. Cukup arahkan saja antena warga magelang ke Radio GKL FM, karena disanalah pemancar tv digital tvOne berada. Sebenarnya untuk teknologi digital ini, arah antena di rumah-rumah tidak terlalu dituntut benar-benar mengarah ke pemancar, asal dapat sinyal pasti televisi bisa muncul siarannya. Untuk televisi digital ini nantinya tidak ada lagi gambar semut tidak jelas, kalau bisa menangkap ya akan muncul siarannya di tv rumah, kalau tidak bisa menangkap ya blank.

Teknologi DVB-T2 ini adalah pengembangan dari DVB-T, tentu saja lebih baik yang DVB-T2 yang kualitas videonya sudah MPEG4, dibanding DVB-T yang hanya MPEG2. Sayangnya SET TOP BOX yaitu alat tambahan untuk menangkap sinyal televisi digital lalu dikonversikan ke analog lagi agar bisa ditampilkan di pesawat televisi lama kita di rumah, dengan standard DVB-T2 sepertinya belum banyak dijual, bahkan tv yang include DVB-T2 receiver sepertinya saya cari-cari via google juga belum ketemu. Kemarin saya sempat ketemu box android yang sudah support DVB-T2, seperti lazimnya box tv android yang tinggal disambung ke tv LED (sepertinya kayak gitu saat saya lihat pas pameran di JEC).

Kesimpulannya adalah bahwa dengan teknologi digital ini akan ada enam buahNETWORK PROVIDER yang masing masing bisa menyiarkan konten tv sebanyak 12, sehingga akan bisa ada 72 tv yang bisa sisaran bareng di Jogja saat era digital, dan untuk menangkap siaran tv digital ini harus pakai alat STB DVB-T2 untuk tv-tv lama, atau anda beli saja tv baru yang sudah include receiver DVB-T2, ingat ya yang DVB-T2, bukan yang DVB-T.

Network Provider tv digital teresterial Zona layanan 6 (Jawa Tengah dan Yogyakarta)

Saya fokuskan untuk menulis Zona 6 yaitu area Jogja dan Jateng yang digabung menjadi satu, karena tempat kerja saya di area 6 ini, yaitu di pemancar TV di Jogja bertempat di Bukit Patuk GunungKidul. Sekarang ini saat masih tv analog, Jateng dan DIY terdiri beberapa zona mengingat ada interferensi yang diakibatkan masih memakai teknologi pemancar analog,

Sebelumnya marilah kita membaca pengumuman dari kominfo disini :

http://kominfo.go.id/berita/detail/3389/Ini+Seleksi+Kominfo+Tentang+Penyiaran+TV+Digital+di+5+Zona+

Jadi pemenang Zona layanan 6 (Jawa Tengah dan Yogyakarta) adalah :
1. PT GTV Dua (Global TV),

2. PT Indosiar Televisi Semarang (Indosiar Semarang),

3. PT Lativi Mediakarya Semarang-Padang (TVOne Semarang),

4. PT Media Televisi Semarang (Metro TV Jawa Tengah),

5. PT Trans TV Semarang  Makassar (TransTV Semarang).

6. yang keenam sepertinya TVRI, jadi tidak perlu dilelang :-D

Pada era tv digital memang tidak ada tv nasional, adanya tv lokal, sehingga bisa dilihat diatas contoh pemenang kedua adalah Indosiar Semarang.

Lhoh kok cuma ada 6 pemenang dengan TVRI? Lantas apa ini artinya? Artinya adalah untuk wilayah Jateng DIY, besok saat teknologi digital teresterial-free to air digelar, hanya ada 6 tower atau 6 stasiun pemancar tv digital sebagaimana diatas. Lho piye iki kok malah cuma ada 6 tower? malah jadi sedikit dong? Tenang… karena ini memakai teknologi digital yaitu DVB-T2, maka untuk satu tower pemancar, bisa memancarkan 12 konten tv sekaligus. Jadi besok maksimal akan ada 6 tower dikalikan 12 konten tivi = ada 72 konten tv digital yang bisa kita nikmati dirumah kita dengan gratis. Padahal di Jogja saat ini ada 10 tower yang memancarkan 14 tv sebagai berikut :

1. Transtv

2. tvOne

3. jogjatv

4. TVRI

5. indosiar

6. SCTV

7. MNC (satu tower untuk RCTI+MNCTV+GLOBALTV+ADITV)

8. antv

9. trans7 (satu tower untuk trans7 dan kompastv)

10. metrotv

Karena besok hanya ada 6 tower saat digital, maka akan ada 4 tower tidak digunakan, dan kira kira yang akan tidak dipakai lagi adalah sebagai berikut :

1. SCTV (karena satu grup dengan indosiar)

2. antv (karena satu grup dengan tvOne)

3. trans7 (karena satu grup dengan transtv)

4. jogjatv

Untuk MNCjogja tidak menjadi masalah, karena dari awal sudah satu tower digunakan bersama oleh RCTI, GlobalTV, MNCtv dan ADItv. Menjadi masalah bagi yang satu grup tapi punya dua tower, misal seperti ANTV dan tvOne, pastilah harus dipilih salah satu tower dan lokasi pemancar yang paling baik dari keduanya. Kebetulan untuk Jateng DIY yang menang adalah tvOne, maka wajar bila pemancar digitalnya besok ditaruh di  tvOne, begitu pula dengan grup yang lain.

Aturan dari menteri kominfo adalah maksimal hanya 3 slot yang dipakai sendiri oleh pemilik pemancar, yang 9 harus disewakan kepada tv lain, walaupun mungkin itu tv kompetitor. Ini untuk menghindari monopoli.

http://kominfo.go.id/berita/detail/3399/Menkominfo%3A+Siaran+TV+Digital+Bakal+Anti+Monopoli

Baiklah sekarang kita melangkah ke kanal frekuensi yang bakal dipakai tv digital teresterial.

http://kominfo.go.id/siaran_pers/detail/999/Siaran+Pers+No.+60-PIH-KOMINFO-8-2011+tentang+Uji+Publik+RPM+Master+Plan+Frekuensi+Radio+Untuk+Digital+Teresterial+Pada+Pita+478-694+MHz+

Beberapa hal penting yang diatur dalam RPM ini adalah sebagai berikut:

  1. Pita frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial adalah 478 – 694 MHz dan digunakan untuk keperluan: penyiaran televisi siaran digital terestrial masa depan ( future plan ) pada rentang frekuensi 478 – 526 MHz ; dan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) pada rentang frekuensi 526 – 694 MHz.
  2. Setiap penggunaan frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) wajib memenuhi ketentuan teknis sebagai berikut: rasio proteksi ( protection ratio ) sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini; dan kuat medan ( field strength ) pada lokasi titik pengujian/pengukuran di setiap wilayah layanan dibatasi maksimum 42,6 dbµV/m.
  3. Penggunaan frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) di setiap wilayah layanan wajib mengikuti pemetaan kanal frekuensi radio.
  4. Penetapan kanal frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) di wilayah layanan yang cakupannya dapat menjangkau negara lain dilakukan berdasarkan koordinasi antara Direktorat Jenderal dengan administrasi telekomunikasi negara yang terkait.
  5. Penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) di suatu daerah yang tidak tercakup oleh wilayah layanan manapun dapat menggunakan Gap Filler pada kanal 46 (670-678 MHz), kanal 47 (678-686 MHz) dan/atau kanal 48 (686-694 MHz).
  6. Penggunaan frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) dapat menerapkan teknik Single Frequency Network (SFN) pada kondisi sebagai berikut: pada wilayah layanan tertentu sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini; atau pada suatu daerah di satu wilayah layanan yang tidak mendapatkan sinyal dengan kualitas baik ( blank spot) .
  7. Setiap alat dan perangkat radio yang digunakan untuk keperluan televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) wajib mendapat sertifika t alat dan perangkat radio dari Direktur Jenderal.

Untuk satu area layanan tv digital teresterial, diputuskan hanya 6 kanal frekuensi, sedangkan frekuensi yang disediakan adalah

Band IV :    

Nomor

Batas Frekuensi

Frekuensi Tengah

Kanal

(MHz)

(MHz)

1

22

478 – 486

482

2

23

486 – 494

490

3

24

494 – 502

498

4

25

502 – 510

506

5

26

510 – 518

514

6

27

518 – 526

522

7

28

526 – 534

530

8

29

534 – 542

538

9

30

542 – 550

546

10

31

550 – 558

554

11

32

558 – 566

562

12

33

566 – 574

570

13

34

574 – 582

578

14

35

582 – 590

586

15

36

590 – 598

594

16

37

598 – 606

602

Band V :

17

38

606 – 614

610

18

39

614 – 622

618

19

40

622 – 630

626

20

41

630 – 638

634

21

42

638 – 646

642

22

43

646 – 656

650

23

44

656 – 662

658

24

45

662 – 670

666

25

46

670 – 678

674

26

47

678 – 686

682

27

48

686 – 694

690

Penyiaran televisi digital teresterial menggunakan teknologi DVB-T2 dengan teknik SNF (single network frequency), sehingga nantinya untuk Jateng DIY misal sebagai contoh tvOne andaikan dapat kanal 35, maka seluruh Jateng DIY, semua pemancar digital tvOne memakai kanal frekuensi tersebut. Apakah tidak interferensi? Karena sudah digital dan menggunakan teknik OFDM (orthogonal frequency division multiplexing) yang bisa multi carrier system dengan membagi lebar bidang frekuensi yang tersedia (8Mhz) kedalam beberapa frekuensi yang lebih kecil, lalu data ditransmisikan secara pararel, sehingga bisa mengatasi masalah interferensi.

Untuk mengkover Jateng DIY diperlukan beberapa titik pemancar yaitu : Jogja, Purworejo, Magelang, Semarang, Pati, Brebes, Blora, Cepu, Purwokerto. Mirip sekali dengan network planning untuk telepon selular, bedanya kalau untuk selular menggunakan CDMA dan TDMA (gsm), kalau tv digital menggunakan OFDM.

Berikut ini perkiraan saya pribadi untuk pembagian frekuensi untuk tiap tiap daerah, karena saya cari cari master plan SNF nya belum juga saya temukan. kebetulan dulu skripsi saya tentang OPTIMALISASI JARINGAN GSM, jadi sedikit-sedikit saya paham tentang frequency planning.

Misal Untuk Jakarta dan Banten adalah : 22, 26, 30, 38, dan 42 masing-masing pemancar digital akan terpisahkan oleh 3 kanal frekuensi, agar mereduksi kemungkinan interferensi antar pemancar (mohon maaf ilmu saya benar-benar belum mendalam tentang OFDM dan SNF ini)

Jakarta

Jateng

Jabar

Jatim

1

22

33

24

25

2

26

27

28

29

3

30

31

32

33

4

34

35

36

37

5

38

39

40

41

6

42

43

44

45

Lantas bagaimana dengan para pemirsa nantinya saat tv digital ini digelar? Tidak masalah karena pemancar tv analog juga masih hidup, sampai nanti ditentukan MATI (cutt off) jika suatu area sudah siap 100% perangkatnya menerima tv digital. Nantinya kalau saya tidak salah, akan ada pembagian SET TOP BOX semacan konverter untuk dipasang pada tv dirumah yang masih analog agar bisa menerima pancaran tv digital. Letak SET TOP BOX (STB) ini ada di antara colokan antena dan TV analog. jadi colokan ujung kabel antena nanti masuk ke STB, lalu keluaran dari STB masuk ke colokan antena di TV. Tidak merubah apapun, baik tv maupun antena. Cukup tambahkan alat STB ini maka bisa menonton siaran tv digital.

Jika akhir tahun 2012 tv digital sudah benar-benar digelar di Jogja dan Jateng, maka logikanya tahun 2013 mulai dijual tv yang sudah ready untuk menerima siaran tv digital, harusnya tv analog tidak laku lagi.

Akhirnya selamat datang era tv digital di indonesia, Jateng dan Jogja khususnya.

Lampiran

http://web.kominfo.go.id/sites/default/files/Permen%20Masterplan%20Frekuensi%20Untuk%20Digital.pdf

Peluang PH dalam era televisi digital DBV-T2 di Indonesia

Tidak lama lagi, mau tidak mau, Indonesia harus menggelar juga teknologi pemancar TV teresterial free to air alias televisi gratis lewat pemancar menggunakan teknologi DVB-T2, standard yang dipakai oleh mayoritas negara-negara di dunia.

Keuntungan paling gampang dilihat adalah, bahwa besok saat tv digital teresterial digelar, maka akan ada 72 tv bersiaran bersama di tiap wilayah. Bandingkan dengan sekarang yang kisaran 10-15 tv saja per daerah.

Besok saat DVB-T2, ada dua kelompok usaha, yang pertama adalah kelompok perusahaan penyedia siaran, yaitu menyediakan tower dan pemancar disebut NETWORK PROVIDER, lalu ada perusahaan tv yang disebut CONTENT PROVIDER, yaitu penyedia isi siaran. Content provider ini besok tinggal menyewa kepada NETWORK PROVIDER untuk menyiarkan ISI SIARAN TV miliknya. Masing-masing bsia fokus di bidang usahanya, yang network provider fokus menyediakan peralatan pemancar yang bagus, yang content provider tinggal fokus membuat acara yang bagus.

Jadi saat ini untuk tv tv yang siarannya sudah mayoritas acaranya bikinan sendiri, akan lebih siap menghadapi era tv digital. Terutama acara-acara bikinan sendiri yang unggul dan ditunggu pemirsa tv. Jika melihat trend saat ini banyak acara yang hanya mengambil video di youtube, maka tv-tv seperti itu kelak akan kesulitan untuk membuat acara sendiri untuk mengisi 24 jam tayangan tvnya. Kenapa demikian, karena internet makin lama makin cepat, dan orang misal ber hp android akan gampang banget untuk nonton langsung streaming video youtube di hpnya.

Paling menarik adalah dengan 72 TV siaran bareng di tiap daerah, maka peluang PH untuk membuat dan memproduksi sebuah program acara sangat terbuka lebar, bisa dibayangkan sendiri secara hitungan kasar ada 72 X 24 per hari dari tv CONTENT PROVIDER yang butuh acara untuk mereka tayangkan, bisa ambil satu jam saja tiap hari sudah sangat baik. Semua hal mungkin bisa kita kemas menjadi acara yang baik asal bisa mengemasnya dengan menarik.

Inilah peluang nyata bagi orang-orang kreatif untuk segera mulai berpikir dan berkarya, sehingga nantinya saat tv digital teresterial benar-benar sudah digelar, tinggal menawarkan program acara yang sudah dibuatnya, juga membikin acara baru yang dipesan oleh pihak tv CONTENT PROVIDER.

Semangat!

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.958 pengikut lainnya.