pengalaman riding dengan Pulsar UG4 “black coyote”

Saya bukan expert di bidang roda dua, jadi nulis pengalaman naik Pulsar UG4 ini sepengetahuan saya saja, tentu saja saya compare dengan tunggangan saya yang terdahulu, yaitu si Rizma 125. Memang beda kelas beda kelamin, tapi kenyataannya itulah dua kendaraan yang telah saya kendarai.

Sebelumnya saya paparkan riding saya sehari-hari, yaitu yang utama adalah untuk ke tempat kerja yang naik gunung dan berkelok menanjak berjarak 40KM sekali jalan atau 80 KM kalau pulang pergi. Keperluan kedua adalah mengantar dan menjemput anak saya ke sekolah. Keperluan ketiga adalah membawa semua anggota keluarga dalam satu motor.

Saya mulai dari si Rizma, yaitu motor Honda Karisma 125 CC, motor ini punya kelebihan body yang panjang, bagasi yang super besar, tapi punya kelemahan body-body plastiknya pada lepas atau pecah plastiknya di bagian sekrup sehingga body tidak kuat terpasang, bahkan bisa dikatakan body asal nempel, sehingga suaranya berisik saat melibas jalanan yang tidak rata.

Sejujurnya karisma ini enak untuk membawa saya, istri dan dua anak saya, memang sudah saya modif, yaitu di bagian depan saya beri semacam tempat duduk dan besi untuk menempatkan kaki, sehingga anak saya bisa duduk dengan nyaman, saya sendiri duduk normal di depan, dibelakang saya bisa memboncengkan satu anak saya, dan istri saya. Dibagian belakang jok, diatas pegangan saya beri busa, sehingga istri jika mentok sampai belakang tidak sakit duduknya, tenaga karisma yang 125 cc memang mumpuni untuk mengangkut 4 orang sekaligus, 2 dewasa dan 2 anak-anak. Kelebihan dari karisma adalah bagasinya yang luas, kalau tidak salah muat 5 liter, paling tidak mantrol hujan, jaket, bahkan sepatu, dll bisa masuk dengan aman. Kelemahan terbesar karisma adalah saat untuk perjalanan jauh, memang hasilnya pinggang pegal-pegal, mungkin ini bukan hanya karisma, tapi mayoritas semua motor underbone. Enaknya motor bebek adalah bisa ditambah pegangan di sayapnya untuk mencantelkan barang bawaan seperti tak kresek belanjaan dll.

Sekarang giliran Pulsar Ug4. Saya baru memakainya 3 hari mulai tanggal 28 Januari 2010, sehingga wajar bila belum bisa menilai secar lebih lengkap.

Berikut perbandingannya :

1. Ternyata walaupun motor laki gagah dan besar, tapi tidak nyaman jika untuk membawa 4 orang sekaligus, ini karena posisi tangki yang tidak bisa dinaiki, bisa sih tapi eman-eman. (- untuk pulsar)

2. Cantelan untuk bawa-bawa sesuatu di motor laki ternyata tidak ada, dan rasanya memang tidak pantas, tapi kalau pas bawa belanjaan atau lainnya jadi susah tidak ada tenpat untuk mencantelkan. Anak saya selalu saya pakaikan helem, nah saat pakai karisma tinggal cantelkan saja saat saya bawa pulang atau saat menjemputnya, beda saat saya antar pakai pulsar, karena tidak ada cantelan dan belum bisa beli box belakang, maka saya terpaksa bawa tas punggung yang khusus  hanya untuk membawa helem anak-anak saya, susah ya (- untuk pulsar)

3. Bagasi. Yah motor laki tidak ada bagasinya, sehingga untuk membawa mantrol hujan saja susah. Biasanya kalau saya ngantor, saya bawa bekal makanan ini itu, tinggal masukkan ke bagasi karisma, kalau pulsar memang tidak ada bagasi, harus beli box sendiri (- untuk pulsar)

4. Goncangan saat mengendarai karisma memang lama-lama membuat punggung dan pinggang sakit, terutama saat perjalanan jauh ke tempat kerja, biasanya saat sampai rumah, pasti pinggang saya sakit. Nah saat kemarin pake pulsar pertama kali ke tempat kerja, pulangnya pinggang nyaman-nyaman saja, tapi gantian leher agak sakit, ini karena belum biasa saja dengan posisi riding pulsar yang agak menunduk. Biasanya saat pakai karisma, saya harus pilih-pilih jalan yang paling halus, nah sekarang saat pakai pulsar, ibaratnya semua jalan sikat saja, bahkan hambatan gelombang yang ada di perlintasan KA saja nyaman dilewati (+ untuk pulsar)

5. Kapasitas tangki pulsar yang sangat besar, yaitu 18 liter, lipat empat kalinya karisma, sehingga tidak perlu sering-sering isi bensin, biasanya saat pakai karisma, saya minimal 2 hari sekali ngisi Rp. 10.000,- ini standarnya sudha dipakai untuk ke kantor PP, dan bonus anter jemput anak. (+ untuk pulsar).

6. Konsumsi BBM, saya memang belum mengukur untuk pulsar, tapi berdasar yang saya baca ada di kisaran 45-50 km/liter, karisma saya rasanya juga hanya dikisaran angka tersebut. (point ini imbang)

7. Komunitas/klub. Nah ini yang saya suka dari pulsar, komunitasnya saya anggap solid sekali, bahkan di jalan jika papasan antar pulsar dapat dipastikan saling toet-toet dengan klakson. Wajar memang untuk komunitas yang minoritas, jadi punya rasa senasib yang kuat. Klub karisma di jogja ada gak ya? kayaknya tidak ada. Kalo klub pulsar jelas ada, dan saya memang berniat bergabung di klub. Saat saya menulis ini, klub pulsar jogja sedang touring ke Baturaden untuk mengangkat anggota baru, kemarin saya diajak Bro Giring, ketua PRA Jogja, tapi pulsar saya masih baru, belum ada STNKnya, dan lagi pula saya tidak bisa cuti mendadak untuk ikutan touring. (+ untuk pulsar)

8. Tinggi motor, sebenarnya karisma dalam kelas bebek juga termasuk tinggi, sehingga untuk kaum wanita yang tingginya kurang, harus jinjit untuk membawa karisma. Nah kalo pulsar, bukan tinggi lagi, tapi tinggi sekali, saya yang tingginya 175 cc saja, pas-pasan banget saat harus berhenti dan menjaga agar pulsar tidak jatuh. Tapi menurut saya mah si pulsar pas untuk orang setinggi saya, dan sungguh tidak rekomended jika kurang dari 170 cm tingginya. Karena si pulsar ini beratnya minta ampun, walaupun saya sekarang sudah terbiasa dengan berat si pulsar. (selera)

Ok begitulah yang saya rasakan yang bisa saya nilai dan perbandingkan.

Intinya saya beli pulsar memang kegunaan utama untuk transportasi ke tempat kerja yang jauh dan naik gunung, sehingga saya memerlukan motor yang nyaman, kuat, dan bertenaga. Saya tidak terlalu suka ngebut. Jadi faktor ini saya abaikan, walaupun mungkin kalau mau si pulsar bisa untuk ngebut juga.

Nanti akan saya tambah jika saya sudah memakai pulsar lebih lama :-)

UPDATE 03 februari 2010

Sengaja istri saya tidak saya tanya enak gak bonceng pulsar, dan kemarin dia bilang sendiri ‘PENAK TENAN MAS MBONCENG PULSAR, WETENGKU ORA BONGKO” artinya naik pulsar nyaman dan enak, perut tidak sakit.

Karena dulu saat bonceng karisma pasti saat terguncang-guncang jalan yang tidak mulus membuat perut jadi sakit.

Tentang iklan-iklan ini

wellcome BLACK COYOTE

Alhamdulillah. Tanggal 28 Januari 2010 akhirnya saya kesampaian juga memiliki BAJAJ PULSAR DTSi 180 cc UpGrade 4, Pulsar ini merupakan penyempurnaan yang keempat dari seri pulsar 180 cc edisi pertama. Pulsar UG4 ini  body dan sasisnya sama persis dengan Pulsar 200 cc, yang berbeda hanya mesinya memakai 180 cc meskipun sudah disempurnakan tanpa kick starter, dan tenaganya juga didongkrak menjadi kisaran 17,2 HP dari awalnya yang 16,5 HP. Yang paling bagus adalah fork depannya sudah menggunakan 37mm yaitu milik pulsar 220, diameternya sama persis dengan punya Ninja 250 cc, sehingga kalau mau modifikasi di sektor setang bisa mengadopsi variasi aftermarket punya Ninja250r.

my dream bike, pulsar 200 CC

Di Dealer Bajaj Jalan Magelang 133, pulsar siap diantar.

Suasana dealer Bajaj Jogja

Pulsar ini saya namakan dengan “BLACK COYOTE” atau serigala hitam, coyote dalam buku “winnetou ketua suku apache” adalah serigala, tapi sebenarnya kata coyote diperuntukkan untuk memperolok lawan, mungkin sama dengan “chicken” di amerika sekarang yang artinya penakut, atau DOG kalau di jogja, jika orang indian dimaki dengan kata coyote, berarti direndahkan sekali, dan nyawa taruhannya. Tapi tidak mengapa saya hanya mengambil sebutan lain dari serigala dalam bahasa indian. Yach lumayan deket, si pulsar UG4 dari “INDIA”, dan saya beri nama “INDIAN”  ha ha ga ra ono hubungane blas. Jadi black coyote adalah SERIGALA HITAM, sesuai warna pulsar saya.

===============================================================================

Saya ambilkan dari WIKIPEDIA.ORG

The coyote (pronounced /ˈkaɪ.oʊt(i)/)[3] (Canis latrans), also known as the American jackal or the prairie wolf,[4] is a species of canid found throughout North and Central America, ranging from Panama in the south, north through Mexico, the United States and Canada. It occurs as far north as Alaska and all but the northernmost portions of Canada.[5] There are currently 19 recognized subspecies, with 16 in Canada, Mexico and the United States, and 3 in Central America.[6] Unlike its cousin the Gray Wolf, which is Eurasian in origin, the coyote evolved in North America during the Pleistocene epoch 1.810 million years ago[7] alongside the Dire Wolf.[8] Unlike the wolf, the coyote’s range has expanded in the wake of human civilization, and coyotes readily reproduce in metropolitan areas.[9] It is thought by certain experts that the coyote’s North American origin may account for its greater adaptability than the wolf, due to North America’s greater prehistoric predation pressures.[8]

COYOTE (dibaca :kaiot)

================================================================================

Motor tiba dirumah

Persiapan diturunkan, perlu 4 orang untuk menurunkannya dari mobil

BLACK COYOTE : serigala hitam

siap tempur

Terus mengapa saya pilih Pulsar 180 DTSi UG4? ceritanya semenjak pulsar hadir di jogja, maka saya sudah mencoba test drive. Saat 180 hadir, saya test drive di Dealernya, trus saat yang 200 hadir, saya test drive di pelataran bekas hotel Ambarukmo. Dan sebenarnya dari semula saya memang kesengsem sama pulsar ini, tetapi apa mau dikata, mau beli anggaran belum memungkinkan. Dan akhirnya saat kesempatan memiliki pulsar ada, ketika ini pula Pulsar 180 DTSi UG4 hadir, yach ini sesuai banget dengan keinginanku, saya pinginnya Pulsar yang ganteng seperti yang 200 cc, tapi lebih irit dan ini semua ada di Pulsar UG4, malah front fork nya paling besar diantara semua pulsar yang telah hadir. ditambah setang jepit yang membuat posisi riding jadi agak menunduk, jadi pingin ngebut saja :-)

Langsung pasang nopol sementara

Mungkin jawaban paling enak adalah, saya pilih pulsar UG4 ini karena saya SUKA dan SENENG. TITIK.

Saya buka speedfreak, jadi dengan pulsar ini saya bisa mantaf saja saat riding, bisa diandalkan untuk naik ke GunungKidul, bisa yakin kalau mau menyalip bis Djangkar Bumi dan Lombok Rawit.

Pulsar 180 DTSi UG4 ini adalah, hemarnya BBM khas mesin 180 cc, gagahnya tampilan sasis dan body milik Pulsar 200, kokohnya frontfork milik Pulsar 220 berikut setang jepitnya. Ban tubeless yang lebih besar dari UG3. Jadi dengan harga 18,5 juta di Jogja, rasanya layak sekali.

Untuk pengalaman riding dengan pulsar akan saya tulis tersendiri.

LOGBOOK BLACK COYOTE

28 Januari 2010 jam 14:39 pulsar tiba dirumah diantar dari dealer, KMnya sudah pada angka 4, dan tadi di dealer diisi kisaran 1 liter bengsin.

28 Januari 2010 jam 16:00 Saya isi premium untuk pertama kali sebanyak 17,3 liter atau Rp. 80.000,-

Sesaat setelah isi bensin 80ribu (17,3 liter) Full tank.

28 Januari 2010 jam 19:30 Syukuran dengan teman-teman di Bakmi Krajan ( Joko, Dani dan Ardani)

29 Januari 2010 Pertama kali dibawa naik ke kantor di Patuk GunungKidul.

gagah dengan background tower pemancar

hari pertama dibawa kerja, dan ini siap diajak pulang.

29 Januari 2010, jam 19:00  saya bawa ke rumah bro GIRING ketua PRA Jogja untuk beli dan pasang Engine Guard, dan untuk UG4 ini karena sasisnya memang dari Pulsar 200, maka engine guardnya yang cocok dengan milik Pulsar 200 cc. Bro Giring saja malah baru tahu setalah saya beli dan pasang di UG4 saya ini :-).

Engine Guard made in bro Giring sudah terpasang

Engine Guard dari dilihat dari sudut lain

30 Januari 2010 Beli chain spray merk DID untuk perawatan rantai BC.

Sore pulang dari kantor kehujanan, saya cek di tutup tanki bensin pulsar ada airnya, ah lupa difoto, tapi airnya memang tidak masuk ke tangki, hanya di bibir tutup yang dalam. entah apa tidak ada mekanisme lobang pembuangan air jika tutup itu kemasukan air.

Ada kejadian aneh, sekitar 4 kali, yaitu saat pulsar saya masukkan gigi 5, tiba-tiba saja langsung drop tenaganya, saya tidak tahu apa penyebabnya.

Hari ini sudah mencapai 260 KM.

31 Januari 2010, beli olie Pertamina Racing Enduro yang 20-50w, dua botol sekaligus, sebuah harganya 29ribu, olie sengaja saya ganti biar gram-gram hasil gesekan antar logam mesin bisa hilang, sehingga mesin tidak kasar dan aus.

Pergantian olie pertama di 305 KM

01 Februari 2010

Pagi ini naik gunung dengan olie yang baru, dan mesin terasa lebih halus.

Koleksi Mukena “SalwaModa”

Ini adalah sambungan dari tulisan saya yang pertama. Jadi biar tidak terlalu berat diakses, saya buat terpisah.

Mukena 1

Mukena 1 dengan kantong tempat membawanya setelah dilipat kecil.

Mukena 2

Mukena 3

Mukena 4

Mukena 4 lebih dekat

DURIAN MERAH katanya bisa untuk menyuburkan pasutri

Ceritanya tadi sore saya naik ke Patuk Gunung Kidul nengok OB kantor yang sedang sakit DB, karena kemarin saat di rumah sakit, belum sempat nengok. Trus pulangnya mampir beli durian di warung pinggir jalan yang biasa menjual durian dari pohon durian penduduk disekitar daerah Patuk GunungKidul. Tepatnya di Dusun Sumbertetes, Desa Patuk, Kecamatan Patuk, Kabupaten GunungKidul.

Warung Durian di Dusun Sumbertetes, Patuk, GunungKidul

nampang di lapak durian

Yang kayak gini 38ribu

Pagi hari persiapan pajang duren di lapak jam 08:15 wib 25012010

Karena sudah hampir magrib, hanya tinggal beberap durian saja yang tersisa, dan saya memilih durian kecil dua biji seharga Rp. 25ribu ripuah. Sambil basa-basi ini itu, si penjual cerita bahwa dia memiliki pohon DURIAN MERAH dibelakang rumahnya, pohon durian ini katanya bunganya berwarna merah, dan isinya juga berwarna merah. Yang membuat saya agak heran, katanya kalau pasangn suami istri yang sudha lama menikan tapi belum juga punya anak, maka dengan makan durian ini Insya Allah akan diberikan kemudahan untuk mempunyai keturungan, kalau saya ya berpikir logis saja, mungkin durian ini ada kandungan-kandungan zat tertentu yang memang baik bagi pasangan suami istri.

DURIAN MERAH yang masih nempel di dahan

bentuk DURIAN MERAH, bulat enggak, lonjong enggak, gak beraturan!

Durian merah ini selalu ada yang indent, sehingga tidak sempat ikut dijual di depan rumahnya, karena penasaran, maka saya minta untuk diantarkan melihat pohon durian ini, dan karena waktu sudah hampir maghrib maka saya tidak bisa memotret pohonnya secara utuh, hanya saya potret buah duriannya dari dekat, ini memang karena pohonnya hanya sekitar 4 meteran, dan  buahnya ada yang di ketinggian sekitar 1,5 meteran, sehingga saya bisa memotretnya dari dekat.

Pemilik warung ini adalah warung yang saya ceritakan di sini.

good bye Rizma

Tepat lima tahun satu bulan saya mempunyai Si Rizma yaitu motor Honda Karisma 125D, dan hari ini saya harus merelakan kepergian rizma untuk nantinya digantikan dengan Bajaj Pulsar UG4. Sudah banyak kenangan bersama si Rizma ini, yang paling berkesan mungkin adalah bahwa rizma mampu membawa kami sekeluarga sebanyak 4 orang kesana kemari.

Serah terima si Rizma

Rizma saya tidak saya berikan pada sembarang orang, tapi pada sahabat saya, biar nanti saya masih bisa melihat-lihat kalau pas kangen sama rizma :)

Servis terakhir si Rizma

Sebelum saya lepas, si rizma saya servis dan saya ganti olie, karena ini memang rutin saya lakukan tiap 2000km. Rizma baru saja ganti plat nomer karena sudah lima tahun, sehingga nomernya/pajaknya masih panjang.

capaian kilometer saat servis terakhir

Sebagai pengganti si Risma ini, sudah saya mantabkan hati saya untuk meminang Bajaj Pulsar 180 UG4, kenapa saya memilih motor ini, simple saja, “SAYA SUKA”

Siangnya saya langsung main-main ke BSA Jalan Magelang No 133 untuk meminang UG4, kata salesnya motor-motor ini baru datang kemarin malam (sabtu malam minggu tanggal 23 Januari 2010), Kalau diperhatikan memang motornya masih kotor-kotor semua, belum sempat dibersihkan oleh office boy kantor bajaj, bahkan plastik pembungkus spion dan windshield masih ada, di windshield itu ada stiker OK tertanggal 31 Desember 2009. Sayangnya saya lupa memotretnya dari dekat.

Pulsar 180 dtsi UG4 :)

Akhirnya saya pilih motor yang ini, nomer mesin dan nomer rangkanya sudah saya potret, jadi kalau besok saat dikirim beda bisa komplain.

Akhirnya pilih yang ini, spionnya masih dibungkus plastik :)

Akhirnya selamat jalan Rizma dan selamat datang Bajaj Pulsar UpGrade 4.

Untuk Tongsam, Kilaubiru dan lilypud, tunggu undangan testdrive dariku :)

Untuk mas Taufik, segera agendakan touring ke Pacitan :)

Saya pingin nantinya Pulsar saya diberi box seperti Givi atau Kappa, tapi box nya bukan yang seperti foto dibawah ini lho

Side Box jumbo versi jowo 212, bisa untuk muat sapi kiri kanan :)

Minggu Pon di Pasar Godean

Tadi pagi tidak sengaja saya sepulang kerja melewati pasar Godean, Masya Allah lha kok macet, ada apa gerangan? setelah saya pikir-pikir, oh pantas ini kan hari Pasaran Pasar Godean, yaitu PON, dan kebetulan pas hari Minggu, lengkapnya adalah MINGGU PON, mungkin banyak orang libur, sehingga mempunyai kesempatan untuk pergi ke Pasar Godean.

Yang belum paham Pasaran dalam budaya Jawa, silahkan lihat Kalender yang ada pasarannya, yaitu, PON, WAGE, KLIWON, LEGI, PAHING lalu berulang lagi ke PON dst. Jadi hari pasaran di pasar-pasar tradisional di Jawa Tengah / DIY biasanya seperti itu, bisa PON, atau WAGE, atau KLIWON, atau LEGI, atau PAHING. Kebetulan untuk Pasar Godean Hari Pasaran yang paling besar adalah saat PON. Dihari pasaran ini hampir semua pedagang menggelar dagangannya, misal pedangang Burung, Ayam, Sandal, Tikar, Anyaman bambu, dll. Kalau hari biasa hanya pedagang biasa saja yang menggelar dagangannya.

Berikut ini saya gelar foto-foto saat saya terjebak macet, dan foto lainnya tentang pasar Godean. Selamat menikmati.

Arah ke barat, kiri jalan, utara Lapangan Godean.

masih lokasi yang sama

Lokasi sama, tapi kanan jalan

Lokasi sama, kanan jalan (utara jalan), Parkiran motor FULL

Lokasi sama

Yang jualan bunga juga ada (kiri jalan / Selatan jalan)

Gelombang Cinta yang dulu harganya selangit juga ada

Aneka pohon Puring juga ada

Parkiran selatan jalan juga FULL, depan toko kain

Kumpulan makluk berburung, gemar burung, dan kandang burung

Sama diatas, lokasi di utara jalan

Bibit Pohon Jati, lokasi dekat Pegadaian, selatan jalan

Bibit Durian, Jeruk dan Mangga juga ada

Pedagang Srandal di depan Pegadaian Godean

Penjual pisau di depan Pegadaian Godean

Pande Besi, tampat orang repair Cangkul, Pisau. Depan Pegadaian

Ini adalah profesi “TEPI JAMAN” meminjam istilah dari salah satu acara di tvOne. Lihat saja semua masih asli tradisional, biasanya para petani mengupgrade pisau, arit gober, arit gedhe, pacul dan lainnya di tukang PANDE BESI ini agar alatnya kembali tajam. Yang seperti tabung besar itu adalah pompa udata manual digerakkan dengan tangan, fungsinya untuk menipu bara arang kayu agar panasnya bisa memanaskan besi.

Anak ayam warna-warni menggoda selera anak-anak.

Arah selatan di perempatan Godean yang timur dekat Pegadaian.

Burung Dara, banyak diperjual elikan di pasar Godean

Burung Merpati adalah khas diperjual belikan di pasar Godean sejak saya kecil dulu, dulu saya pernah juga kena demam memelihar burung merpati. Aneka “sawangan” yaitu semacam sempritan yang bisa dipasang di ekor burung merpati juga dijual disini. Sayang saya belum bisa motret.

macetnya dah kayak Jakarta saja

Kripik belut / belut goreng, yang tidak terlupakan.

Ingat Pasar Godean, tentu ingat belut goreng, atau kripik belut, sekilo harganya kisaran Rp. 60ribu rupiah.

wah kok macet ya

Wajah-wajah ceria dan optimis yang mau ber minggunan pon di pasar godean :)

Depan TOKO DSM yang melegenda

Seingat saya Godean dulu identik dengan toko DSM dan toko sepatu Galaxy, baru sekarang ini banyak toko-toko baru bermunculan, tapi kedua toko tersebut masih bertahan sampai sekarang. Itu dari saya kecil kisaran tahun 1980an sudah ada.

Bangjo prapatan pasar Godean dari timur ke barat

Pas diperempatan bangjo, arah utara, tampak Bank BRI kulon pasar

Anda pasti pangling pada pojok utara ada bagunan baru di selatan bank BRI. Dulu disitu ada tukang ketik manual yang bersebelahan dengan toko onderdil motor. Toko onderdilnya pindah ke barat.

Sekarang belok kiri ke arah Pedes Argomulyo Sedayu Bantul.

Dijual KEPANG di depan SD Godean 1

Kepang adalah anyaman bambu yang diraut tipis, sehingga bisa fleksibel dan bisa digulung, kepang biasanya oleh orang Jogja untuk alas menjemur padi, ada pula yang untuk membuat dinding rumah atau plafon rumah. Biasanya pembuat kepang ini adalah orang-orang daerah Seyegan.

Dijual GEDHEK dan KURSI BAMBU, masih di depan SD Godean 1

Berbeda dengan KEPANG, GEDHEK adalah anyaman bambu yang lebih tebal, sehingga biasanya untuk dipakai sebagai dinding rumah lebih kokoh, dulu saat gempa jogja, Gedhek ini begitu laku untuk membuat rumah sederhana.

Pasar Godean dilihat dari atas, foto diambil di toko Purnama

parkiran di depan Toko Purnama Utara Pasar Godean

Panen nih tukang parkirnya kalo setiap hari seperti ini.

Pasar Godean sebelah Utara, sentra sayur mayur dan buah-buahan

Di utara pasar Godean adalah tempat penjual sayur mayur dan buah-buahan, disini harganya relatif murah. Hanya sayang sekali sekarang aspalnya rusak, jika pas musim hujan menjadi becek.

Fresh dan murah meriah

Fresh dan murah meriah

Soto Pak Dullah adalah soto daging sapi yang paling enak di pasar Godean (ini pendapat saya pribadi), warung soto ini ada di sebelah timur pasar Godean, tepatnya di perempatan yang dekat Pegadaian lalu menuju utara, timur jalan. Warung ini laris manis, harga per mangkok adalah Rp. 5.000,- wedang Rp. 1.500,- dan Parkir Rp. 1000,- :( (larang parkire). Tapi masih enak soto lamongan di utara terminal lama Umbulharjo, dan paling enak ya soto pak Halim di Sekarsuli jalan Wonosari :)

Soto pak Dullah, wetan pasar Godean

Demikian hasil saya terjebak macet saat Minggunan Pon di pasar Godean, ditambah ini itu hasil jepretan saya yang dulu-dulu, sesungguhnya masih banyak yang bisa dijepret dan ditampilkan, tapi saya hampir tidak pernah lagi PON PONAN di pasar Godean sejak 2001 saat saya mencari jago untuk bombongan pernikahan saya :)

Semoga foto-foto ini bisa menambah kangen anda-anda yang ada di rantau yang pernah punya memory dengan pasar Godean. Mungkin 5 atau 10 tahun yang akan datang seperti apa wajah pasar Godean? Paling tidak blog saya ini mengabadikan wajah pasar Godean saat ini. Pasar Godean memang gak ada matinya.

Pasang telepon kabel Telkom? pikir-pikir dulu ah….

Di dusun ku telah kelar digelar jaringan kabel milik telkom dan sejak dua hari yang lalu telah resmi dipasarkan, saya baca spanduknya untuk pasang hanya Rp. 225.000,- sudah kring dapat pesawat. Tapi tunggu dulu, iklannya tidak lengkap menurutku, lhah biaya abonemennya berapa? Setahu saya sih Rp. 30.000,- per bulan, dipakai nggak dipakai kena segitu.

Iklan telepon kabel telkom di Dusunku

Sekarang ini hampir tiap orang di dusun ku sudah pegang HP dengan kartu yang bermacam-macam sesuai kesukaan masing-masing, mungkin hanya-orang-orang yang sudah tua saja yang tidak punya HP, jadi kenapa harus punya telepon kabel di rumah? kalau rumah pas kosong, ada yang telepon, kan juga jadi tidak efektif, nanti malah hanya jadi telepon nganggur.

Sekarang bandingkan dengan produk telkom yang wireless, yaitu flexi. Kita bisa beli handphone flexi hanya Rp. 200.000,- trus untuk yang prabayar cukup isi Rp.10.000,- bisa aktif dan dipakai selama 15 hari, jadi untuk 30 hari hanya perlu ngisi Rp. 20.000,- yang harganya paling Rp. 22.000,- di konter-konter isi ulang HP.

Mungkin nanti jika ada tawaran Speedy yang murah plus TV kabel murah, baru punya nilai lebih tuh telkom kabel di desaku. Misal paling mahal Rp. 100.000,- perbulan sudah bisa telepon, bisa speddy unlimited (yang dilimit kecepatannya gak masalah), trus ada TV kabel, itu baru mak nyus.

OK untuk telkom kabel di desaku, jangan terlalu berharap pada mau pasang, jika tanpa kelebihan-kelebihan tersebut diatas. Berbeda jika itu tahun 1999 telkom menggelar kabelnya, tentu pada berebut pasang walaupun mungkin 1 juta sekalipun biayanya. Saat itu GSM masih awal-awal ekspansi, orang dulu tahunya masih telkom, belum tahu mentari, simpati dlll.

OK kita tunggu saja perkembangan dari tawaran nilai lebih dari telkom kabel.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.461 pengikut lainnya.